
"Ada apa?" tanya gue saat sampai di kamar gadis itu dan berjalan kearahnya yang sedang duduk di atas ranjang.
Mendengar suara gue, Jessica sontak menengok dan menatap gue. Tapi saat gue ingin melangkah naik ke atas ranjangnya, tiba-tiba saja Jessica berkata. "Gue mau pulang."
Gue yang mendengar itu, sontak terdiam sebentar dan tidak jadi melangkah naik ke ranjangnya.
"Pulang? Maksud lu balik kerumah lu?" tanya gue.
"Iya!" jawabnya.
Mendengar jawaban itu, gue langsung terdiam sebentar dan menatap wajahnya yang menatap gue dengan serius.
"Haah..." hela nafas gue lalu berbalik dan melangkah kearah Jordan yang tidak jauh dari pintu kamar itu.
"Gadis itu ingin pulang, suruh para pelayan untuk membantunya mengganti pakaian lalu antarkan dia kembali kerumahnya." ucap gue pelan.
"Ta-tapi, Tuan... Ini baru pukul 8 malam, masih terlalu dini untuk mengembalikan Nona kerumahnya."
"Lakukan saja! Lalu...berikan salah satu kartu ATM ku kepadanya."
"Baiklah, Tuan." jawabnya sambil menunduk.
Gue pun melangkah keluar dari kamar itu menuju meja makan, dimana Vernon, Hendra, dan Andre menunggu ku.
Saat sampai di meja makan, ketiga Pria itu menyapa gue. Gue hanya membalas dengan sebuah senyuman kecil dan duduk di kursi milik gue.
"Tuan? Apa anda baik-baik saja? Kenapa wajah anda terlihat sedih?" tanya Hendra.
"Aku baik-baik saja. Kapan makanannya di sajikan?"
"Sekitar 10 menit lagi." jawab Vernon.
"Aku ingin segelas air." ucap gue.
Salah satu pelayan yang berdiri di belakang Vernon pun langsung mengambilkan gue segelas air dan meletakkannya di hadapan gue.
"Oh ya, Tuan. Dimana Jordan? bukannya tadi Ia ikut dengan anda?" sahut Andre.
"Dia mengantar Carmelia pulang." jawab gue sambil mengangkat gelas itu dan gue arahkan ke mulut gue.
"Secepat ini? Bukannya ini masih pukul delapan malam?" celetuk Vernon.
__ADS_1
"Pasti gadis itu yang meminta Tuan untuk mengantarkannya kembali kerumahnya, dia benar-benar merepotkan!" gerutu Andre.
"Dia memang merepotkan, tapi tidak lama lagi dia akan menjadi ipar mu." sambung Hendra.
"Diamlah!! Dia tidak akan pernah ku anggap menjadi bagian dari keluarga Anggara!" geram Andre.
Mendengar itu, gue sontak meletakkan gelas yang masih gue genggam ke atas meja dengan kuat. Dan membuat ketiga pria itu terdiam sambil menatap gue.
"Aku tidak melarang mu untuk membenci Gadis itu, tapi...jaga ucapan mu itu, Andre! Dan lagi...hilangkan keinginan mu untuk membunuh gadis itu!" sahut gue.
"Haha...aku memang tidak bisa menyembunyikan keinginan ku ini kepada Anda, Tuan~" ucap Andre sambil tersenyum puas
"Aku tidak ingin bertengkar dengan mu, jadi... bersikaplah seperti biasanya. Kalau memang kamu membenci gadis itu, menjauhlah darinya!!" tegas gue.
"Baiklah...aku akan berusaha, Tuan~" jawabnya.
Tak lama kemudian, makan malam pun mulai di sajikan di atas meja. Tanpa basa-basi lagi, kami pun langsung menyantap makan malam kami masing-masing dalam diam.
Setelah makan malam berakhir, gue lebih dulu pergi dari meja makan itu menuju kamar gue untuk meminum vitamin yang di berikan Hendra.
Saat gue berdiri di depan jendela kamar gue sambil menatap langit malam yang di penuhi para bintang dan juga bulan purnama.
Gue membuka lebar jendela itu dan menghirup udara segar sambil memejamkan mata.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" sahut seseorang dari belakang gue.
Gue langsung menengok kebelakang dan menatap Pria itu yang sedang berjalan kearah gue.
"Aku rasa, aku sudah menutup pintu ku." sindir gue dan kembali menatap keluar jendela.
"Maaf atas ketidaksopanan saya, saya hanya menghawatirkan anda." ucapnya.
"Aku baik-baik saja. Kembalilah...ini sudah malam, keluarga mu pasti mencari mu." jawab gue.
"Saya sudah bilang kepada istri saya, bahwa saya akan menginap di kastil malam ini."
"Oh..." jawab gue singkat.
"Tuan...jika anda merasa tidak baik-baik saja, katakan saja kepada saya. Saya akan mendengarkan keluhan anda." sambung Hendra.
Mendengar itu, gue langsung berbalik menatap Hendra, dan berkata."Aku benar baik-baik saja. Kamu boleh kembali, Hendra. Jika aku membutuhkan mu, aku akan langsung memanggil mu."
__ADS_1
"Baiklah, Tuan. Maaf telah menggangu waktu anda." ucapnya sambil menunduk.
Saat Hendra berbalik dan bersiap untuk melakukan pergi, gue sontak memanggilnya kembali dan membuat kembali berbalik menghadap gue.
"Apa yang kamu pegang itu?" tanya gue.
"Bukan apa-apa, ini hanya obat yang saya gunakan untuk membantu saya tidur." jawabnya.
"Hm...a-apa kamu bisa memberikan obat itu kepada ku?"
"Hah? Maksud anda, anda ingin saya menyuntikkan obat tidur ini ke anda?"
"Ya...aku ingin tertidur pulas malam ini."
"Ta-tapi, Tuan. Bukannya anda selalu melarang saya untuk memberikan obat tidur ataupun obat bius kepada anda? Dan lagi, obat ini berlangsung selama 8 jam."
"Tidak apa-apa, aku ingin beristirahat selama itu malam ini."
"Ta-tapi—"
"Tidak usah membantah lagi, cepat ikut aku!" potong gue lalu menarik tangan Hendra kearah ranjang.
Gue langsung berbaring dan Hendra berdiri tepat di samping gue. Gue menatapnya dan berkata. "Cepat lakukan! Aku ingin tidur sekarang!"
"Ba-baik, Tuan." jawabnya ragu dan mulai mengeluarkan sebuah suntikan kecil dari dalam saku jarnya dan menyuntikkan suntikkan itu ke dalam botol yang berisi cairan obat tidur itu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ia pun menyuntikkan jarum suntik itu ke lengan gue dan memasukkan cairan itu kedalam tubuh gue dengan perlahan.
Setelah jarum suntik itu keluar dari lengan gue, gue pun langsung menarik selimut dan menutupi separuh tubuh gue.
"Obat itu akan bekerja setelah 5 menit. Akan lebih baik anda minum segelas air lebih dulu, karna anda tidak bisa terbangun lagi sebelum efek obat itu berhenti bekerja."
"Tidak, aku memang menginginkan hal itu." tolak gue.
"Kamu boleh pergi sekarang, aku sudah mulai mengantuk sekarang."
"Haah...baiklah, Tuan. Saya akan melakukan pengecekan setiap 2 jam sekali, saya juga akan mengatakan hal ini kepada Andre dan Vernon."
"Terserah, yang penting jangan menggangguku."
"Yasudah, saya izin undur diri dulu." ucapnya lalu membungkuk sekilas dan berbalik melangkah keluar dari kamar gue.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama untuk efek obat itu bekerja. Sedikit demi sedikit, pandangan gue mulai memudar dan rasanya tubuh gue terasa sangat ringan. Dan tak lama, gue pun mulai tertidur.
Bersambung