
Gue yang baru bangun dari tidur, saat membuka mata gue di buat terkejut dengan keberadaan gue sekarang. Gue sontak bangun dari posisi tidur gue.
"Tuan?" sahut Jordan.
Gue yang mendengar itu, langsung menolah menatapnya dan bertanya. "Sejak kapan aku tidur disini?"
"Setengah jam yang lalu, Tuan. Anda juga sudah di periksa oleh Hendra." jawabnya.
"Lalu, bagaimana dengan hasilnya?" tanya gue sambil menurunkan kaki gue dari atas bangsal sampai menyentuh lantai.
"Ada seseorang yang memasukkan cairan lumpuh kedalam minuman anda, untuknya saja kita cepat sampai di rumah sakit. Jika tidak, saya tidak akan bisa membayangkannya lagi." jawabnya.
"Siapa yang memasukkan cairan itu? Saat minumanku datang, botol itu tertutup dengan sangat rapat dan tidak mungkin jika ada yang memasukkan sesuatu kedalam minumanku." sambung gue.
"Itu sedang dalam penyelidikan, Tuan. Mulai sekarang sebelum anda meminum atau memakan sesuatu, semuanya harus di cek lebih dulu." ucapnya.
"Dari awal kamu sudah melakukannya, Jordan. Terkadang aku harus menunggu mu untuk mengecek makananku aman atau tidak." keluh gue.
Tiba-tiba Jordan membungkuk degan sangat rata, lalu berkata. "Maaf, Tuan. Atas kelalaian saya anda hampir dalam masalah, setelah ini saya akan selalu berada disisi anda sampai saya mati. Saya juga akan menjaga keamanan anda dua kali lipat."
"Hah...sudah lah, itu bukan salah mu. Aku yang menyuruhmu untuk pergi dan meninggalkan ku tanpa pengawasan mu, jadi jangan menganggap dirimu salah." ucap gue.
"Sekarang tegakkan tubuh mu! aku ada sebuah perintah untuk mu." perintah gue.
Jordan pun menenggakan tubuhnya, dan menatap ku.
"Malam ini ajak Nona kalian untuk bersenang-senang, berikan apa pun yang dia inginkan. Jaga dia seperti kalian menjaga ku, biarkan dia membeli segalanya yang Ia inginkan. Aku akan beristirahat di Rumah sakit sampai pagi tiba." jelas gue.
"Tapi, Tuan. Saya tidak bisa meninggal anda lagi." sahutnya.
"Tenang saja, Disini ada Hendra yang siap mengomeli Ku 24 jam. Selama ada dia, keselamatan tubuhku akan terjaga dengan aman." ucap gue.
"Baiklah, Tuan. Perintah anda saya terima." jawabnya.
"Oh iya, jika Ia bertanya mengenai ku. Bilang saja kalau aku sudah kembali kerumah lebih dulu, dan mengizinkannya untuk bersenang-senang." sambung gue.
__ADS_1
"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk lalu berbalik dan pergi dari hadapan gue.
"Hm...sekarang apa yang harus gue lakuin? apa tidur? tapi hari ini gue sudah terlalu banyak tidur." gumam gue.
"Sudah lah, berkeliling adalah pilihan yang terbaik." ucap gue, dan langsung berdiri lalu melangkah keluar dari kamar dengan memakai sendal yang telah di siapkan di ruangan Pribadi gue.
Saat gue ingin melangkah pergi, tiba-tiba ada yang memanggil nama gue dari belakang, dan suara itu sangat familiar di Telinga gue.
Gue langsung berbalik dan menatap Pria itu lalu berkata. "Eh, Dokter. Kenapa, ya? mau checkup?"
"Anda ingin kemana, Tuan? Anda harus tetap di ruangan anda dan beristirahat." ucapnya.
"Ayolah...aku hanya ingin berkeliling saja, jangan melarang ku. Aku sangat bosan berada di ruangan itu, yang aku lihat hanya dinding berwarna putih." protes gue.
"Tapi, Tuan—"
"Aku bilang jangan melarang ku, Hendra!" potong gue.
"Dari pada kamu melarang ku, lebih baik kamu ikut dengan ku agar aku ada tempat untuk mengobrol." lanjut gue.
"Hah...baiklah, mari saya antar berkeliling rumah sakit ini." jawabnya.
"Oh ya, bagaimana dengan kabar para bawahan ku yang masih di sini?" tanya gue.
"Yang masih dalam perawatan masih ada 10 orang, Tuan. dan satu orang masih belum sadar sampai sekarang." jawabnya.
"Hah? siapa?" sahut gue.
"Dika, Tuan. Operasinya memang berhasil, tapi sampai sekarang dia belum sadarkan diri. Tapi kondisinya sudah mulai membaik sekarang, kita tinggal menunggu Ia sadar saja lalu melakukan pengecekan keseluruhan." jelasnya.
"Kamu benar-benar hebat, pantas saya rumah sakit mu menjadi nomor 1 di Negri ini." puji gue.
"Itu atas bantuan anda, Tuan. Jika tidak ada anda, mungkin rumah sakit ini hanya sebuah klinik kecil saja." ucapnya.
"Aku hanya menjalankan perintah yang diberikan Tuan Anggara sebelumnya, dia ingin kamu menjadi orang yang sangat sukses. Jadi aku membangun rumah sakit dan membiayai rumah sakit ini untuk mu, sisanya kamu yang melakukannya sendiri. Itu hasil dari kerja keras mu, Hendra." sambung gue.
__ADS_1
"Terima kasih atas pujian dan bantuan anda selama ini, Tuan.
"Terima kasih kembali, karna selalu bekerja dengan baik untuk ku dan para bawahan ku."
"Oh ya, aku dengar anak mu yang pertama akan kuliah kedokteran juga. Apa itu benar?"
"Iya, Tuan. Iya sangat tertarik dengan kedokteran, dan sekarang Ia sedang menunggu hasil dari tes masuknya kemarin, Tuan."
"Wah...aku sangat bangga dengan anak itu, padahal sebelumnya Ia sangat keras kepala kepada mu. dan selalu terdiam jika melihat ku."
"Dia sangat menghormati anda, Tuan. Dia hanya takut untuk berbicara dengan Anda."
"Apa wajah ku menyeramkan untuknya? padahal aku lebih muda darinya. Untung saja di seorang Pria, jika wanita mungkin dia tidak akan mau menampakkan dirinya di depan ku."
"Mana mungkin wajah setampan dan sesempurna ini disebut menyeramkan, malah lebih tepatnya dia iri dengan ketampanan anda."
"Hah...kamu selalu saja berkata seperti ini. Aku saja bingung, kenapa aku bisa terlahir seperti ini. Padahal orang tua ku saja tidak ada visual sama sekali, mereka terlihat sangat biasa."
"Tapi, Tuan. Saudara anda yang sedang dalam perawatan disini, Ia terlihat sama tampannya dengan anda."
"Oh...dia memang selalu mendapat pengakuan dari orang-orang mengenai wajahnya itu. Untungnya saja aku menyamar di depan orang-orang. Jika tidak, mungkin sekarang aku sudah mengalahkan ketampanan Pria yang dijuluki Pria tertampan di Dunia."
"Anda memang pantas mendapatkan julukan itu."
"Hah...sudah lah, berhenti memuji ku. Bisa-bisa wajah ku ini akan merah seperti tomat."
"Saya tidak memuji, Tuan. Saya hanya berkata faktanya saja."
"Ah...berhent! rasanya kepalaku akan meledak jika kau berkata seperti itu."
"Hahaha...baiklah, Tuan."
"Oh ya, aku penasaran dengan kabar keluarga ku. Apa mereka baik—"
Belum selesai gue berbicara, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depan gue sambil berkata. "Permisi."
__ADS_1
*Loh? Ibu?* batin gue yang terkejut saat melihatnya.
Bersambung