Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Sumpah Yang Diterima


__ADS_3

Setelah Jessica meminum alkohol itu sampai tak tersisa lagi di dalam gelas. gue langsung menyuruhnya untuk menurunkan kakinya kelantai, lalu gue berdiri tepat di hadapannya.


Gue langsung berlutut di hadapan Jessica sambil menundukkan kepala gue, dan berkata. "Saya berjanji akan memegang sumpah ini, jika saya melanggarnya. Saya akan membunuh diri saya sendiri dan membiarkan Anda sebagai pemimpin Wanita berkuasa seorang diri di Dunia Mafia ini."


"Nona, ambil botol alkohol itu dan tuangkan isinya di atas kepala Tuan. Itu sebagai tanda anda menyetujui sumpah yang Tuan lakukan kepada anda." sambung Jordan.


Gue gak tau, apa Jessica mengambil botol alkohol itu atau tidak. Karna gue yang masih menunduk di hadapannya, dan tidak bisa melirik sedikitpun kearahnya.


Tapi, tiba-tiba saja ada sesuatu yang membasahi kepala gue sampai mengenai tubuh gue yang lainnya. Setelah melihat air yang menetes dari rambut gue, gue sangat merasa lega karna Jessica menerima sumpah gue.


Karna kalau Jessica tidak menuangkan alkohol itu ke gue, pilihannya hanya dua. Gue harus mengulang kembali sumpah yang gue lakuin sampai Jessica menerimanya, walaupun tangan gue sampai terluka parah dan gue kehabisan darah. Dan pilihan kedua adalah, gue harus turun dari posisi gue dengan cara di bunuh oleh semua orang yang menyaksikan sumpah itu.


Gila? sangat gila, tapi itulah yang dilakukan Tuan Anggara saat ingin menikah dengan Istrinya. Walaupun itu tidak wajib di lakukan jika ingin menikah, tapi kalau Wanita yang akan di nikahi adalah wanita yang di cintai. Itu akan menjadi wajib untuk di lakukan.


Dan Arti menerima sumpah itu, berarti Jessica menerima gue sebagai pasangannya di masa depan dan dia juga menerima semua ancaman yang akan Ia dapatkan jika menjadi pemimpin Wanita.


Gue pun berdiri dan menatap wajah Jessica yang masih memegang botol alkohol itu. Gue langsung mengambil botol itu dari tangannya dan memecahkan botol itu ke lantai tepat di tengah-tengah kami.


"Kalian boleh keluar, begitupun Jordan." ucap gue.


"Baik, Tuan." jawab mereka sambil menunduk, lalu melangkah keluar dari ruangan gue.


Setelah semua bawahan gue keluar dan hanya tersisa gue dan Jessica di ruangan gue. Gue langsung mengangkat kedua kaki Jessica ke atas ranjang, lalu gue naik ke atas ranjang dan duduk tepat di depannya.


"Hei...masih marah?" tegur gue.


Jessica hanya mengganggu sebagai jawaban.


"Maaf ya...apa masih sakit? gue bawa obat, nih." ucap gue sambil memberikan kantong kertas yang berisi obat itu kepada Jessica.


"Di dalamnya ada salep buat lu pakai, terus ada obat pereda sakit buat lu minum. Salepnya di pakai setiap hari, karna itu sisi sensitif lu. Jadi, pakai sendiri aja. Kalau lu gak bisa pakai sendiri, biar gue panggilin suster dari rumah sakit." jelas gue.


"Gue bisa sendiri." jawabnya.


"Hm...oke." balas gue.


Tiba-tiba saja air mata Jessica menetes lagi. Sekali lagi gadis itu menangis di hadapan gue, gue yang terkejut langsung memegang kedua pipinya dan menatap wajahnya.


"Kenapa? apa masih sakit? maaf...gue salah, please...jangan nangis. cup cup cup...jangan nangis ya..." ucap gue sambil menyeka air matanya.


Jessica hanya menggelengkan kepalanya saja, dan memegang kedua tangan gue yang ada di pipinya.


"Kenapa? sakit banget, ya? kita kerumah sakit aja, yuk. biar gak sakit lagi. Biar aku ambilin baju dulu." sahut gue dan bersiap untuk turun dari ranjang.


Tapi, Jessica malah menahan gue dengan menarik tangan gue. Gue langsung menengok dan menatapnya kembali.

__ADS_1


"Jangan pergi..." lirihnya.


"Gue gak bakal pergi, tapi jangan menangis lagi. Mata lu udah bengkak karna nangis mulu." ucap gue.


Jessica mengangguk sebagai jawabanya, dan langsung menyeka air matanya sendiri. Ia yang menyeka air matanya layaknya seperti anak kecil, dan bibir yang cemberut. Itu membuat gue tidak tahan dengan keimutannya.


*Tahan! gak boleh cium dia sembarangan.* batin gue.


Tiba-tiba saja Jessica memegang tangan kanan gue, dan menetap goresan yang tadi gue buat.


"Kenapa lu harus ngelukain tangan lu sendiri?" sahutnya.


"Hah? oh...memang harus ngelukain tangan sendiri, biar darahnya netes langsung dari tubuh gue. Lagian ini gak sakit, kok." jawab gue.


"Lukanya dalam." ucapnya yang memegang luka gue.


"Oh ya? kayaknya tadi gue terlalu nekan pisaunya. Tapi gak papa kok, ini bukan apa-apa." sambung gue.


"Jordan!!" panggil Jessica.


"Loh? Kenapa? lu mau apa? biar gue yang ambilin." tanya gue.


"Lu diam aja!" perintah dan langsung membuat gue terdiam.


"Ambilkan obat luka dan juga perban, segera!" perintahnya.


"Baik, Nona." jawab Jordan sambil menunduk lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan gue.


"Lu mau apa? lukanya jangan di obati, biarin kering sendiri. Ini sebagai tanda kalau gue udah ngelakuin sumpah ke lu." sambung gue.


"Kenapa? ini perintah, ini harus di obati. Lu mau tangan punya bekas luka?" ucapnya yang tiba-tiba menarik lengan kemeja gue katas.


"Eh!?" sahut Jessica yang terkejut saat melihat lengan gue.


Gue baru sadar, kalau bekas jahitan di lengan kanan gue masih belum hilang. Gue langsung menurunkan lengan kemeja gue, dan menarik tangan gue kembali.


"Itu bekas jahitan, kan? kenapa bisa ada? kapan? kenapa lu gak bisa ke gue?" tanyanya.


"Bu-bukan, itu bukan bekas jahitan. I-itu cuma tato doang." elak gue.


"Bohong!! jawab jujur, ini perintah!!" sahutnya.


*Lah, Anjir! ini sih namanya memperbudak gue, parah banget sih nih cewek. Untung sayang, kalau kagak gue buang lu.* batin gue.


"Kenapa diam aja, jawab!!" tegurnya.

__ADS_1


"Iya, ini bekas jahitan. Waktu ada musuh di markas, tangan gue gak sengaja terkena pisau musuh. Untungnya saja bukan perut bagian kanan gue yang di tusuk, kalau gak mungkin gue udah mati kali sekarang. Mana tuh pisau ada racunnya lagi." jelas gue.


"Apa!!? kenapa lu gak bilang sama gue!!? jadi lu bohong sama gue soal lu pergi sama Jordan pas kita nginap di hotel? Lu bukan ngurus sesuatu, malah lu ke rumah sakit buat jahit tuh luka lu?" ocehnya.


"Iya, gue waktu itu bohong. Gue cuma gak mau buat lu khawatir aja." jawab gue.


"Hah...lu memang tukang bohong. Kali ini gue maafin, tapi lain kali jangan sampai lu bohong lagi ke gue. Awas aja nanti!" ancamnya.


"Iya,iya." jawab gue.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu gue, gue pun langsung menyauti ketukan itu.


"Ini, Nona. Saya sudah membawakan apa yang anda minta." ucap Jordan sambil melangkah kearah kami, lalu memberikan kotak P3k kepada Jessica.


"Oh ya ,Jordan. Ambilkan pakaian baru milik Carmelia, dan antarkan kesini." perintah gue.


"Baik, Tuan." jawab Jordan sambil menunduk lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan gue.


Jessica pun mulai mengobati luka yang telah gue buat itu, Ia mengobatinya dengan sangat hati-hati. Mungkin Ia pikir, Gue akan merasa kesakitan karna mengobati luka gue dengan obat merah.


Memang rasanya sedikit sakit, tapi gue masih bisa menahan rasa sakit itu dan membiarkan Jessica mengobati luka gue dengan santai.


Setelah keempat luka gue sudah di obati, dan Jordan juga telah kembali dengan membawa pakaian milik Jessica.


Sekarang Jessica sedang berada di dalam kamar mandi, untuk memakai pakaiannya. Selagi dia mengganti pakaian, gue memilih untuk merapikan ranjang gue dan mengganti selimut yang terkena darah itu.


Setelah beberapa menit kemudian, Jessica akhirnya keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah gue.


"Sini, kita tidur bareng." ajak gue.


Saat mendengar ucapan gue, tiba-tiba Jessica menghentikan langkahnya dan menatap gue dengan mata yang penuh dengan ketakutan.


"Hah...gue salah lagi." gumam gue lalu turun dari ranjang dan menghampirinya.


"Tenang, gue gak bakal apa-apain lu. Kalau lu gak ngizinin, gue gak bakal nyentuh lu. Yaudah, yuk." ucap gue, lalu menariknya ke ranjang dan menidurkannya.


Gue pun naik di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu gue pun berbaring tepat di sebelahnya.


"Sekarang lu tidur, gue cuma bakal tidur di samping lu bukan di atas lu." ucap gue sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


Jessica pun memejamkan makanya, Gue sontak mengecup keningnya dan berkata. "Selamat malam, dan mimpi indah."


Gue pun memejamkan mata gue, tapi tangan gue masih megelus kepala Jessica dengan lembut agar Ia bisa merasa tenang saat tidur bersama gue.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2