
2 jam berlalu yang kita habiskan bersama, Carmelia yang sangat kelelah akhirnya memilih untuk tidur di samping ku, dengan tubuh yang lengket dan tanpa memekai sehelai benang pun.
Aku menatapnya sambil mengelus lembut rambutnya. Walaupun Ia terlihat sangat berantakan, tapi kecantikannya tidak sedikitpun memudar. Ia malah tambah terlihat cantik dan sangat seksi di mataku.
"Apa aku terlalu kasar kepadanya?" gumam ku yang melihat leher jenjangnya yang dipenuhi oleh bekas gigitan ku.
"Haah...untuk saja aku tidak mencekiknya terlalu keras, jika tidak. Mungkin itu akan meninggalkan pekas lagi di lehernya."
Aku merasa kasian kepadanya, karna setiap saat ingin memuaskan ku. Ia selalu merelakan tubuhnya dan membiarkan ku menyiksanya, walaupun setelah itu Ia akan memarahiku habis-habisan.
Aku mengelus puncak kepalany dan berbisik di telinganya. "Kau melakukan peran mu dengan baik," lalu mencium lembut dahinya.
Karna ada hal yang harus aku urus, aku pun bangun dari posisi ku dan meraih selimut, lalu menutupi tubuh Wanita itu. Saat aku ingin melangkah turun dari ranjang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ku. Karna aku yang tidak memakai sehelai benang pun di tubuh ini, aku pun menyauti ketukan itu dari dalam sambil berteriak.
"SIAPA?" tanya ku.
"Vernon, Tuan,"
Saat tau itu hanya Vernon, aku pun melangkah kearah pintu dan membuka pintu itu dengan kepala yang mengintip keluar kamar.
"Ada apa?"
"Saya hanya ingin bertanya, makan siang anda apa hrus saya bawakan kemari, atau saya siapkan di ruang makan saja?"
"Bawakan kemari saja, tapi. Bawakan makanan untuk Carmelia saja, aku sudah kenyang hari ini."
"Baiklah, saya akan membawakan kopi saja untuk anda."
"Tidak usah, aku akan bekerja setelah ini. Layani Carmelia saja."
__ADS_1
"Baik, kalau begitu saya izin undur diri," ucapnya sambil membungkuk sekilas, lalu pergi dari hadapan ku.
Aku pun kembali menutup pintu kamar ku, lalu melangkah kearah kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menemui Jordan di ruang kerja ku.
CARMELIA POV*
"Uukhh." Kata pertama yang aku ucapkan saat terbangun dari tidur. Seluruh tubuh ku terasa amat sangat sakit, rasanya tulang ku akan remuk dan ditambah lagi, kulit kepala yang rasanya akan lepas karna di tarik oleh Marcel.
Saat bangun, tidak heran jika Marcel tidak berada di samping ku. Tidak seperti pasangan lainnya, yang bermesraan setelah melakukan hal intim. Aku seperti seorang jal**ang yang jika sudah di pakai, langsung ditinggalkan begitu saja. Bedanya, aku tidak dibayar setelah melakukan hal itu.
"Haah...rasanya Vag**na akan robek karnanya," keluh ku sambil bangun dari posisi tidur ku dan terduduk di atas ranjang.
Aku mencoba meraih telpon yang berada di atas meja tepatnya di samping ranjang, lalu menelpon ke lantai pertama. Berharap salah satu pelayan yang mengangkat telpon ku.
"*Ah! halo..."
"*Panggilkan pelayan yang biasa memandikan ku, ke kamar ku sekarang!"
"Baik, Nyonya. Segera saya panggilkan*."
Tanpa menjawab apapun lagi, aku pun menutup telpon itu dan bersandar di sandaran ranjang sambil menghela nafas panjang.
"Dua tahun ku berjalan dengan sangat cepat, rasanya baru kemarin aku menikah dengan Pria gila itu." gumam ku.
Jujur saja, selama aku menikah dengan Marcel. Hidup ku benar-benar berubah, aku yang dulunya selalu terkurung dan mendapat siksaan dari orang tua ku. Sekarang aku malah mendapatkan penghormatan yang paling di inginkan oleh seluruh Wanita di Dunia ini, walaupun sesekali nyawa ku yang menjadi taruhannya.
Di umur ku yang sudah berkepala 2 ini, seharusnya aku sedang sibuk dengan masa-masa kuliah ku. Tapi, aku malah memutuskan untuk menjadi istri seseorang dan mengambil peran penting di Dunia ini. Tentu saja, aku mendapat pelajaran yang hampir membuat ku gila. Siang dan malam ku habiskan untuk belajar dengan profesor yang telah di pilih Agnella, bukan hanya itu. Aku juga sesekali menghadiri undangan dari para Istri pemimpin Mafia lainnya, dan tentu saja mengurusi keuangan Marcel bersama dengan Agnella.
Sebenarnya hari-hari ku cukup membosankan tapi juga melelahkan sampai bisa membuat ku gila. Tapi saat tiba hari dimana para istri dari pemimpin Mafia diseluruh Dunia ini berkumpul, disitulah tantangan ku di mulai. Para wanita yang jauh lebih tua dari ku, tapi memiliki kedudukan jauh dibawah ku. Aku harus bisa berbaur dengan mereka, dan mendengarkan perbincangan yang cukup asing di telinga ku.
__ADS_1
Tapi, dari perbincangan mereka. Ada satu perbincangan yang selalu membuat ku merasa iri dan juga kesal. Mereka selalu membicarakan mengenai Putra Putri mereka, dan lebih kesalnya lagi. Mereka selalu saja menyindirku, yang sampai sekarang belum memiliki penerus untuk keluarga Anggara.
"Mengingat mereka, suasana hati ku lansung memburuk. Haah..." kesal ku sambil menyisir rambut ku kebelakang dengan tangan kiri ku.
Suara ketukan pintu yang membuat ku sontak menengok kearah pintu dan menyautinya. Melihat para pelayan masuk ke dalam kamar ku, aku mulai mengecek satu persatu wajah mereka.
Mengapa aku harus mengecek satu persatu wajah mereka? Ya tentu saja untuk memastikan apa mereka hanya seorang pelayang yang bertugas memandikan ku, atau malah seorang pembunuh bayaran yang bertugas untuk menyingkirkan Wanita ini.
Setelah mengamati satu persatu wajah mereka, aku langsung membuka laci yang ada di samping rancang, dan dengan perlahan ku raih pistol milik ku yang sudah diisi banyak peluru beracun.
Saat berhasil mendapat senjata itu, aku langsung tersenyum manis kepada para pelayan sembari menyembunyikan senjata itu didalam selimut ku.
Hal yang selalu kulakukan untuk memastikan para pelayan adalah, menyuruh mereka untuk berlutut. Memang aneh, tapi yang pernah bekerja dengan ku. Walaupun itu hanya sekali, pasti Ia tidak akan pernah bertingkah bodoh.
"Kenapa kalian sangat lama!!? CEPAT BERLUTUT!!" teriak ku sambil menatap mereka dengan tatapan ingin membunuh.
Dan benar seperti yang ku pikirkan, salah satu dari mereka tiba-tiba bergerak dalam barisan. Aku yang melihat itu dengan jelas, langsung mengeluarkan senjata ku dan mengarahkannya kearah Wanita itu.
"Haah...dasar bodoh," ucap ku pelan, dan langsung menembakan peluru tepat di jantung Wanita itu.
Walaupun suara tembakan itu sangat keras, dan percikan darah yang mengenai pelayan lainnya. Tapi tidak satupun dari mereka yang bergerak dari tempat mereka. Karna jika mereka bergerak, mereka juga bisa menemui tuhan dalam sekali tembakan.
Ya...seperti itulah cara ku untuk memastikan apa dia benar-benar seorang pelayan atau seorang pembunuh bayaran. Memang terdengar aneh, tapi aku tidak pernah sekalipun menyuruh mereka untuk berlutut karna kesalahan kecil. Walaupun aku seseorang yang tegas dan kejam bagi mereka, tapi aku tidak berniat untuk merendahkan harga diri mereka yang sudah bekerja di bawah ku.
BERSAMBUNG
*Yang kemarin greget sama sikap bodoh Jessica angkat tangan✋ sekarang Jessica udah jadi Carmelia seutuhnya nih. Gimana? apa Carmelia dah cocok sama Marcel Belum? atau masih kurang?
Jawab di kolom komentar ya ⬇️*
__ADS_1