Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Datang Bulan


__ADS_3

  "Lu kenapa, sih? dari tadi ngomong gak jelas, lu gila ya?" ucapnya.


  "Lu tadi nampar gue?" tanya gue.


  "Iya, bego!! lu kayaknya beneran gila, deh." jawabnya.


  "Sumpah? lu tadi nampar gue?" tanya gue sekali lagi.


  "Iya, anjir!!!" teriaknya.


  "Sekali lagi lu tanya, gue tampar lagi lu!" ancamnya.


  "Tapi gue serius nanya, anjir! lu namar gue? gue yang sekarang ini jadi Marcel? bukan Reyha?" sambung gue.


  "Serah lu, dah! cepak gue ngomong sama orang gila kayak lu, bye!" jawabnya dan sontak berbalik, lalu berjalan keluar ruangan gue.


  JESSICA POV*


  Gue benar-benar hampir gila gara-gara tuh cowok, malah ngomong gak jelas lagi.


  Walaupun gue juga salah, karna udah nampar dia dua kali. Habisnya dia mau ngelakuin aneh-aneh, gue kan refleks nampar.


  Saat gue keluar dari ruangan, Jordan yang menjaga di depan pintu, Ia langsung bertanya. "Ada masalah apa, Nona?"


  "Hah? tidak ada." jawab gue.


  "Tapi, kenapa Tuan dan Nona tadi berteriak?" tanyanya lagi.


  "Oh...tanya saja sama Tuan kalian, saya mau ke kamar saya dulu." jawab gue lalu masuk ke kamar gue.


  Gue bisa lihat, ekspresi bingung Jordan dan juga bawahan lainnya yang mendengar teriakan kami.


  "Biarin aja, dia di tanyain. Biar gak gila lagi." gumam gue sambil melangkah menuju meja rias gue.


  Saat gue duduk, gue ngerasa ada yang ganjal dan membuat gue gak nyaman.


  "Gak mungkin dapat sekarang, kan?" gumam gue.


  Karna penasaran, gue langsung berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar gue, dan langsung mengecek hal yang membuat gue gak nyaman itu.


  "Anjir! serius?! gue datang bulan sekarang?" ucap gue.


  Tanpa basa-basi lagi, gue langsung keluar dari kamar mandi, lalu mengambil ponsel gue yang ada di atas meja rias.


  Walaupun kamar sebelahan sama ruangan tuh orang, tapi keadaan gue sekarang, gak memungkinkan buat gue jalan keluar kamar.


  MARCEL POV*


  Gue yang baru saja mendapatkan pertanyaan dari Jordan tentang kenapa gue sama Carmelia alias Jessica berteriak mulai tadi.


  Akhirnya gue hanya bisa menjawab kalau tadi kita hanya bermain saja. Karna, kalau gue bilang Jessica habis nampar gue, tuh cewek bisa dalam bahaya.


  Walaupun Jessica berada di bawah pertanggungjawaban gue, tapi kalau dia sampai ngelukain gue. Tetap saja, bakal membahayakan dirinya, karna para bawahan gue bakal berani bertindak sesuka mereka, tanpa ada perintah dari gue.


  Tiba-tiba saja, ponsel gue berdering dengan keras. Gue langsung mengambil ponsel itu dari dalam saku jas gue.


  "Loh? ngapain tuh bocah nelpon gue?" gumam gue saat melihat layar ponsel gue.


  "Namanya belum gue ganti lagi, dasar!!" gerutu gue, lalu mengangkat telponnya.


  "Kenapa?"


  "Lu bisa datang ke kamar gue, gak?"

__ADS_1


  "Ngapain? lu aja yang kesini, mager gue."


  "Tolong...gue butuh lu banget..."


  Saat gue mendengar ucapannya, gue langsung memutuskan telponnya. Gue kira, terjadi sesuatu sama tuh cewek. Makanya gue langsung berlari keluar kamar, dan menerobos masuk ke kamarnya.


  "Kenapa?!" tanya gue ke Jessica yang berdiri di depan meja riasnya sambil memegang perutnya.


  "Itu..." jawabnya.


  Gue langsung menghampirinya, lalu bertanya. "Lu sakit?"


  "Bu-bukan...gu-gue..."


  "Gue apa, sih?!!!" geram gue.


  "Gue datang bulan!!!" teriaknya.


   "Apa? datang bulan?" tanya gue.


  "I-iya, lu bisa bantuin gue beliin pembalut, gak?" jawabnya.


  "Pembalut? lu nyuruh gue buat beli pembalut? lu gila atau gimana?!!" kesal gue.


  "Tolong lah...gue butuh banget nih. Please..." bujuknya.


  "Ogah!!!" tolak gue.


  "Pleass....bantuin gue, ya..." bujuknya dengan mata yang berbinar-binar.


  "Argh!! serah lu!!" geram gue dan sontak keluar dari kamarnya.


  "Ada apa, Tuan?" tanya Jordan.


  Saat sampai di basement, gue langsung masuk kedalam mobil, begitupun Jordan.


  "Kita akan pergi kemana, Tuan?" tanya supir itu.


  "Itu...ke...ke tempat yang menjual pembalut wanita!" jawab gue ragu.


  "Hah?!!" sahut mereka sambil menengok kearah gue.


  "Kenapa? cepat jalan!!" perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya, dan mobil pun mulai berjalan.


  *Tuh cewek memang taunya nyusahin mulu, heran!!* batin gue.


  Tak lama kemudian, kami pun sampai di tempat perbelanjaan. dengan terpaksa, gue akhirnya keluar dari mobil.


  "Mari, Tuan." ucap Jordan, dan gue pun langsung melangkah masuk, diikut oleh Jordan di belakang gue.


  Baru selangkah gue masuk kedalam tempat itu, gue langsung menjadi pusat perhatian.


  *Baru kali ini gue kesini, woi!!! Astaga!!* batin gue.


  "Dimana di letakkan benda itu?" bisik gue ke Jordan.


  "Disitu, Tuan." jawabnya sambil menunjuk ke sisi kanan gue.


  Gue pun langsung melangkah ke sana dengan perasaan yang campur aduk, antara malu dan juga marah.


  Saat sampai di tempat itu, gue di buat terkejut dengan semua jenis benda itu yang ada di depan mata gue.

__ADS_1


  "Kenapa banyak banget, sih?!! gue harus beli yang mana?" gerutu gue.


  "Apa ini untuk Nona Carmelia, Tuan?" tanya Jordan.


  "Iya." jawab gue.


  "Apa Nona tidak memberitahu merek apa yang Ia pakai?"


  "Memang penting, ya?" tanya gue.


  "Setau saya, setiap wanita memiliki selera mereka sendiri. Apalagi itu bersangkutan dengan apa yang akan Ia pakai, apalagi wanita seperti Nona. Saya khawatir, Ia sangat pemilih." jelasnya.


  "Beli semua yang ada disini!!" perintah gue.


  "Tapi, Tuan. Ini terlalu banyak." sambungnya.


  "Bagaimana kalau kita membeli masing-masing 1 setiap mereknya. Biar nanti, Nona yang memilihnya langsung." sarannya.


  "Baiklah, lakukan apapun yang menurut mu benar." jawab gue.


  "Baik, Tuan." ucapnya dan langsung pergi mengambil benda itu dan di letakkan di troli belanjaan.


  *Sumpah!! malu banget, astaga!!* batin gue yang tidak tahan dengan tatapan para wanita.


  Gue hanya bisa menutup wajah gue dengan satu tangan gue saja.


  Tak lama kemudian, Jordan pun kembali dengan membawa 2 troli yang berdiri benda itu dan juga beberapa barang lainnya.


  "Semuanya sudah di beli, Tuan." lapornya.


  "Apa ini?" tanya gue sambil memegang sebotol minuman.


  "Itu obat pereda nyeri, Tuan. Tadi saya di bantu oleh karyawan disini, katanya wanita selalu meminum itu saat Ia sedang datang bulan." jelasnya.


  "Lalu, itu apa?" tanya gue lagi sambil menunjuk benda lainnya.


  "Oh...itu seperti kompres yang sering di pakai saat demam, tapi benda itu di pakai para wanita jika sedang datang bulan, agar rasa nyerinya berkurang." jelasnya.


  "Terserah, terserah. Cepat bayar, dan bawa ke mobil. Aku akan menunggu di mobil saja." perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya.


  Gue pun langsung berjalan keluar dari tempat itu, dan bergegas masuk ke dalam mobil.


  "Dimana Jordan, Tuan?" tanya Pria itu.


  "Dia masih di dalam, tunggu saja." jawab gue.


  "Baik, Tuan." balasnya.


  "Oh ya, apa aku boleh pertanya?" sambung gue.


  "Tentu saja, Tuan."


  "Apa kebutuhan para wanita saat sedang datang bulan, memang sangat banyak?" tanya gue.


  "Oh...itu tergantung dari setiap wanita, Tuan. Kalau pacar saya, dia tidak membutuhkan banyak hal. Tapi, Ia terkadang lebih sensitif dari biasanya, dan juga Ia jadi berubah sangat manja karna perutnya yang terkadang sakit. Jadi, saya selalu berusaha untuk ada disisinya." jelasnya.


  Gue yang mendengar itu, hanya bisa terdiam saja. Karna bingung sekaligus heran.


  *Memang sesakit apa sih kalau lagi datang bulan? aneh banget, dah!* batin gue.


  Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2