Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Hukuman Untuk Angel


__ADS_3

Disaat lagi asik bermain dengan mulut Jessica, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Jessica. Awalnya gue dan Jessica tidak memperdulikan ketukan itu, tapi semakin lama ketukan itu semakin keras dan ada seseorang yang memanggil nama gue.


Jessica tiba-tiba melepaskan ciuman kita dan mendorong gue pelan.


"Itu Jordan, siapa tau penting." ucapnya.


"Ais!! menggangu saja!" ketus gue lalu bangun dari posisi gue dan turun dari ranjang, lalu berjalan kearah pintu.


"Ada apa?" sahut gue sambil membuka pintu itu dan menatap Jordan.


"Tu-tuan, No-nona Angel menerobos masuk dan melakukan pemberontakan. Beberapa bawahan terluka karna wanita itu." jawabnya terbata-bata.


"Hah...sudah kuduga. Aku akan menemuinya, kamu berusahalah untuk menenangkannya." ucap gue.


"Baik, Tuan." jawabnya lalu pergi dari hadapan gue.


Gue pun berbalik dan melangkah kearah Jessica yang duduk di pinggir ranjang.


"Ada masalah apa?" tanyanya.


"Ada wanita gila yang menerobos masuk." jawab gue santa sambil berdiri di hadapannya.


"Hah? wanita gila? kok bisa?" tanyanya lagi dengan ekspresi kebingungan.


"Becanda, baby~ bukan wanita gila, Angel menerobos masuk dan melukai para bawahan gue." ucap gue sambil mengelus puncak kepalanya.


"Angel siapa?" sahutnya.


"Hm...adalah, intinya itu wanita yang harus lu jauhin. Dia tuh bahaya, psikopat gila. Kalau lu ketemu sama dia, langsung kabur aja. Gak usah di lawanin, lu bakal kalah sama dia." jelas gue.


"Hm...terus sekarang gimana" tanyanya.


"Gue bakal keluar, lu tunggu disini. Usahain jangan keluar, bahaya!"


"Oke, tapi jangan lama-lama."


"Siap, baby~"


"Cium boleh?" tanya gue.


"Kenapa izin Mulu, sih!? heran!" keluhnya.


"Gue izin tuh, artinya gue ngehargai lu. Dari pada gue asal nyosor? kan gue kelihatan kayak cowok mesum." ucap gue.


"Serah!" jawabnya dan sontak memegang kedua pipi gue, dan menarik guemendekati wajahnya lalu mengecup dahi gue.

__ADS_1


"Dah! sana!" usirnya.


"Hah...yaudah lah, dengerin ucapan gue ya~ jangan keluar, kalau bisa kunci aja pintu lu." sambung gue.


"Iya,iya! buruan sana!" ketusnya sambil mendorong gue.


"Tunggu gue, ya~ Babay, baby~" ucap gue lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu.


Gue melangkah menuruni anak tangga dengan santai tapi pasti. Saat dibawah, sudah ada beberapa bawahan gue yang berbaring di lantai dan ada yang sampai mengeluarkan senjata utama mereka. Melihat hal itu, gue hanya menghela nafas saja, lalu melangkah ke pusat lantai bawah untuk menemui Wanita itu.


"Tuan!?" teriak Jordan saat melihat gue.


*Pantas saja bawahan gue pada tumbang, tuh cewek malah pegang dua senjata.* batin gue saat melihat Angel yang memegang dua pistol di setiap tangannya.


"King~ biarkan aku menjadi pemimpin Wanita, hanya aku yang pantas dengan posisi itu. Aku yang mencintaimu, bukan wanita itu! Jangan membuang ku...buang saja wanita itu..." oceh Wanita itu sambil menatap gue dengan mata yang memerah seperti ingin menangis.


"Turunkan senjata mu!" perintah gue.


"Tapi—"


"Turunkan atau berlutut!" potong gue.


Angel pun melemparkan kedua senjatanya itu ke lantai, tapi tatapannya masih menatap gue dengan lekat.


"Aku sudah bilang, jangan muncul di hadapan ku! kenapa kamu malah menerobos masuk ke markas ku!!? kamu juga melukai para bawahan ku, apa kmu sedang menentang perkataan ku!!?" geram gue.


"Tubuh mu? untuk apa? aku tidak berminat dengan tubuh mu itu, dan lagi aku hanya ingin wanita itu. Bukan malah kamu, wanita yang hanya menginginkan posisi saja." balas gue.


"Tidak akan ku biarkan wanita manapun bersama dengan king ku!!" teriaknya.


"Hah...berhenti memanggilku dengan nama itu, menjijikan!" sahut gue, dan langsung melangkah mendekatinya.


"Akan lebih baik kalau kamu keluar dari markas ini sendiri, atau aku yang akan langsung mengusirmu dari sini." tawar gue.


"TIDAK!! TIDAK AKAN!!!" tolakny.


Angel tiba-tiba menarik kemeja depan gue dengan sangat kuat lalu berkata. "Aku ingin disini, bersama mu...aku ingin kamu..."


"Marcel? kenapa lama banget?" sahut seseorang dari belakang gue.


Gue yang mendengar suara yang sangat familiar di telinga gue, gue sontak menepis tangan Angel lalu berbalik dan menatap Gadis itu.


"Lu kenapa kesini? cepat masuk!" ucap gue.


"Tadi ada Bryan nelpon gue." jawabnya.

__ADS_1


Mendengar jawabannya itu, gue langsung berlari menghampirinya.


"Bryan? dia bilang apa?" tanya gue.


"Dia ngajak gue ketemu di klub, dia bilang ada sesuatu yang mau dia kasih ke gue. kalau gue gak datang, orang tua gue bakal kena imbasnya." jelasnya.


"Hah...yasudah, nanti kita urus. Lu kembali ke kamar lu dulu, ya~" ucap gue sambil mengelus puncak kepalanya.


"Hm...oke." jawabnya lalu berbalik.


Tapi saat Jessica ingin melangkah pergi, tiba-tiba saja ada yang menarik rambut Jessica, sampai membuat gadis itu berteriak.


"Le-lepas...sa-sakit..." lirihnya.


"Kamu siapa!!? kenapa kamu mengambil king!!? mati saja kau!!" teriak Angel yang tambah menarik rambut Jessica.


Gue langsung memeluk Jessica dan berusaha untuk melepaskan rambutnya dari tangan Angel. Tapi, tangan Wanita itu sangat kuat.


"Jordan!! kenapa kamu diam saja!!?" teriak gue.


"Ma-maaf, Tuan." sahutnya dan langsung berlari kearah Angel.


"Nona, tolong lepas. Jangan membahayakan nyawa anda sendiri." ucap Jordan yang berusaha menarik Angel.


"Ja-jangan ditarik...itu sakit, Jordan..." sambung Jessica.


Karna muak dengan kelakuan Angel, gue akhirnya melepaskan pelukan gue dan sontak menampar Pipi Angel dengan sangat keras. Sangking kerasnya, suara tamparan itu bisa terdengar ke seluruh penjuru markas.


"Aku sudah bilang, jangan menyentuh wanita ini. Apa kamu gila!!?" geram gue.


Angel terdiam seperti batu dan tangannya mulai melepaskan rambut Jessica. Setelah Jessica bebas, gue langsung menariknya kembali ke pelukan gue.


"Aku sudah memberikan peringatan terakhir kepada keluarga mu, tapi kamu malah mengabaikan peringatan itu." sambung gue


"Angelia Marvelina Dermi, Aku Marcel Anggara satu-satunya pemimpin Mafia. Memilih untuk menghukum mu!" ucap gue serius.


"Karna kamu Putri dari keluarga yang memiliki hubungan pertemanan dengan kepala keluarga Anggara sebelumnya, aku hanya akan mengasingkan mu ke Negri yang sangat jauh dari sini. Kamu tidak akan kembali setelah aku memutuskan hukuman ini." lanjut gue.


"Tu-tuan...ta-tapi—"


"Ini keputusan ku, Jordan! Ini hukuman yang paling ringan untuknya karna telah berani melukai calon pemimpin Wanita." potong gue.


"Sekarang bawa di pergi! Dan beritahu Tuan Dermi tentang kejadian hari ini." perintah gue.


"Baik, Tuan." jawab Jordan sambil menunduk lalu membawa Jessica keluar dari markas ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2