Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jessica Sakit?!!


__ADS_3

  Karna tinggal 2 jam lagi jam 5 pagi. Jadi gue memutuskan untuk beristirahat di kamar gue.


  Sedangkan Jessica? ia beristirahat di kamarnya yang ada disebelah gue, karna kamarnya sudah selesai di rapikan dan diisi sesuai kebutuhan para wanita.


  Tapi anehnya, saat gue lagi berusaha untuk memejamkan mata. Gue gak sengaja denger suara tangisan cewek di dekat gue.


  Padahal ruang para wanita di sekap ada di lantai bawah, bukan di lantai satu.


  Gue yang merasa terganggu, langsung berteriak memanggil Jordan.


  "Ada apa, Tuan?" sahut Jordan setelah masuk kedalam ruangan gue.


  "Apa kamu mendengar suara tangisan?" tanya gue.


  "Ya, Tuan. Saya mendengarnya dengan jelas." jawabnya.


  "Siapa yang menangis?"


  "Saya pikir, itu adalah Nona Carmelia."


  "Hah? kamu sedang bercanda? buat para gadis itu menangis?"


  "Saya tidak bercanda, Tuan. Para penjaga yang menjaga di depan kamar Nona Carmelia, juga mendengar suara tangisan itu."


  "Hah...cepat periksa gadis itu, dan beritahu aku keadaannya!!" perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya lalu keluar dari kamar gue.


  Gue sontak bangun dari posisi tidur gue, lalu langsung meraih ponsel gue yang ada di atas meja di samping ranjang gue.


  "Loh? hari ini hari Minggu? kok gue baru sadar sih? berarti gue bisa pulang jam 6 aja lah." ucap gue lalu meletakkan ponsel gue kembali.


  Tapi tiba-tiba saja, Jordan yang biasanya mengetuk pintu gue terlebih dulu sebelum masuk. Tapi, sekarang Ia malah langsung menerobos masuk dengan ekspresi panik.


  "Sudah berapa kali ku bilang, ketuk pintu dulu, Jordan!!" geram Gue.


  "Maaf, Tuan. Tapi ada hal penting." ucapnya.


  "Hal penting apa? jika itu bukan hal yang benar-benar penting, aku akan langsung membunuhmu." ancam gue.


  "Nona Carmelia demam tinggi, Tuan." jawabnya.


  "Apa?!!" teriak gue.


  Tanpa sadar, tubuh gue langsung bergerak turun dari ranjang dan berlari keluar kamar gue,  menuju kamar gadis itu.


  Saat melihat Jessica yang sedang terbaring lemas di ranjangnya, sambil meringkuk. Gue sontak berlari menghampirinya.


  Gue langsung duduk di sampingnya, dan menggoyangkan tubuhnya sambil memanggil namanya.

__ADS_1


  "Lu...ngapain? Gue...masih hidup, kali." ucapnya sambil menatap gue dengan mata sayunya.


  "Anjir!! lu malah becanda?!! lu kenapa bisa demam gini, bego!!" geram gue.


  "Gue gak demam, gue cuma lemes doang." bohongnya.


  "Gak usah bohong lu!!"


  "Gue gak bohong, lu kok malah marah-marah sih?" elaknya.


  "Diam lu!!" geram gue.


  "Jordan!!" teriak gue.


  "Ada apa, Tuan?" sahutnya.


  "Panggil dokter pribadi ku, bilang padanya, 5 menit sudah harus disini, cepat!!" perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya lalu pergi.


  "Lu gila, ya? masa panggil dokter 5 menit udah harus disini? lu pikir rumahnya di sebelah markas lu?" ocehnya.


  "Lu tuh ngoceh mulu!! sakit aja masih ngoceh, tuh mulut bisa diam gak?!!" geram gue.


  "Hah...iya, iya." jawabnya dan sontak memejamkan matanya.


  "Lu kenapa, woi?!!" teriak gue.


  "Oh...sorry, sorry." jawab gue.


  Jessica pun kembali memejamkan matanya. Awalnya gue mengira dia hanya memejamkan matanya saja, karna dia sendiri yang bilang seperti itu.


  5 menit kemudian, dokter pun datang. Gue langsung menyuruhnya untuk memeriksa gadis itu.


  Tapi tiba-tiba saja dokter bertanya. "Sejak kapan dia pingsan?"


  "Hah? pingsan? 5 menit tadi dia masih sadar, dia bilang dia hanya ingin memejamkan matanya saja." jawab gue.


  "Dia berbohong kepada anda, Tuan. Berarti ia telah pingsan 5 menit yang lalu." sambung sambil memeriksa gadis itu.


  *Dasar cewek gila!!* batin gue.


  "Apa saya boleh bertanya, Tuan?" sahut Dokter itu.


  "Apa?" tanya gue.


  "Apa anda membuat gadis ini ketakutan?" tanyanya.


  "Memang kenapa?"

__ADS_1


  "Dia sepertinya sangat ketakutan, sampai membuatnya terkena demam tinggi." jawabnya sambil berdiri di depan gue.


  "Apa jangan-jangan dia punya trauma kekerasan?" duga gue.


  "Saya tidak tau pasti tentang itu, Tuan. Tapi gadis itu sangat ketakutan, seperti akan di bunuh." sambungnya.


  "Hah...apa ada obat untuknya?" tanya gue.


  "Ada Tuan, saya akan memberikannya obat pereda demam, dan juga beberapa obat penenang. Jika gadis itu merasa ketakutan sampai membuat tubuhnya gemetar, suruh saja dia untuk meminum obat penenang itu. Itu akan mengurangi rasa takutnya." jelas dokter itu.


  "Baiklah, berikan obat itu kepada Jordan. Kamu boleh pergi, sekarang." jawab gue.


  "Baik, Tuan." balasnya sambil menunduk dan langsung pergi dari hadapan gue.


  "Jordan!!" panggil gue.


  "Ada apa, Tuan?" sahutnya.


  "Belikan makanan untuk gadis itu!sepertinya dia kelaparan." perintah gue.


  "Anda?"


  "Belikan juga untuk ku, kamu tau kan menu makanan ku."


  "Iya, Tuan."


  "Pergilah!" ucap gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya dan langsung keluar dari kamar ini.


  "Hah..." hela nafas gue dan sontak menarik kursi yang ada di depan meja rias, lalu meletakkannya di samping ranjang gadis itu.


  "Lu kok suka banget, bikin gue repot?Heran gue!" keluh gue sambil duduk di kursi itu.


  "Bisa-bisanya gue lari dari kamar gue, cuma buat nih cewek? gue gila, ya?" gumam gue sambil menatap gadis itu yang masih belum sadar.


  "Lu tau gak? gue ini juga capek banget, bego! gue ngantuk!! kemarin gara-gara lu, gue gak tidur. Sekarang? Gara-gara lu lagi, gue gak tidur lagi dan lagi!! lu itu masalah buat gue, atau gue yang masalah karna bawa lu kesini, sih?!" protes gue.


  Gue sontak terdiam, dan menatap gadis itu.


  "Bisa-bisanya gue ngomong sama orang yang pingsan, bego banget dah!" ucap gue sambil menepuk jidat gue sendiri.


  "Hedeh!! Nih kursi gak ada sandarannua lagi! Siapa sih yang beli?!!" protes gue lagi.


  Gue sontak menopang kepala gue dengan satu tangan di atas ranjang gadis itu, lalu memejamkan mata gue. Selagi menunggu Jordan kembali dengan membawa makanan, sekaligus obat dari dokter.


  Mungkin karna gue terlalu lelah di tambah gue butuh tidur, gue tanpa sadar tertidur dengan posisi kepala yang ada di atas tangan yang gue lipat di sebelah gadis itu.


  Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2