
"Oh, shit! menggangu saja!" kesal gue dan langsung mengambil ponsel gue di saku jas tanpa menurunkan senjata.
"Loh? kenapa Hendra menelpon?" gumam gue lalu mengangkat telpon itu.
"Ada masalah apa?"
"Tu-tuan, Nona sudah sadar."
"Baguslah, tapi kenapa suara mu seperti sedang ketakutan?"
"No-nona memberontak, Tuan. Dia berteriak memanggil nama anda dan menyuruh kami untuk membawa anda ke hadapannya sekarang."
"Untuk apa dia bersikap seperti anak kecil!? memuakkan!!"
"Bilang kepadanya, aku akan segera kesana. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Ba-baik, Tuan."
Gue pun langsung mematikan telpon itu dan berbalik menghadap ke bokap Bryan.
"Maaf menunda kematian anda, Tuan." ucap gue kepada Pria itu dan langsung menembakkan peluru tepat di dada bagian kiri Pria itu.
"PAK!!!" teriak Bryan dari belakang gue.
"Oh...peluru beracun." gumam gue lalu berbalik menatap Bryan.
"Eh? ka-kamu nangis!?" sahut gue terkejut.
"Ke-kenapa anda membunuh Papa saya? Ba-bagaimana saya menjelaskan kepada Ibu saya nanti?" tanyanya sambil menangis.
"Haah...itu bukan urusan ku! siapa suruh menyentuh wanita ku!!" kesal gue.
"Lepaskan dia, Andre. kita harus kembali ke kastil." perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab Andre dan langsung melepaskan Bryan.
Bryan sontak berlari kearah Bokapnya sambil memanggil nama Pria itu dengan suara tangisan.
"Cih! drama yang memuakkan!" gerutu gue lalu melangkah pergi dari tempat itu dan kembali ke kastil.
Selama di perjalanan, gue membersihkan bagian tubuh gue yang terkena darah. Disaat seperti ini, ada gunanya juga gue selalu memakai pakaian warna hitam.
Bukan karna lambang Mafia berwarna hitam ataupun gelap, tapi untuk memudarkan warna darah yang menempel di pakaian gue.
Setelah sampai di kastil, gue pun keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju kamar Jessica.
__ADS_1
"Jordan." panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
"Bilang kepada pelayan untuk menyiapkan air untuk ku mandi dan juga 3 botol alkohol, antarakan ke kamar ku saja." perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan lalu pergi.
"Apa anda memerlukan teman minum, Tuan." sambung Andre.
"Kenapa? apa kamu ingin minum juga? bukannya malam ini kamu mengadakan pesta dengan yang lainnya?"
"Biarkan mereka berpesta sendiri, saya ingin menghabiskan sore hari ini dengan anda."
"Terserah saja." jawab gue, lalu melangkah masuk ke dalam kamar Jessica.
"Tuan!?" sahut Hendra dan Vernon bersama.
"Kenapa wajah kalian seperti itu? seperti habis menenangkan singa yang mengamuk." ucap gue sambil melangkah kearah mereka, yang berdiri di depan ranjang Jessica.
"Kami memang habis menenangkan singa betina." jawab Hendra.
"Sangat tidak lucu!"
"Padahal saya tidak melucu." gerutunya.
"Baru beberapa menit yang lalu setelah Hendra menyuntikkan obat tidur."
"Apa!!?" sahut gue terkejut.
"Saya hanya mencari aman saja, Tuan." jawab Hendra.
"Kamu benar-benar pintar Hendra. Aku sangat lelah untuk mendengarkan tangisanya."
"Te-terimakasih, Tuan. Saya pikir anda akan memarahi anda."
"Mana mungkin, aku malah berterimakasih kepadamu." ucap gue sambil menepuk pundaknya dan tersenyum manis.
"Yasudah, aku akan kekamar ku. Aroma darah ini membuat ku mual."
"Oh ya, jika gadis itu bangun. Suruh dia untuk menunggu di kamarnya saja, aku akan ke kamarnya nanti."
"Baik, Tuan."
Gue pun berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu menuju ke kamar gue bersama dengan Andre.
__ADS_1
***
Setelah merendam diri cukup lama di bak mandi, gue keluar dengan memakai baju handuk saja dan berjalan kearah Andre yang sudah menunggu mulai tadi.
"Apa kamu tidak membersihkan tubuh mu?" tanya gue sambil duduk di kursi yang ada di dekat jendela, dan berhadapan dengan Andre.
"Ini masih pukul 3 sore, Tuan. Dan lagi, tubuh saya tidak terkena darah, saya sempat menghindar sebelum kepala itu meledak."
"Terkadang kamu sangat tidak adil."
"Bukan tidak adil, saya hanya menyayangi pakaian saya saja."
"Terserah! cepat tuangkan untuk ku."
"Terkadang saya bingung harus bersikap seperti apa jika kita hanya berdua saja, disisi lain saya harus menghargai Anda sebagai pemimpin. Tapi disisi lainnya, saya memiliki peran sebagai wali anda dan saya lebih tua dari pada anda." ocehnya sambil menuangkan wine ke dua gelas yang berbeda dan memberikan satu gelas itu ke gue.
"Bersikaplah seperti biasa, saat tidak berdua saja kamu berani menyebut ku adikmu. Aku sampai terkejut saat kamu berkata seperti itu." ucap gue santai, lalu minum wine itu.
"Astaga!! a-ku baru ingat kejadian itu! ma-maafkan saya, Tuan."
"Sudah lah, untuk apa kamu minta maaf dengan adik mu ini?"
"Andaikan Tuan seorang wanita, mungkin yang akan aku nikahi adalah Tuan."
Mendengar ucapannya itu, gue yang lagi meneguk wine tiba-tiba tersedak dan membuat gue terbatuk-batuk.
"Tu-tuan? apa anda baik-baik saja?" khawatirnya.
"Apa kamu tidak normal, Andre!? aku jadi takut karna ucapanmu itu."
"Mana mungkin! saya masih normal, Tuan. Aku berkata "andaikan" bukan beneran akan menikahi anda. Da-dan lagi, jika anda seorang wanita. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu sampai sekarang."
"Ih~ aku jadi takut dekat dengan mu~"
"Tu-tuan...jangan berkata seperti itu, saya jadi sangat malu..."
"Hahaha...kamu benar-benar lucu." tawa gue.
"Tuan jahat..."
"Berhenti berbicara dengan nada seperti itu! kamu sudah seperti seorang wanita yang merajuk dengan pacarnya."
"Lebih baik aku diam saja..." lirihnya.
"Terserah!" jawab gue dan melanjutkan aktivitas gue.
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menerobos masuk ke dalam kamar gue. Gue dan Andre yang sedang meminum wine, sontak menengok kearah pintu dengan ujung gelas yang masih menempel di mulut.
BERSAMBUNG