
Setelah perbincangan yang cukup panjang dengan Jordan, gue langsung menyuruhnya untuk mengambilkan 2 botol alkohol agar sedikit menenangkan pikiran gue, yang mulai kacau karna kelakuan orang tua Jessica.
Gue melepas jas gue, lalu bermain ponsel, selagi menunggu Jordan datang.
Tapi, tiba-tiba saja ada yang menelpon gue, dan ternyata itu adalah Jessica.
"Padahal kita cuma beda kamar, doang." gumam gue lalu mengangkat telponnya.
"Halo baby, ada apa?"
"Pala lu baby-baby!!"
"Iya sayang, kenapa?"
"Jiji, woi!! Astaga!!"
"Yaudah, kenapa bunda?"
"Argh!!!! terserah lu!!"
Jessica langsung memutuskan telponnya, sedangkan gue malah tertawa dengan puas karna berhasil mengerjainya.
Gue langsung berdiri, dan melangkah keluar kamar. Tapi, ternyata sudah ada Jordan di depan kamar gue dengan membawa nampan yang berisi 2 botol whiskey dan 1 gelas kaca.
"Anda ingin kemana, Tuan?" tanya Jordan.
"Ke kamar sebelah." jawab gue.
"Minuman ini harus saya letakkan di mana, Tuan?" sambungnya.
"Letakkan di dalam saja." ucap gue lalu melangkah masuk ke kamar Jessica.
"Sayang...kok telpon ku di matiin, sih?" ucap gue sambil melangkah menghampiri gadis itu.
"Pergi!! gue jiji sama lu!!" teriak Jessica.
"Kok kamu gitu sih, sayang?" tanya gue, lalu duduk di atas ranjangnya.
"Pergi lu!! pergi! pergi!!" ucapnya sambil memukul gue dengan bantal.
"Sakit, bego!!" geram gue sambil merampar bantal itu dari tangannya.
"Nah, gue lebih suka lu yang kayak gitu." sambungnya.
"Serah lu, dah." jawab gue.
"Btw, kenapa lu nelpon gue? butuh sesuatu?" tanya gue.
"Gue lapar." jawabnya.
"Lapar? itu dong? Sumpah?" sahut gue.
"Iya." jawabnya polos.
Gue sontak membaringkan tubuh gue, sambil menghela nafas.
"Gue mau makan di luar, boleh ya?" bujuknya.
__ADS_1
"Tapi gue malas keluar, gimana dong?" balas gue.
"Ih! Katanya kalau gue butuh apa-apa, lu bakal ngasih segalanya. Tapi, gue cuma minta makan di luar doang, malah gak di kasih." ocehnya.
"Apa bedanya maka di luar sama makan di markas, sih? lagian, makanan yang di pesan juga dari restoran." ucap gue.
"Gue mau makan di restoran, bedua sama lu, gak boleh gitu?" sambungnya.
"Boleh, boleh. Cium gue dulu, sini." jawab gue sambil menunjuk bibir gue.
"Ogah!!" tolaknya.
"Yaudah...gue sih gak maksa, ya." ucap gue santai.
Tapi tiba-tiba saja, Jessica mengecup bibir gue. Walaupun hanya sebuah kecupan kecil saja, itu tetap saja membuat gue terkejut.
"Udah, kan? buruan bangun!!" sambungnya.
Gue sontak menariknya, lalu mengecup bibirnya sekali lagi.
"Manis." bisik gue sambil menatapnya dengan tersenyum licik.
Gue langsung melepasnya, lalu bangun dari posisi tidur gue, dan turun dari ranjang.
"Lu siap-siap aja dulu, gue mau bilang sama ngomong sama Jordan." ucap gue.
"Jangan!" sahutnya.
Gue langsung berbalik, dan bertanya. "Lah, kenapa?"
"Tapi, kalau gue kemana-mana pasti Jordan atau bawahan lainnya ikut."
"Please, gue mau makan bedua sama lu aja."
"Iya kita makan berdua, mereka cuma baka jagain kita. Banyak musuh di luar sana, kita gak tau apa yang bakal terjadi nanti."
"Tapi—"
"Anggap aja mereka seperti seorang bodyguard, yang siap menjaga lu 24 jam. Jadi, biasakan diri lu." potong gue.
Gue sontak mengangkat tangan gue lalu meletakkannya di puncak kepala gadis itu.
"Lu siap-siap aja, gak usah mikirin yang lain." ucap gue sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ih! iya,iya." jawabnya.
Gue pun menurunkan tangan gue, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamarnya.
"Jordan..." panggil gue sambil menutup pintu kamar Jessica.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
"Aku dan Carmelia ingin makan malam bersama, pesan meja terbaik di restoran terbaik juga. dan, siapkan 10 orang untuk menjaga kami." jelas gue.
"Baik, Tuan. Apa ada yang anda butuhkan lagi, Tuan?" tanyanya.
"Tidak ada, jalankan saja tugasnya dengan cepat." jawab gue.
__ADS_1
"Baik, Tuan." ucapnya sambil menunduk lalu pergi.
Gue pun melangkah masuk ke dalam ruangan gue, untuk mengambil jas dan ponsel gue.
Sebenarnya, ada hal yang sedang gue pikirin beberapa hari ini. Karna sekarang ada seorang wanita yang tinggal dan ikut dalam misi bersama kami, gue jadi sedikit takut kalau ada hari dimana Jessica bakal jadi incaran para musuh.
Walaupun ini bukan pertama kalinya ada seorang wanita yang ikut dalam misi, tapi karna ini Jessica. Ceritanya jadi berbeda lagi.
Padahal, wajar saja kalau seorang wanita menjadi anggota mafia. Tapi, selama gue bergabung, gue sama sekali gak pernah liat seorang wanita yang ikut bergabung menjadi anggota mafia.
Entah kenapa, di era gue memimpin, tidak ada seorang pun wanita yang ingin bergabung. Gue sampai berfikir, kalau gue masih gak becus jadi pemimpin mafia.
"Nasib gue yang baru umur 18 tahun, gini nih." keluh gue sambil memakai jas gue, lalu melangkah keluar dari ruangan gue.
Ternyata, Jessica juga keluar dari kamarnya bersamaan dengan gue. Gue pun langsung menghampirinya.
"Bandanya kok gak berbentuk, bund?" ejek gue.
"Lu mau gue tabok, hah!!?" geramnya.
"Canda, sayang. Tapi, beneran loh. Kok badan lu gak ada bentuknya, sih?" ucap gue sambil menatap Jessica dari atas sampai bawah.
"Lu pikir gue setan, yang gak berbentuk!!? gini-gini body gue nih impian para wanita, loh."
"Impian apanya? gak bikin puas!" ejek gue.
Jessica tiba-tib memukul punggung gue dengan keras, lalu berkata. "Lu pikir gue mau puasin lu, apa!!?"
"Lu kok mukul mulu, sih!? lu pikir kagak sakit, apa!?" protes gue.
"Makanya jangan mulai, dong!" balasnya.
"Gue kan cuma becanda, bego!!" geram gue.
"Lu nyebut gue bego, mulu! lu tuh yang bego!!" jawabnya.
"Lu yang bego, tolol!!" balas gue.
"Lu tuh, tolol!! Bego!! gila!! cowok brengsek!!" teriaknya.
Tanpa kita sadari, ternyata para bawahan gue mendengar perdebatan kita dari bawah.
Gue sontak menengok ke bawah, lalu berkata. "Tidak usah di perdulikan."
Mereka hanya menunduk sebagai jawaban, Gue pun kembali menatap Jessica.
"Bisa-bisanya gue ketemu sama cewek bar-bar gini, heran." gumam gue.
"Lu bilang apa!!?" geramnya.
"Gue gak bilang apa-apa, tuh. Halu lu!" jawab gue.
"Dah, lah. Yuk." ajak gue lalu berjalan menuju basment.
dan gue bisa pastiin, Jessica mengikut gue dari belakang. Karna suara heelsnya terdengar jelas, seperti seseorang yang sedang marah.
Bersambung
__ADS_1