Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Kantor Polisi


__ADS_3

Udah 30 menit berlalu, dan sampai sekarang Marcel belum.kembli untuk menjemput gue. Gue bingung harus melakukan apa, gue ingin menunggu sedikit lagi.


Tapi Marcel sudah memberi gue pesan, untuk kabur dari Markas ini setelah 30 menit. dengan terpaksa, gue pun langsung menyalakan senter dari ponsel yang di berikan Marcel sebelumnya, lalu mulai melangkah dengan perlahan.


Gue menengok ke kanan kiri, tidak ada apapun di dalam ruangan itu. Ruangan ini malah tidak layak untuk di sebut ruangan, lebih tepatnya ini seperti sebuah lorong yang memiliki beberapa jalur yang berbeda.


Marcel bilang, gue hanya perlu jalan lurus. Tapi, jalan yang lainnya sangat gue ketakutan karna tidak ada satupun cahaya di dalam ruangan itu kecuali cahaya dari ponsel Marcel.


Setelah berjalan cukup lama, gue akhirnya sampai di depan pintu yang di katakan oleh Marcel. Dengan rasa takut, gue pun membuka pintu itu dengan perlahan.


dan benar saja, saat gue keluar dari ruangan gelap itu, ada 2 kendaraan yang berbeda sesuai dengan apa yang Marcel katakan sebelumnya.


Jujur saja, gue sama sekali gak bisa mengendarai mobil ataupun motor. dan lagi, Marcel tidak memberikan kunci mobil ataupun motor ke gue sebelumnya.


Gue yang udah bingung, malah tambah bingung karna tidak tau dimana kunci kedua kendaraan itu. Gue pikir, mungkin ada di sekitar gue dan gue pun mulai mencari-cari kunci itu dengan cepat.


Awalnya gue udah putus asa karna tidak menemukan barang yang gue cari. Tapi ternyata, saat gue berbalik dan menatap pintu itu ada 2 kunci yang di gantung di pintu itu.


"Kenapa dari tadi gue gak ngeliat, sih!?" gerutu gue lalu bergegas mengambil kedua kunci itu.


"Hm...sekarang gue harus apa? apa gue pilih motor aja? gue kan bisa naik sepeda, pasti motor bisa. Tapi...kalau gue jatuh, gimana?" oceh gue.


"Ah!! sudah lah! pilih mobil aja, setidaknya kalau sampai nambrak sesuatu gue masih aman di dalam mobil." ucap gue, dan meletakkan kunci motor itu kembali, lalu langsung masuk ke dalam mobil itu.


Saat di dalam mobil, setelah memasang sabuk pengaman gue langsung menyalakan mobil itu.


"Huh...kalau umur gue masih panjang, mau gue kecelakaan atau apapun pasti gue masih bisa hidup, kan?" ucap gue yang ragu untuk menginjak gas.


"Malaikat maut, tolong jangan langsung ambil nyawa gue. Gue masih muda banget, please..." pinta gue, lalu menginjak gas dan mulai berkendara.


Kemampuan mengemudi gue sangat muruk, benar-benar muruk. Gue terkadang lupa dimana letak gas dan juga rem yang ada di bawa kaki gue, bukan hanya itu. Gue malah menerobos lampu merah, dan sekarang malah bermain kejar-kejaran bersama polisi.


Gue takut di tangkap, yang bisa saja membuat gue di hukum saat orang tua gue tau. Disisi lain, gue juga takut sama polisi yang gak berhenti berteriak dan mengejar gue dari belakang.


Karna kekhawatiran gue yang berlebihan sampai-sampai gue gak bisa fokus berkendara, dan malah menabrak toko orang yang ada di pinggir jalan.


"A-aduh...kepala gue..." ringis gue.


Gue langsung membuka pintu mobil itu, lalu melangkah keluar sambil memegang kepala dengan tangan kanan gue. Tapi baru saja gue keluar dari mobil, polisi malah menangkap gue dan menarik gue dengan paksa masuk ke dalam mobil polisi itu.


Anehnya, tangan gue gak di borgol sama tuh polisi. Selama di perjalanan, kedua polisi itu sesekali melirik kearah gue, entah apa yang sedang mereka pikirkan tentang gue.

__ADS_1


Gue baru teringat dengan perkataan Marcel yang lainnya, Ia menyuruh gue untuk menelpon Jordan dan ponselnya. dan untungnya saja, ponsel Marcel ada di saku jas gue.


"Hm...permisik, Pak." tegur gue.


"Ya? Kenapa?" tanya salah satu dari polisi itu.


"Apa saya boleh menelpon seseorang?" Tanya gue.


"Tidak!" jawabnya.


"Tapi, Pak. saya harus menghubungi orang yang punya mobil itu, sekarang." sambung gue


"Nanti, saat sampai di kantor polisi." ucapnya.


"Ayolah, Pak. Saya mohon...kalau saya tidak segera menelpon orang itu, saya bisa kena marah nanti." mohon gue.


"Hah...baiklah, saya beri waktu 3 menit." jawabnya.


"Terima kasih banyak, Pak." balas gue, dan labgsung menelpon Jordan.


Tapi anehnya, tidak ada yang menjawab telpon gue. Gue berkali-kali mencoba, tapi nihil, tetap tidak ada jawaban dari Marcel ataupun Jordan.


"Semoga di baca..." gumam gue.


Tak lama kemudian, polisi itu berhenti tepat di depan kantor polisi. dan memaksa gue keluar dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam kantor polisi itu.


*Ternyata begini suasana di dalam kantor polisi.* batin gue sambil melihat ke sekeliling.


Gue tiba-tiba di paksa duduk, di depan meja dan di balik belakang meja itu ada polisi yang mungkin akan mengajukan banyak pertanyaan ke gue.


"Halo, Pak." sapa gue sambi tersenyum.


"Halo, siapa nama mu?" tanyanya.


*Nama yang asli atau palsu?* batin gue.


"Kenapa diam aja?" tegurnya.


"Nama saya Carmelia." jawab gue.


"Oke...Carmelia apa kamu tau apa kesalahan mu?" tanyanya lagi sambil menulis sesuatu lalu kembali menatap gue..

__ADS_1


"Menurut Bapak kenapa? cantik-cantik gini kok di bawa ke kantor polisi, gak liat nih muka polos saya."


"Saya serius!"


"Bapak kira saya becanda? saya juga serius, kali."


"Hah...terserah, sekarang telpon orang tua kamu."


"Tapi orang tua saya sibuk, gimana dong pak?"


"Putrinya dalam masalah, masa pekerjaannya gak mau di tinggal?"


"Orang tua saya memang kayak gitu, Pak. Gimana kalau nunggu wali saya yang lainnya?"


"Memang siapa?"


"Saya gak boleh ngasih tau namanya sembarangan, tapi...nanti dia datang kesini kok, saya yakin."


"Cantik-cantik kok gak jelas."


"Makasih pujiannya." ucap gue sambil tersenyum.


"Isi data diri mu." sambung Polisi itu sambil memberikan gue selembar kertas.


"Oke, Pak." jawan gue sambil menerima kertas itu.


Gue pun meletakan kertas itu di atas meja, lalu mengambil pulpen dan mulai mengisi data diri gue dengan asal-asalan. Kenapa? karna, gue nyebutin nama palsu gue bukan nama asli. Jadi, data pun harus palsu.


"Oh iya, Pak. saya boleh nanya?" sahut gue.


"Apa?" tanyanya.


"Kenapa polisi hobinya ngejar orang, sih?" tanya gue.


"Kami gak bakal mengejar kalau kalian gak lari duluan, coba aja kalian langsung nyerahin diri, gak ada tuh acara kejar-kejaran kayak tikus sama kucing." jelasnya.


"Gimana kita gak lari, kalau Bapak polisiny nyeremin. Malah bawa senjata lagi, saya sebagai cewek pasti takut lah!" protes gue.


Tiba-tiba saja ada suara keributan dari luar, gue kira itu cuma pelaku kejahatan saja yang ingin melarikan diri. Tapi, tiba-tiba saja ada yang meneriaki nama gue.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2