
Di saat aku mendengar semua keluhan dari para pemimpin, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Aku dan para pemimpin langsung terdiam dan menatap kearah suara ketukan itu. Tapi, aku tidak menyauti ketukan itu, dan malah memberi isyarat kepada Vernon untuk melihat siapa yang sudah berani mengetuk pintu di saat rapat sedang berlangsung.
Anehnya, selang beberapa menit Vernon di luar. Tiba-tiba Ia masuk dan melangkah kearah ku, Ia mendekati telinga ku dan berbisik. "Nyonya ingin bertemu dengan anda, Tuan. Katanya, ini masalah calon bayi, anda."
"Tuan, ada apa?" tanya pemimpin Korea.
"Bukan apa-apa, Tuan. Oh iya, bukannya ini sudah waktunya makan siang? Vernon, cepat sajikan makanannya," ucap ku mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, Tuan-tuan. Mohon untuk berdiri, dan pindah ke meja sebelah sana." Untungnya saja para Pria itu tidak banyak bertanya, dan hanya mengikuti Vernon ke meja yang satunya, khusus untuk istirahat dalam rapat.
Kenapa tidak makan di ruang makan? karna, jika harus berpindah ruangan lagi. Itu akan memakan waktu lagi, dan membuat waktu rapat semakin lama.
Setelah para pemimpin dan sekretaris mereka duduk di kursi masing-masing, aku yang hanya berdiri di depan kursi ku, membuat salah satu dari mereka bertanya Kenapa aku hanya berdiri saja.
"Baik, Tuan-tuan. Maaf karna saya tidak bisa ikut makan bersama dengan anda sekalian, karn ada urusan mendesak yang harus saya selesaikan. Tapi, sebelum waktu makan siang selesai, saya akan kembali lagi. Dan kita akan melanjutkan rapat yang sempat terpotong tadi," kata ku.
"Kalau begitu, silahkan selesaikan urusan anda, Tuan Marcel. Kami akan makan bersama pengacara dan sekretaris anda saja," balas Henry.
"Terima kasih, kalau begitu saya izin undur diri." Aku pun melangkah keluar dari ruangan itu, dan saat di luar teryata masih ada Carmelia yang menunggu ku sambil bersandar di dinding.
"Hei~ ada apa? apa ada masalah?" tanya ku dengan lembut.
"Apa kita bisa berbincang di tempat lain?" tanyanya.
"Tentu saja, kita bicara di ruangan ku saja," jawab ku.
__ADS_1
Carmelia hanya mengangguk, lalu mulai melangkah ke ruangan yang tidak jauh dari ruang rapat ini. Aku mengikuti setiap langkah gadis itu dan menatapnya dari belakang.
Saat sampai di ruangan ku, dengan cepat aku membantunya untuk duduk di sofa panjang. Karna aku pikir Carmelia masih marah kepada ku, aku berniat untuk duduk di sofa lainnya. Tapi, tiba-tiba Carmelia berkata. "Duduk di samping ku!" mendengar itu, aku sempat terdiam beberapa detik, lalu dengan cepat mendekati wanita itu dan duduk tepat di sampingnya.
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?" tanya ku.
"Semalam, aku bermimpi buruk. Aku tidak tau apa ini benar hanya sebuah mimpi, atau ini sebuah petunjuk di masa depan." perkataan Wanita itu membuat ku bingung. *Mimpi? mimpi apa yang dia maksud?*
"Kalau aku boleh tau, kamu memimpikan apa? tanya ku.
"Ada seorang Pria, yang ingin membalas dendam keluarganya. Aku tidak tau dendam apa yang Pria itu maksud, tapi yang Ia incar bukan kamu atau pun aku. Melainkan bayi yang ada di dalam sini," jawabnya sambil mengelus perutnya.
"Kenapa malah mengincar bayi yang tidak bersalah? dia saja belum lahir, memang dendam apa yang di buat oleh bayi sesuci ini?" heran ku.
"Tidak, itu dendam yang kau buat! Aku juga tidak tau siapa Pria itu, yang aku tau hanya alasan dia ingin membunuh anak ini! Dia tidak akan mengizinkan penerus keluarga Anggara lahir!!" Mendengar itu, aku semakin bingung. Siapa Pria yang Carmelia temui di dalam mimpinya, dan dendam apa yang dia maksud? kenapa malah anak yang tak bersalah, yang Ia incar? Pertanyaan yang tak henti-hentinya muncul di dalam benak ku.
Aku yang melihat itu, langsung memegang tangannya dan berkata. "Tenang saja, kau ataupun bayi mu. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian berdua terluka sedikitpun, aku berjanji! aku akan memastikan keaman kalian berkali-kali lipat!"
Carmelia tiba-tiba menatap ku dengan mata sayunya, aku langsung menariknya kedalam pelukan ku dan mengelus rambutku dengan lembut.
"Tidak usah di pikirkan, itu akan menggangu kesehatan mu. Kau hanya perlu menjaga kesehatan mu dan calon bayi kita, masalah keaman kalian. Itu adalah tugas ku dan para bawahan ku."
"Tapi, bagaimana kalau mimpi itu akan terjadi?"
"Hei, hei, hei!! jangan bicara seperti itu, tidak akan ada yang terjadi kepada kalian berdua."
__ADS_1
"Tapi—"
"Jangan berbicara lagi, Carmelia! pikiran hal-hal positif, jangan malah memikirkan hal-hal negatif!" potong ku.
"Kau memarahi ku lagi~? lirihnya.
"Astaga~ aku tidak memarahi mu, Carmelia~ aku hanya memberitahu mu, untuk jangan berpikir positif."
"Tapi kau memakai nada kesal~"
"Haah... maaf karna memakai nada yang buruk kepada mu, aku minta maaf," sesal ku.
"Sekarang, tenangkan diri mu. Apa kau sudah makan siang?" tanya ku.
"Hm...belum."
"Mau makan bersama? tapi ku tidak bisa lama, karna rapatnya belum selesai."
"Makan disini?" tanyanya.
"Iya, sayang~" jawab ku.
"Yasudah, panggil pelayan," ucapnya.
Aku pun berdiri dan mengambil telpon inter, lalu menelpon pelayan dapur untuk membawakan makan siang ke ruangan ku.
__ADS_1
BERSAMBUNG