
Akhirnya aku menerima permintaan kelima orang itu, walaupun aku sedikit bingung dengan apa yang harus aku lakukan untuk Pria itu. dan lagi, sudah 3 bulan ini aku sangat jarang berinteraksi dengannya. Dia yang sama sibuknya dengan ku, membuat kami sangat jarang berbincang berdua, kami bertemu pun hanya saat di meja makan dan di malam hari menjelang waktu tidur.
Aku yang sekarang sedang duduk tepat di samping ranjang Marcel, sambil menatap Pria itu yang sedang tertidur dengan mata yang sembab.
"Aku pikir kehidupan Pemimpin Mafia ini sangat nyaman dan indah, kehidupan yang terlihat sangat mewah tapi cukup berbahaya. Tapi ternyata, hidupnya di penuhi dengan kesedihan dan kesepian." oceh ku sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
"Umur yang masih 19 tahun, sudah merangkul beban seberat ini? seharusnya seumuran kamu tuh masih sibuk bersosialisasi, belajar dan bermain dengan teman-teman yang seumuran dengan mu."
"Dan kamu? malah sibuk memahami tentang politik, keuangan, beradu dengan nyawa, dan sekarang harus belajar berpisah dengan keluarga kandung mu."
"Haah...aku benar-benar berharap kebahagiaan dalam hidup mu."
Disaat tangan ku masih berada di atas kepalanya, dan saat aku ingin menarik tangan ku kembali. Tiba-tiba tangan ku ditahan oleh Marcel yang entah sejak kapan terbangun dari tidurnya.
"Jangan berhenti..." lirihnya.
"Apa ada yang tidak nyaman? atau kamu ingin minum?" tanya ku.
"Tidak, aku hanya ingin kamu." jawabnya.
"Baiklah, aku akan tetap di samping mu. Tenang saja." ucap ku dan kembali mengelus kepalanya.
Tapi tiba-tiba saja Marcel menggeser tubuhnya ke sisi lain kasur, dan sontak menarik ku ke atas ranjang tepat di sampingnya.
__ADS_1
Ia memeluk ku dengan sangat erat, seolah-olah tidak mengizinkan ku untuk pergi dari hadapannya.
"Ada apa? Apa ada yang kamu inginkan?" tanya ku sambil mengelus pipinya.
"Tidak, aku hanya ingin bersama mu. Hanya itu, apa tidak bisa? aku benar-benar hanya ingin bersama mu, hanya itu..." racaunya.
Aku tidak tau apa dia sedang menangis atau tidak, tapi suaranya itu terdengar seperti sedang menangis. Karna Ia memelukku dari belakang, aku langsung membalik tubuh ku menghadap kearahnya dan menatap wajahnya yang sedang menunduk.
"Hei...ada apa?" tanya ku sambil memegang kedua pipi ya.
Benar saja, Pria itu sudah mengeluarkan tetesan air dari mata sembabnya itu. Aku tidak tau pasti apa yang sedang Ia pikirkan sekarang, yang aku tau sekarang Ia benar-benar membutuhkan sebuah pelukan.
"Tidak apa, kamu bisa menemui mereka nanti. Ini hanya perpisahan sementara saja. Tidak perlu khawatir, tenang saja~" ucap ku sambil mengelus kepala bagian belakangnya.
"Benar?" sahutnya dan sontak menatap ku.
"Ya...aku berjanji." jawab ku sambil tersenyum kepadanya.
"Jangan berbohong..."
"Tidak! aku tidak akan berbohong, aku berjanji, sayang~"
"Hm..." dehemnya seolah-olah tidak mempercayai ucapan ku.
__ADS_1
"Dari pada memikirkan hal yang terus membuat mu bersedih, akan lebih baik kalau kita pergi dan bersenang-senang." tawar ku.
"Tidak! aku hanya ingin di kamar!" tolaknya dengan cepat.
*Dia seperti anak kecil.* batin ku.
"Baiklah,baiklah~ kita akan di kamar saja."
"Carmelia~" panggilnya.
"Ada apa?" tanya ku.
"Aku mencintai mu." ucapnya dan sontak mengecup bibir ku sekilas.
"Hm...tapi aku tidak mencintai mu." canda ku.
Saat aku berkata seperti itu, tiba-tiba ekspresi Pria itu berubah menjadi sangat sedih dengan bibir yang cemberut, seperti anak kecil yang sedang di marahi oleh Ibunya.
"Aku hanya bercanda, aku juga mencintai mu." sambung ku sambil mengelus kepalanya.
Mendengar jawaban ku itu, Ia langsung menunjukkan senyum bahagianya dan kembali memelukku dengan sangat erat.
*Ya...seperti inilah Marcel, Pria yang sangat manja dan sangat haus akan kasih sayang.* batin ku.
__ADS_1
BERSAMBUNG