Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Perkelahian Antar Mark dan Bryan


__ADS_3

  Tinju yang bagi Mark itu bukan apa-apa, Ia malah menahan tangan Bryan dan sekali lagi memukul Bryan.


  Tapi, tanpa gue sadar. Ternyata salah satu dari teman Bryan, malah memukul punggung Mark dengan balok kayu, yang entah Ia dapat dari mana.


  *Anjir!! bego banget sih nih bocah.* batin gue.


  Dorrr!!


  Suara tembakan yang membuat semua orang terkejut. Gue langsung mencari siapa yang telah menempak teman Bryan itu.


  dan ternyata orang itu adalah Dika yang datang entah dari mana dengan motornya.


  *Lah? ngapain tuh bocah kesini, sih?!!malah tambah narik perhatian orang lagi!* batin gue.


  "Maaf saya telat menjemput anda." ucap Dika kepada Mark.


  "Tidak apa, berikan senjata mu." jawab Mark.


  "Ini." balas Dika sambil memberikan pistolnya itu ke Mark.


  *Kenapa dikasih?!! lu mau bikin gue dapat masalah, hah?!! Astaga!!* batin gue yang sudah tidak tahan untuk menyuruh mereka berhenti.


  Mark sontak menyodorkan senjata itu ke arah Bryan dan berkata. "Kalian harus mendapatkan hukumannya."


  "Stop!!!" teriak gue.


  Semua orang sontak menatap gue, dengan tatapan bingung sekaligus terkejut.


  *Astaga! kenapa gue teriak, sih!* batin gue.


  "To-tolong berhenti, maafin teman-teman saya. Tolong lepasin mereka, Om. Satu teman saya sudah anda tembak, kasian keluarga mereka." mohon gue sambil memelas.


  "Tapi dia sudah memukul Anda, mereka pantas mati!" jawab Mark.


  "Jangan!! mereka hanya bercanda saja, maafkan mereka." sambung gue sambil menatap Mark seperti memberikannya isyarat.


  "Baiklah." jawabnya.


  "Te-terima kasih." balas gue.


  "Kalian cepat bawa teman kalian ke rumah sakit, sebelum terlambat. Buruan!!" ucap Gue ke Bryan dan juga temannya yang lain.


  Tanpa menjawab apapun, mereka langsung menggotong teman mereka itu, dan pergi dari hadapan kami.


  "Akhirnya." gumam gue.


  Mark sontak berjalan menghampiri gue, begitupun Dika.


  "Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Mark pelan.


  "Tidak perlu memperdulikan ku, kalian pergi lah!" bisik gue dan sontak mengambil tas gue, dan juga sepeda gue, lalu pergi dari hadapan Mark dan juga Dika.


  Gue langsung bergegas pulang, dengan keadaan yang sangat berantakan.


  Saat sampai di rumah, gue lngsung berlari menuju kamar gue. Agar tidak ada yang melihat keadaan gue, yang akan membuat mereka khawatir, dan melapor ke pihak sekolah.


  Saat di kamar, gue langsung membersihkan diri gue, dan mengobati sedikit luka gue.

__ADS_1


  Untung saja, tidak ada Rizky di rumah. Jika ada, mungkin dia bakal memaksa masuk ke kamar gue lagi.


  Tapi tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu gue, dan berkata. "Reyhan, kamu ada di dalam?"


  "Iya, Bu. Kenapa?" sahut gue.


  "Ibu ada acara malam ini sama ayah kamu, kamu mau ikut atau gak? soalnya Ibu bakal pulang larut malam." jawabnya


  "Gak, Bu. Reyhan dirumah aja." sambung gue


  "Yasudah, kalau kamu mau makan malam. Pesan aja ya, nanti Ibu ganti uang kamu." ucapnya.


  "Iya, Bu."


  "Ibu pergi dulu ya." pamitnya.


  "Iya, Bu. Hati-hati."


  Gue sontak membaringkan tubuh gue ke atas kasur, sambil menghela nafas panjang.


  Gue baru teringat sesuatu, gue pun langsung meraih ponsel gue yang ada di dekat gue, dan langsung menelpon Jordan.


  "Halo."


  "Ada apa, Tuan?"


  "Apa kamu sudah memberitahu gadis itu, dimana tempat untuk menjemputnya?"


  "Sudah, Tuan. Saya memilih tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Karna yang akan menjemputnya adalah Dika, jadi kita bisa mengamankan gadis itu."


  "Baiklah, jangan biarkan seseorang tau jika gadis itu memiliki hubungan dengan Mafia. Termaksud orang tuanya, jika ada yang mengetahui atau melihatnya sedang bersama Dika dan masuk ke markas. Langsung bunuh saja."


  "Baik, Tuan."


  "Oh ya, apa Mark dan Dika sudah berada di markas?"


  "Iya, Tuan. Mereka baru saja sampai."


  "Saya dengar, mereka baru saja membuat masalah dengan teman-teman sekolah anda."


  "Hah...mereka bukan teman ku. Mark tidak sengaja lewat, saat melihat gue sedang di pukuli dengan mereka."


  "Apa benar anda di pukuli? kenapa anda tidak menyuruh kami untuk membunuh keluarganya saja?"


  "Kalau aku mau, aku langsung membunuh mereka. Tapi apa kamu tau? Siapa orang tua bocah itu?"


  "Dia siapa, Tuan?"


  "Apa kamu bertanya dengan ku, Jordan? aku saja tidak mengetahuinya, bukannya itu tugas mu untuk mencari tau segalanya yang aku butuhkan, Jordan?"


  "Maafkan saya, Tuan. Biar saya cari tau, apa anda bisa memberitahu saya siapa nama anak itu?"


  "Bryan Glen."


  "Glen? bukannya itu marga keluarga Pria yang pernah menyuruh Anda menjadi pembunuh bayaran?"


  "Pria yang mana? aku lupa, terlalu banyak yang menyuruh ku langsung untuk membunuh orang."

__ADS_1


  "Saya akan menjelaskannya saat kita bertemu, Tuan."


  "Hah...baiklah."


  "Kalau begitu, bersiaplah untuk menjemput ku. dan juga perintahkan Dika untuk langsung menjemput gadis itu, dan berikan gadis itu pakaian yang sama seperti semalam."


  "Baik, Tuan."


  Gue langsung memutuskan telpon itu, dan sontak berdiri lalu berjalan menuju lemari pakaian gue.


  Gue pun memakai pakaian gue dengan santai, tanpa terburu-buru. Setelah selesai gue pun langung mengambil pakaian yang gue pakai semalam dan gue masukkan kedalam tas belanjaan, agar Jordan bisa langsung mengantarkannya ke tempat laundry.


  Setelah selesai, gue pun langsung melangkah menuju pintu rahasia gue. Lalu membukanya, dan melangkah keluar dari kamar gue itu.


  "Selamat malam, Tuan." sapa Jordan.


  "Ambil ini!" ucap gue sambil memberikan tas belanjaan itu kepada Jordan.


  "Apa ini pakaian semalam, Tuan?" tanyanya.


  "Iya." jawab gue dan langsung menutup rapat pintu gue.


  "Ayo!" sahut gue lalu sontak melangkah menuju mobil, dan diikut oleh Jordan.


  "Apa Dika sudah menjemput Gadis itu?" tanya Gue sambil masuk ke dalam mobil.


  "Sudah, Tuan." jawabnya.


  "Yasudah, cepat masuk!!" sambung gue.


  "Baik, Tuan." balasnya dan langsung menutup pintu mobil, lalu melangkah masuk ke dalam mobil.


  Mobil pun mulai bergerak, gue langsung bersantai sesantai-santainya agar saat di markas gue tidak terlalu menyiksa Mark dan Dika yang telah mmbuat masalah.


  "Oh ya, bagaimana tentang pria yang kamu bilang tadi?" sahut gue.


  Jordan sontak memberikan gue tabletnya, dan di layar tablet itu ada 1 foto pria dan juga beberapa identitas pria itu.


  "Loh? bukannya ini pria yang menyuruh ku untuk membunuh Presiden?" ucap gue terkejut, saat melihat pria itu.


  "Iya, Tuan. Dia yang menyuruh Anda untuk membunuh Presiden, tapi pria itu menolak saat anda menyuruh ke 5 bawahan pribadi anda."


  "Ya, aku ingat itu. Dia sampai berani membayar 500 miliyar, hanya untuk menyuruh ku langsung turun tangan."


  "Tapi sayang, aku menolaknya. Tidak heran bocah itu sangat liar, orang tuanya saja seperti ini. Cih..."


  "Apa saya perlu membunuh mereka, Tuan?" sambung Jordan.


  "Tidak perlu." jawab gue sambil memberikan kembali Tablet itu ke Jordan.


  "Tapi kenapa, Tuan? Dia sudah berani melukai anda, anda yang seorang pemimpin Mafia." tanyanya.


  "Tidak, ada alasan untuk tidak membunuhnya. Aku hanya ingin membiarkan Putranya menjalani hidupnya seperti biasa..." ucap gue.


  "Seperti seseorang yang bodoh, berpura-pura seperti dialah yang paling ditakuti di dunia ini. Cih...menjijikan." lanjut gue.


  Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2