
Setelah menceritakan hal itu, Hendra mendukung gue untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Dermi. Karna Ia juga sama dengan Jordan, yang berjanji hanya akan memihak gue yang berasal dari keluarga Anggara. Dan mau bagaimana pun keselamatan gue lebih penting dari pada apapun.
Obat yang gue butuhkan juga sudah ada di tangan gue, dan sekarang gue masih berada di rumah sakit bersama dengan Hendra.
Gue masih takut untuk kembali kemarkas dan harus menemui gadis itu, apalagi sampai harus melihat wajahnya yang menderita itu. Gue benar-benar takut untuk menemuinya lagi, kalau bisa gue ingin menghilang dari Dunia ini karna sudah menyakiti orang yang gue sayangi.
"Hah...rasanya aku ingin tidur di sini saja." ucap gue.
"Ini ruangan anda, tidur saja jika anda ingin. Tapi, akan lebih baik anda kembali dan melihat keadaan Nona. Saya harap Nona tidak memiliki trauma dengan apa yang anda lakukan kepadanya." sambung Hendra.
"Aku juga berharap seperti itu." Balas gue.
Tiba-tiba saja ponsel gue berdering dengan keras, gue pun mengambil ponsel gue dari dalam saku jas gue dan melihat siapa sang menelpon itu.
"Siapa, Tuan?" tanya Hendra.
"Jordan." jawab gue lalu mengangkat telpon itu.
"*Halo...ada masalah apa, Jordan?"
"Tuan, Nona menangis. Ia berteriak kesakitan dan Ia mengusir saya dari ruangan anda*."
Saat mendengar jawaban Jordan, Gue sontak berdiri dengan ekspresi yang terkejut.
"Tuan? ada apa?" tanya Hendra.
Gue tidak menjawab Pertanyaannya, gue malah mengambil obat yang ada di atas meja lalu berlari keluar dari ruangan gue menuju ke mobil gue.
Saat sampai di mobil, gue langsung berkendara dengan sangat cepat. Sangking cepatnya, gue sudah tidak bisa melihat gedung atau toko apa saja yang gue lewati, menerobos lampu merah dan hampir menabrak orang yang sedang menyeberang jalan. Gue benar-benar tidak memperdulikan hal itu, yang ada di pikiran gue hanya Jessica.
Setelah sampai di basment, gue langsung keluar dari mobil dengan kantonh kertas yang berisi obat untuk Jessica. Gue langsung berlari masuk ke dalam markas menuju ke ruangan gue.
"Tuan?" sahut Jordan saat gue sampai di depan ruangan gue.
"Dimana Carmelia?" tanya gue.
Sebelum Jordan menjawab, tiba-tiba ada suara teriakan dari dalam ruangan gue. Gue yang terkejut dan takut akan terjadi sesuatu dengan gadis itu, gue langsung menerobos masuk ke dalam ruangan gue dan berlari menghampiri Jessica yang sedang terduduk di atas ranjang gue.
Gue bisa melihat Jessica yang sedang menangis dan menyakiti dirinya sendiri, dengan menarik rambutnya dan memukul-mukul tubuhnya.
__ADS_1
"Jes...berhenti, jangan sakitin diri lu sendiri. Please...berhenti...yang seharusnya lu pukul tuh gue, bukan diri lu sendiri." ucap gue yang berdiri di samping ranjang.
"PERGI!! PERGI!! JANGAN LIHAT GUE!! PERGI!!" teriaknya.
"Jes...ini gue, Reyhan. Gue bukan Marcel, ini Reyhan sih kutu buku." sambung Gue yang mencoba untuk meraihnya.
Tapi tangan gue malah ditepis olehnya, dan Jessica menatap gue dengan sangat tajam dengan mata yang memerah.
"PERGI!! GUE BENCI LU!! PERGI!!" teriaknya.
Saat mendengar kata itu lagi, Gue benar-benar hampir kehilangan akal gue lagi. Gue berusaha untuk mengontrol diri gue, lalu duduk di atas ranjang tepat di depan Jessica.
"Maaf...gue benar-benar minta maaf...gak papa kalau lu gk mau maafiin gue, yang penting lu berhenti nyakitin diri lu sendiri. Kalau lu marah, lu bisa mukul gue. Gue bakal tahan selama mungkin sampai amarah lu redah." ucap gue.
"PERGI!!GUE BILANG PERGI!!" teriaknya lagi dan masih saja menyakiti dirinya sendiri.
Karna tidak tahan melihatnya yang menyakiti dirinya sendiri, Gue akhirnya memilih untuk menariknya ke dalam pelukan gue.
"LEPAS!! LEPAS!!! JANGAN SENTUH GUE!!" teriaknya sambil memukul dada gue dengan keras.
"Tenang...gue tau kalau gue udah ngelakuin hal gila itu ke lu, gue benar-benar minta maaf. Gue bakal menebus hal itu, gue akan memberikan segalanya ke lu, gue janji." ucap gue.
Mendengar kata pelac*r Gue langsung melepas pelukan gue, lalu memegang kedua bahu Jessica dengan erat dan menatapnya dengan serius.
"Gue gak bohong, gue bakal tunjukin kalau gue gak bohong. Dan lagi, lu tuh bukan pelacur!" tegas gue.
"Jordan!!" panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
"Ambilkan pisau, alkohol dengan kadar yang paling tinggi, dan juga satu gelas alkohol." pinta gue.
"Apa anda akan melakukan hal itu!?" ucapnya yang menatap gue dengan wajah yang tidak percaya dengan apa yang Gue minta.
"Lakukan saja, cepat!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya dan langsung keluar dari ruangan gue.
"Sekarang diam dan hapus air mata lu, gue bakal nunjukin kalau gue gak bohong." ucap gue, lalu menyeka air matanya dengan lembut.
__ADS_1
Karna Jessica masih tidak memakai apapun di tubuhnya selain selimut yang menutupi tubuhnya itu, gue langsung melepas jas gue lalu memakaikannya di tubuhnya.
Untungnya saja gadis itu cukup tenang dan tidak memberontak atau pun berteriak, dia hanya menatap gue dengan mata sayunya saja.
Tak lama kemudian Jordan pun datang dengan membawa nampan makanan yang di atasnya ada sebotol alkohol, gelas alkohol, dan juga pisau yang sangat tajam. Dan tentu saja itu bukan pisau dapur, melainkan pisau yang sering di gunakan untuk membunuh seseoran.
"Ini, Tuan." ucap Jordan sambil menyodorkan nampan makanan itu ke arah gue.
Gue langsung mundur sedikit agar memberi jarak antara gue dan Jessica, dan meletakkan nampan itu di tengah-tengah kami.
"Panggil semua bawahan dan suruh mereka untuk berkumpul di ruangan ku, sekarang!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya dan bergegas keluar dari ruangan gue.
Tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan para bawahan gue, mereka pun berdiri dan mengelilingi ranjang gue.
Gue langsung membuka alkohol itu dan menuangkannya di gelas, lalu mengambil pisau itu dan menggenggam dengan erat.
"Saya Marcel Anggara sebagai pemimpin Dunia Mafia akan melakukan sumpah darah kepada Carmelia sebagai Pemimpin Wanita di masa depan." ucap gue dan langsung menggores telapak tangan kanan gue dengan pisau dan meneteskan darah gue ke dalam gelas yang sudah berisi alkohol.
"Saya Marcel Anggara akan melakukan apapun untuk Carmelia, dan akan menjalankan semua perintah darinya." lanjut gue dan menggores telapak tangan kiri gue lalu meneteskan darah gue lagi ke dalam gelas itu.
"Saya Marcel Anggara akan menyerahkan diri dan nyawa saya kepada Carmelia." ucap gue lagi lalu menggores lengan kanan dan kiri gue, dan meneteskan darahnya lagi ke dalam gelas itu.
Gue pun meletakan Pisau itu kembali lalu mengangkat gelas yang berisi alkohol dan juga darah gue. Gue menyodorkan gelas itu ke Jessica, dan menyuruhnya untuk meminumnya.
Awalnya Ia memang menolak, mungkin dipikirannya yang gue lakukan itu cukup aneh. Tapi seperti ini lah saat bawahan gue melakukan sumpah darah ke gue.
"Minum aja, ini gak beracun." ucap gue, dan Jessica akhirnya meminum segelas alkohol itu dalam sekali teguk.
BERSAMBUNG
ATTENTION
Nah...
Sebelum Bab kemarin itu ada bab yg ditolak karna terlalu vulgar :) Jadi aku revisi lagi, dan sekarang masih dalam tahap review :')
__ADS_1
Yang bilang ceritanya kagak nyambung, sabar ya gaes :')