
MARCEL POV*
Saat sampai di kediaman keluarga Dermi, gue sudah merasa tidak senang. Kenapa? tentu saja karna Putrinya itu, dan pasti Tuan Dermi selalu menyingung soal pernikahan.
Setelah pintu mobil di buka oleh Jordan, gue pun melangkah keluar dari mobil dan menatap rumah itu dengan wajah yang kurang mengenakkan.
"Mari, Tuan." ucap Jordan.
Gue pun melangkah masuk kedalam rumah itu. Saat di dalam, gue sudah di sambut oleh para pelayan rumah itu. Dan tentu saja ada kepala pelayan yang berdiri di depa gue.
"Selamat malam, Tuan Anggara." sapanya sambil membungkukkan tubuhnya sekilas.
*Wah...giliran sekarang dia menyebutku dengan nama itu, menjijikan!* batin gue.
"Tuan Dermi sudah menuggu anda di meja makan, Tuan. Mari saya antar." ucapnya lalu mulai melangkah.
Gue mengikutinya dari belakang bersama Jordan. Mungkin karna sudah cukup lama tidak berkunjung kemari, Gue merasakan atmosfer yang cukup berbeda dengan yang terakhir kali gue rasakan.
*Gue cuma mau kembali dan tidur di pangkuan Jessica.* batin gue.
Sebenarnya ada hal yang gue tidak sukai dengan keluarga Dermi. Gue tau keluarga Dermi adalah keluarga yang tidak terlalu jauh hebatnya dengan keluarga Anggara, tapi Karna Tuan Dermi dan Tuan Anggara berteman dekat. Tuan Dermi malah bersikap bahwa keluarga lebih unggul dari keluarga Anggara.
Dan lagi, disaat gue di bawa ke Markas dan di perkenalkan oleh Tuan Dermi. Pria itu menentang keberadaan gue, karna gue Putra dari keluarga yang tidak memiliki apapun dan terlahir dari kalangan biasa saja. Tapi untuknya Tuan Anggara tidak membuang gue, dan malah mengangkat gue sebagai anak angkatnya dan mewarisi gelar pemimpin mafia ke gue.
Jujur saja, ada rahasia yang selama ini tidak di ketahui oleh Tuan Anggara. Alasan kenapa Tuan Dermi menolak gue, karna Ia tidak ingin ada seorang pun yang menjadi pemimpin Mafia selanjutnya kecuali dirinya. Mengapa? sebab dia menginginkan kekuasaan yang belum Ia miliki dan lagi Harta keluarga Anggara 2 kali lebih banyak dari keluarga Dermi.
Dan karna itu lah dia tidak menginginkan seseorang menggantikan posisi pemimpin Mafia selain dirinya. Tapi sialnya Pria itu, Tuan Anggara malah memberikan semua yang menjadi memiliknya ke Gua. Dan akhirnya gue yang mejadi pemimpin Mafia setelah Tuan Anggara dan menjadi satu-satunya pewaris dari semua kekayaan milik Tuan Anggara.
Tidak sampai disitu saja, setelah gue menjadi pemimpin Mafia. Gue meningkatkan harta keluarga Anggara 5 kali lipat dari keluarga Dermi, dan itulah alasan Ia selalu mendekatkan Putrinya ke Gue. Agar saat menikah nanti, Ia bisa merampas semua harta keluarga Anggara dengan beralaskan pembagian hak Istri.
*Bisa-bisanya gue ketemu sama orang kayak dia, gila duit!* batin gue.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya sampai juga di ruang makannya. Gue langsung di suruh duduk di kursi tepat di samping Angel, sedangkan Jordan hanya berdiri saja di belakang gue.
__ADS_1
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Marcel. Bagaimana kabar mu?" tanya Pria tua itu.
"Sangat baik." jawab gue santai tanpa menatapnya.
"Oh...hahaha..." tawa Pria itu dan entah karna apa.
"Tuangkan wine nya." perintah Pria itu kepada pelayan yang ada di sekeliling meja makan itu.
Saat Wine itu sudah selesai di tuangkan di gelas yang ada di hadapan gue, gue langsung memberi Jordan Isyarat untuk mengecek wine itu.
Jordan pun langsung mengambil gelas itu, lalu mulai mengeceknya dengan kertas yang di buat khusus untuk mengecek apakah Wine itu ada campuran yang bisa membuat gue dalam bahaya atau tidak.
"Wah, wah...padahal aku hanya mengundang mu makan malam saja, mana mungkin aku membunuh mu disini jika banyak bawahan mu yang menjaga." oceh Pria itu.
Mendengar ocehannya itu, Gue langsung menengok dan menatapnya dengan senyum miring lalu berkata. "Walaupun anda tidak bermaksud untuk membunuh saya, tapi sudah tugas sekretaris saya untuk mengecek semua makanan ataupun minuman yang akan saya konsumsi."
"Hohoho... sekretaris mu benar-benar rajin." pujinya.
Tiba-tiba saja Jordan meletakkan kembali gelas itu di depan gue, dan berkata. "Tidak ada campuran lain dalam wine itu, Tuan."
"Baiklah." jawab gue lalu mengambil gelas itu, dan langsung meminumnya sedikit.
"Haha...padahal saya belum mengizinkan anda untuk minum." sahut Pria tua itu.
"Dimana tata krama mu di depan orang yang lebih tua?" sambung Istrinya.
Mendengar hal itu, gue sama sekali tidak tersinggung walaupun hanya sedikit. Gue langsung meletakkan kembali gelas itu, lalu menatap mereka berdua.
"Bukannya di antara keluarga Anggara dan Dermi selalu keluarga Anggara yang meminum minuman lebih dulu? walaupun belum di beri izin untuk minum." ucap gue lalu menyeringai menatap Pria Tua itu.
Entah apa yang Ia pikirkan, tapi bisa di lihat dengan jelas dari wajahnya kalau dia membenci peraturan itu. Kenapa? karna itu mengingatkannya bahwa keluarga Anggara berada di atasnya.
"Tuan Dermi? kenapa anda diam saja? apa anda sakit?" tegur gue dan menatapnya dengan wajah yang pura-pura khawatir.
__ADS_1
"Hah? tidak, Tuan Anggara. Mana mungkin saya sakit, hahah..." jawabnya.
"Haha...saya juga berharap anda tidak pernah sakit." ucap gue.
*Karna lu lebih baik langsung mati dari pada sakit dulu.* batin gue yang tersenyum kepada Pria tua itu.
"Oh ya, saya dengar dari Putri saya. Kalau anda mempunya seorang gadis spesial di markas anda, apa itu benar?" tanyanya.
*Udah gue duga.* batin gue.
"Oh...gadis mana yang anda maksud? saya memiliki banyak gadis di markas." tanya gue balik.
Pria itu tampak bingung dan langsung menatap ke Angel yang mulai tadi hanya diam saja.
"Saya dengar namanya Jessica." sambungnya yang membuat gue terkejut, tapi berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi terkejut gue.
*Astaga!! gue lupa, kalau gue nyebut nama asli Jessica tadi. Haduh! goblok banget sih lu, Cek!* batin gue.
"Tuan? kenapa anda diam saja?" tegurnya dengan senyum liciknya.
"Sebelumnya saya ingin memberitahu, di markas saya tidak ada gadis yang bernama Jessica. benarkan Jordan?" ucap gue.
"Benar, Tuan. Dari sekian banyak gadis di markas, tidak ada satupun yang bernama Jordan." jawab Jordan, dan untungnya saja Jordan mengerti dengan situasi sekarang.
"Lalu siapa wanita itu!? kenapa kamu malah menyusulnya saat sedang bersama ku!!?" sahut Angel yang menatap gue dengan ekspresi marah.
*Sekarang atau nanti, mereka pasti bakal tau keberadaan Jessica. Jadi, beritahu sekarang saja.* batin gue.
"Dia adalah Carmelia, dia Nona di markas ku. Mana mungkin aku mengabaikan Nona ku saat Ia baru tiba di markas. Dan lagi, dia gadis yang akan menjadi Pemimpin Wanita." jelas gue.
Gue yakin yang gue katakan itu membuat Jordan terkejut. Gue juga cukup terkejut dengan pengakuan gue ini. Gue baru sadar kalau Jessica cukup penting di hati gue, dan gue mau dia yang menjadi pemimpin wanita bukan malah Angel.
Bersambung
__ADS_1