
Setelah bersantai lebih dari satu jam, gue akhirnya merasa bosan berada di kamar yang cukup besar ini.
"Hah...bosan..." gumam gue sambil menyandarkan punggungnya gue disandarkan sofa dan menatap langit-langit dinding.
*Kalau jaliin Marcel seru juga nih.* batin gue, dan sontak berdiri lalu melangkah ke arah pintu.
Saat gue keluar dari kamar gue, kedua Pria itu tiba-tiba berdiri di depan gue.
"Anda mau kemana, Nona?" tanya salah satu Pria itu.
"Mau ke kamar Tuan kalian." jawab gue santai dan langsung melangkah melewati mereka.
Tapi, saat gue ingin membuka pintu itu, tiba-tiba kedua Pria itu menghalangi gue dengan tangan mereka masing-masing.
"Mohon maaf, Nona. Anda tidak boleh masuk, silahkan kembali ke kamar anda." ucapnya.
"Tapi kenapa? dari tadi aku tidak boleh masuk ke kamar Marcel, padahal aku hanya ingin bertemu dengannya." protes gue.
"Maaf, Nona. Tapi, Tuan Marcel belum kembali mulai tadi." sambungnya.
"Serius? kenapa lama banget?" tanya gue.
"Urusan Tuan sangat banyak, Nona. Jadi, mohon untuk di mengerti." jawabnya.
"Aku akan kembali kekamar, jika kalian mengizinkan ku untuk melihat kamar Marcel sebentar saja." pinta gue.
"Tapi, Nona—"
"Aku mohon..." mohon gue dengan mata yang berbinar-binar.
Mereka sontak saling menatap satu sama lain, lalu kembali menatap gue.
*Umpan gue selalu di makan dengan cepat, ya.* batin gue.
"Baiklah, Nona. Anda memiliki waktu satu menit untuk masuk ke dalam kamar, Tuan. Setelah itu, tolong kembali kekamar anda dan jangan keluar dari kamar anda lagi." jelasnya.
"Hm...oke." jawab gue.
Mereka pun mempersilahkan gue masuk, tanpa membuang waktu lagi gue langsung melangkah masuk ke dalam kamar Marcel.
Saat di dalam, benar seperti yang kedua Pria itu katakan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Marcel di kamar itu.
"Gak asik, ah!" gerutu gue, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu.
"Kenapa cepat sekali, Nona?" sahutnya.
"Tidak apa, aku htnaya malas berlama-lama di kamar kosong." ucap gue sambil melangkah masuk kedalam kamar gue.
__ADS_1
Dari pada bersantai sambil menonton TV, gue lebih memilih untuk tidur sampai Marcel kembali.
Gue sontak melemparkan tubuh gue keatas ranjang, lalu menutupi tubuh gue dengan selimut dan mulai memejamkan makan.
Walaupun ini masih jam 3 sore, dan cahaya matahari yang masih sangat terang. Gue tetap berusaha untuk tidur, dengan kondisi lampu menyala dan tirai yang terbuka.
MARCEL POV*
Akhirnya gue sadar dengan kondisi tangan yang di infus dan lengan yang sudah di bungkus perban. Dengan kepala yang sedikit pusing, gue berusaha untuk bangun dari posisi tidur gue.
"Berapa jam sih gue di bius? pusing banget, gila!" keluh gue.
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangan gue, gue langsung menolah dan menatapnya.
"Ah! anda sudah bangun?" sahutnya, dan langsung menghampiri gue.
"Apa lengan anda terasa sakit, Tuan?" tanya.
"Tidak sama sekali, hanya kepala ku yang sakit." jawab gue.
"Oh...itu efek dari obat biusnya, Tuan." ucapnya.
"Berapa lama aku tidur?" tanya gue.
"Hm...sekitar 2 jam, Tuan. Operasinya hanya berlangsung satu jam saja, karna hanya lengan anda yang di tangani." jelasnya.
"Hah? tidak, Tuan. Kami memberikan dosis yang pas untuk Anda. Alasan anda tidak langsung terbangun setelah Operasi, itu karna anda terlalu kelelahan." sahutnya.
"Konyol sekali, hanya karna aku kelelahan aku sampai tidak sadarkan diri." ucap gue dan sontak melepas infus yang ada di telapak tangan gue degan paksa.
"A-apa yang anda lakukan, Tuan? cairan infus anda belum habis. Biar saya pasangkan kembali." sambungnya.
"Tidak perlu, sekarang panggilkan Hendra. Aku ingin bertemu dengannya, sekarang!" perintah gue.
"Ba-baik, Tuan." jawabnya dan langsung berbalik lalu melangkah keluar dari ruangan gue.
Gue pun turun dari ranjang dan memakai pakaian gue kembali, sambil berjalan kearah sofa yang ada di ruangan gue.
Saat gue ingin duduk, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan gue.
"Masuk!" sahut gue sambil duduk di sofa.
"Bagaimana dengan keadaan anda, Tuan?" tanya Hendra yang berdiri di depan gue.
"Duduk!" perintah gue.
Dia hanya menjawab dengan menundukan kepalanya, lalu duduk di kursi yang ada di depan gue.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhnya untuk masuk keruangan ku tanpa izin?" sahut gue.
"Maksud anda Dokter muda itu." tanyanya.
"Dokter muda? apa dia Dokter baru disini?" tanya gue balik.
"Iya, Tuan. Dia baru 2 bulan berada di rumah sakit ini, tapi kinerjanya sangat bagus." jawabnya.
"Aku tidak bertanya tentang itu, aku hanya bertanya siapa yang menyuruhny masuk keruangan ku tanpa izin!!?" kesal gue.
"Maaf, Tuan. Saya yang menyuruhnya, saya harus mengecek keadaan semua bawahan anda terlebih dulu. dan saya menyuruhnya untuk mengecek anda sudah sadar atau belum, hanya itu saja." jelasnya.
"Aku heran, sebenarnya kamu ini Dokter Pribadi ku atau bukan? Aku sudah berapa kali bilang, jangan biarkan seseorang masuk keruangan ku kecuali mereka masuk bersama mu. Apa kamu tidak ingat dengan kejadian sebelumnya?" ucap gue.
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar bersalah, maafkan saya..." mohonya sambil menunduk kepalanya.
"Hah...lain kali jangan membuat kesalahan yang sama lagi."
Mendegar itu, Ia langsung menenggakan kepalanya dan menatap gue sambil berkata. "Te-terima kasih, Tuan."
"Terjadang aku berpikir, kalau para bawahan ku tau bahwa aku selalu memaafkan kesalahannya mu itu, aku pasti akan di katai tidak adil oleh mereka." oceh gue.
"Belas kasih anda tiada tara." ucapnya.
"Sudah lah, aku ingin kembali ke hotel." sambung gue.
"Sekarang, Tuan? Istirahat lah sebentar lagi, Tuan. Saya akan menelpon Jordan untuk menjemput anda."
"Tidak perlu, Jordan sedang sibuk sekarang. Berikan saja kunci mobil mu, aku akan pulang sendiri."
"Baiklah, Tuan."
Hendra pun memberikan kunci mobilnya ke gue. Tanpa membuang waktu lagi, gue langsung berjalan keluar dari ruangan gue menuju basment rumah sakit itu.
Alasan gue pulang cepat bukan karna gue gak suka lama-lamar berada di rumah sakit. Tapi, gue takut membuat Jessica khawatir dan lebih takut lagi kalau ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu.
Sangking khawatirnya, gue sampai menyetir dengan cepat. Padahal yang gue pakai bukan mobil gue atau mobil para bawahan gue, melainkan mobil Dokter Pribadi gue yang dia beli dari hasil jerih payahnya.
Mobil yang hanya seharga 4.5 miliyar milik seorang kepala rumah sakit dan lagi Dokter Pribadi Pemimpin Mafia.
Awlanya Gue pikir uang yang gue kasih gak cukup buatnya, tapi ternyata uang yang gue kasih malah di buat untuk mengobati orang-orang yang tidak memiliki biaya untuk melakukan pengobatan dirumah sakit terbaik di Dunia.
Karna sikapnya yang terlalu baik, gue sampai tidak ingin orang-orang kehilangan Pria yang membuat mereka bisa hidup.
Memang konyol bagi gue yang selalu bersikap seenaknya, tapi Hendra sudah gue anggap layaknya keluarga gue. Karna hanya dia yang berani menceramahi ku tentang kesehatan ku.
Bersambung
__ADS_1