Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Luka Di Tubuh Jessica


__ADS_3

  Bukan hanya wajah, dan lengan kanannya saja. Tapi seluruh tubuhnya menuh dengan luka.


  "To-tolong...jangan dilihat." ucapnya sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


  Tanpa sadar, gue mengulurkan tangan gue, lalu mengelus tubuh bagian depannya.


  "Kenapa lu sembunyiin ini?" tanya gue.


  "I-ini bukan masalah besar." jawabnya.


  Gue yang mendengar itu, sontak berhenti menyentuh tubuhnya lalu menatap gadis itu.


  "Bukan masalah besar!!? ini udah keterlaluan!! kenapa mereka mukul lu? kenapa lu di siksa? apa lu berbuat salah, hah!!?" geram gue.


  "Jawab gue!! jangan diam aja!!" lanjut gue.


  "Gue yang salah, gue salah karna udah lahir di Dunia ini. Seharusnya gue gak pernah ada di Dunia ini, seharusnya gue yang mati, bukan kakak gue. Gue salah! gue yang salah!" racaunya.


  Gue gak ngerti apa yang Jessica maksud, gue hanya bisa menariknya ke dalam pelukan gue saja.


  "Tenang...itu bukan salah lu, lu gak salah karna lahir di Dunia ini." ucap gue sambil mengelus rambut gadis itu.


  "Lu boleh nangis, jangan di tahan. Nangis itu wajar, kalau lu benar-benar lelah sama keadaan lu." lanjut gue.


  Suara tangisan Jessica mulai terdengar, Ia melepaskan air mata yang mungkin mulai tadi Ia tahan. Gue hanya bisa terus mengelus rambut gadis itu, agar Ia bisa sedikit tenang.


  Jujur saja, baru pertama kali gue denger suara tangisan sesedih dan sesakit ini. Sampai-sampai gue juga merasakan kesedihan yang di rasakan Jessica.


  Setelah beberapa menit dia menangis, akhirnya Ia bisa berhenti menangis. Gue langsung melepas pelukan gue, lalu menatap matanya.


  "Kayaknya bakal bengkak deh." ucap gue.


  "Lu harus di obati dulu, ya? biar luka lu gak bebekas." lanjut gue.


  "Jordan!!" panggil gue.


  "Ada apa, Tuan?" sahutnya setelah Ia masuk ke dalam kamar ini.


  Gue baru sadar, kalau Jessica tidak mengunakan pakaian, dan Jordan malah menatap Jessica, bukannya menatap gue.


  "Apa kamu sudah tidak sayang mata mu, Jordan!?" ancam gue sambil tersenyum.


  "Hah!? ti-tidak, Tuan. Maafkan kelancangan saya, Nona." ucapnya dan langsung menunduk.


  "Apa Dokter itu sudah datang?" tanya gue.


  "Sudah, Tuan." jawabnya.


  "Suruh dia masuk!" perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawabnya, lalu keluar dari kamar ini tanpa menegakkan kepalanya.


  "Gimana caranya biar tuh dokter gak ngeliat tubuh lu, pas di periksa?" tanya gue sambil menatap tubuh Jessica.

__ADS_1


  "Lu juga jangan liat, dong!" protesnya sambil menutup mata gue dengan tangannya.


  "Lu tau, gak? tadi gue udah bayar 100 miliyar, biar bisa pinjam lu. Tapi, lu malah gak ngizinin gue ngeliat tubuh lu." sambung gue setelah menurunkan tangan Jessica dari mata gue.


  "Lu minjam gue!!?" geramnya.


  "Iya lah, lu pikir gue gampang bawa lu kesini tanpa di curigai, gitu!?" jawab gue.


  Tapi tiba-tiba saja, kepala gue malah di pukul sama Jessica.


  "Lu pikir gue barang, apa!!? pakai pinjam-pinjam, mana di bayar lagi!" protesnya.


  "Lu kan memang barang." canda gue.


  "Pala lu barang!!" geramnya.


  "Selamat malam, Tuan." sahut Dokter itu.


  Gue langsung menengok kearahnya, lalu berkata. "Cepat periksa gadis ini!"


  "Baik, Tuan." jawabnya, lalu melangkah kearah kami.


  Gue pun berdiri, dan membiarkan Dokter itu menggantikan posisi gue untuk duduk di depan Jessica.


  "Apa anda habis di pukuli, Nona?" tanya Dokter itu.


  "I-iya." jawab Jessica.


  "Hey!!" panggil gue.


  "Apa kamu bisa menutup mata mu? aku tidak suka jika kamu melihat tubuhnya." ucap gue.


  "Apa anda sedang bercanda, Tuan? bagaimana bisa saya memeriksa Nona, jika saya menutup mata saya?" sambungnya.


  "dan lagi, saya sudah sering melihat tubuh wanita jika sedang dalam pemeriksaan." lanjutnya.


  "Aku tidak bertanya!" celetuk gue.


  "Terserah Tuan saja." jawabnya.


  "Permisi , Nona." ucap Dokter itu, dan langsung memerika luka-luka yang ada di tubuh gadis itu.


  *Rasanya, mata sama tangan itu mau gue lepas dari tubuhnya.* batin gue sambil menatap tajam Dokter itu.


  Setelah menunggu lama, akhirnya Pria itu setelah memeriksa Dina.


  "Bagaimana?" tanya gue.


  "Ada beberapa luka yang masih baru, tapi ada beberapa juga luka yang sepertinya sudah sangat lama, dan itu masih berbekas di tubuh Nona." jelasnya.


  "Apa luka lama itu bisa hilang?"


  "Tidak, Tuan. Luka itu sudah sangat lama, dan sepertinya Nona tidak pernah mengobatinya."

__ADS_1


  "Saya akan memberikan obat dalam dan juga obat luar. Usahakan untuk memakai obat luar itu dengan teratur, agar luka yang baru di tubuh Nona bisa hilang tanpa bekas."


  "Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Jangan lupa untuk langsung mengirimkan obat itu kemari."


  "Baik, Tuan." jawabnya, lalu berdiri.


  "Saya izin undur diri." ucapnya sambil menunduk, lalu melangkah pergi.


  Gue langsung kembali duduk di atas ranjang tepat di depan gadis itu.


  "Kapan lu dapat luka itu?" tanya gue.


  "Hm...Saat kakak gue meninggal 9 tahun yang lalu." jawabnya.


  "Hah..." hela nafas gue.


  "Masih banyak pertanyaan yang harus lu jawab, tapi sekarang lu lebih baik istirahat." ucap gue.


  "Maaf, karna gue selalu ngerepotin lu." sambungnya.


  "Gak usah bilang maaf, sekarang lu ganti baju dan langsung istirahat." jawab gue.


  "Apa perlu gue bantuin lu ganti baju?" lanjut gue.


  "Gak usah, gue bisa sendiri." tolaknya.


  "Yasudah, gue keluar dulu. Kalau perlu apa-apa, panggil gue aja."


  "Iya."


  Gue sontak mengangkat tangan gue, lalu meletakkan di atas kepala gadis itu.


  "Tenang aja, gue bakal bawa lu keluar dari rumah itu." ucap gue serius, sambil mengelus puncak kepalanya.


  Gue pun turun dari ranjang, lalu melangkah keluar dari kamar itu.


  "Bagaimana dengan keadaan Nona, Tuan?" tanya Jordan.


  "Dia baik-baik saja." jawab gue.


  "Jordan!" sahut gue.


  "Ada apa, Tuan?" tanyanya.


  "Ada yang harus kita bicarakan sekarang." jawab gue.


  "Apa itu tentang keluarga Nona?" sambungnya.


  "Ya..." jawab gue.


  "Ikut dengan ku!" perintah gue dan langsung melangkah masuk keruangan gue, diikut oleh Jordan dibelakang gue.


  Saat di dalam ruangan, gue langsung duduk di sofa. Sedangkan Jordan berdiri di hadapan gue.

__ADS_1


  Bersambung


__ADS_2