Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Perpisahan


__ADS_3

Mendengar nama ku di panggil, aku sontak menengok kearah suara itu, begitupun dengan kedua orang tua ku dan keempat orang yang berdiri di belakang ku.


Seseorang itu langsung berlari kearah ku dan tiba-tiba memeluk ku dengan sangat erat. Gue yang terkejut hanya bis terdiam dengan mata yang membulat besar.


Pelukan yang semakin lama semakin erat, dan ada suara tangisan yang terdengar jelas di telinga ku.


"Rizky! lepas! itu bukan adik mu! itu Tuan Marcel! cepat lepas!!" sahut Papa ku sambil menarik Rizky agar melepaskan pelukannya dari ku.


Pria itu memang melepaskan pelukannya dari ku, tapi kedua tangannya menggenggam kedua bahu ku dengan erat dan menatap ku lekat.


"Rizky...adik mu sudah tiada...Ia bukan adik mu, Nak." lirih Ibu ku.


"Tidak!! Adik ku masih hidup!! Mayat itu bukan milik Reyhan!! Reyhan masih hidup!!" teriaknya dengan wajah yang memerah.


*Dari tadi dia tidak muncul, tapi sekarang dia tiba-tiba muncul dan membuat masalah.* batin ku.


"Permisi, maaf mengganggu." sahut seseorang, dan lagi-lagi kami menengok keadah suara itu.


Ya...itu adalah Hendra dengan seorang pria yang menggenakan jas dokter di sebelahnya. Ia yang melangkah kearah kami, membuat ku sedikit legah, karna akhirnya penyelesai masalah pun tiba.


"Selamat sore, Tuan dan Nyonya." sapanya sambil menunduk.


Hendra tiba-tiba menatap ku dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan. "Maaf saya terlambat, Tuan." Mengetahui arti tatapannya itu, gue hanya mengangguk pelan kepadanya.


"Ada apa anda kemari, Dokter?" tanya Papa ku.


"Saya ingin memberikan ini kepada anda dan keluarga anda." ucapnya sambil mengambil sebuah map dari tangan Pria yang disebelahnya, dan memberikan kepada orang tua ku.


"Map itu berisikan bukti nyata bahwa mayat yang ada disini sekarang adalah mayat dari Putra bungsu anda, kami juga sudah melakukan tes DNA kepada seluruh korban." jelas Hendra.


Setelah Hendra mengatakan mengenai bukti mengenai mayat ku, Rizky langsung melepaskan genggamannya dan menarik map yang ada di tangan Papa ku.

__ADS_1


*Temperamennya sangat buruk sekarang.* batin ku sambil merapikan jas.


Pria itu tak henti-hentinya membolak-balik kertas yang ada di dalam map itu, Ia terlihat seperti tidak percaya dengan apa yang Ia lihat. Dahinya yang mengerut, wajah yang agak memerah, dan mata yang berair itu baru pertama kali kulihat.


Disaat-saat suasana sedang sangat serius, tiba-tiba saja ponsel ku berdering dengan keras. Awalnya aku mengabaikan telpon itu, tapi seseorang yang menelpon itu terus saja mencoba untuk menghubungi ku sampai aku mengangkat telponnya.


dan akhirnya aku izin untuk mengangkat telpon itu, dan melangkah pergi dari kerumunan orang-orang itu. Setelah berhasil mendap tempat yang cukup sepi, aku langsung melihat siapa sang penelpon itu.


"Jessica? lagi?" gumam gue lalu mengangkat telpon itu.


"*Ada apa? kenapa mulai tadi kamu menelpon? sudah ku katakan aku akan menjelaskannya nanti."


"Hei! kenapa kamu tiba-tiba marah? aku hanya ingin memberitahu kalau sekarang aku sedang di kastil, tapi aku tidak melihat mu dan madam disini."


"Aku sedang sibuk, Jessica~ jangan terus-terusan menelpon ku. Lakukan apapun yang kamu inginkan di kastil. Jika bosan, berbelanjalah sampai saldo ATM mu habis."


"Ayolah...jangan menyuruh ku untuk boros! aku sudah berusaha menahan diri ku untuk berbelanja, sayang~"


"Hei,hei! kamu curang! baiklah,baiklah~ aku akan menunggu mu di kastil, sampai kamu kembali."


"Terserah! lakukan apapun yang kamu inginkan, bye*!"


Aku pun langsung mematikan telpon itu tanpa mengizinkannya untuk berbicara sepatah kata lagi.


"Umurya saja yang bertambah, tapi sifatnya masih saja kekanak-kanakan." gerutu ku sambil memasukkan ponsel itu kembali kedalam saku jas, lalu berbalik dan melangkah pergi menemui keluarga ku.


Saat langkah ku sudah sangat dekat dengan mereka, tiba-tiba saja terhenti karna melihat Rizky yang memeluk mayat palsu itu sambil menangis dan menyuruh ku untuk bangun.


Pemandangan itu di saksikan oleh para tamu dan juga oleh Marcel Anggara yang telah membunuh Reyhan Putra dengan rencana konyolnya.


Perasaan yang bercampur menjadi satu di dalam diriku, membuat ku tidak kuasa untuk menghampiri Rizky. Padahal tubuh ini ingin sekali memeluk sang kakak, dan menenangkan dirinya.

__ADS_1


*Maaf... ini pilihan terbaik untuk kalian. Awalnya memang akan sangat menyakitkan, tapi pada akhirnya kalian akan menerima kematian palsu ini dengan lapang dada. Sekali lagi aku minta maaf, bang...* batin ku sambil menundukkan kepala ku menahan agar air mata ini tidak menetes.


"Haah..." hela nafas ku sambil menenggak kepala ku kembali.


Aku pun kembali melanjutkan langkah ku dan mendekati kedua orang tua ku, berniat untuk mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.


"Pemisi Pak, Bu." tegur ku, dan mereka berdua sontak berbalik dan menatap ku.


"Saya akan pergi sekarang, apa saya boleh memeluk kalian berdua? anggap saja seperti salam hangat dari ku untuk kalian, dan ucapan turut berduka cita." ucap ku.


"A-apa boleh? kami sangat berantakan sekarang." tanya Papa ku ragu.


Tanpa menjawab apapun, gue langsung memeluknya dan berkata. "Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan. Anda benar-benar seorang ayah yang baik. Putra sulung anda pasti sangat bahagia sekarang."


"Te-terima kasih, Tuan." jawabnya.


Gue pun melepaskan pelukan itu, lalu memeluk Ibu ku sambil sedikit menunduk agar tinggi ku setara dengannya.


"Senang bisa bertemu dengan Anda, Nyonya. Anda benar-benar seorang Ibu terbaik dalam hidup Putra anda. Putra sulung anda pasti sangat berterimakasih atas jasa anda selama ini, dan berharap kebahagiaan dalam hidup anda." ucap ku.


"Terima kasih, Nak. Terima kasih karna telah hadir di rumah ini." ucapnya yang langsung membuat ku terdiam tanpa kata.


"Nak?" tegurnya.


Aku langsung melepaskan pelukan itu, dan menatapnya sambil tersenyum kecil.


"Saya pamit, Tuan dan Nyonya." ucap ku sambil menunduk, lalu berbalik dan melangkah pergi dari hadapan mereka.


Pergi dengan rasa kecewa dan sedih, perasaan yang sangat membuat ku menderita. Suara tangisan dan teriakan Rizky masih terdengar jelas di telinga ku, tapi aku tidak bisa kembali kesana dan memeluk kakak ku lagi.


Dan akhirnya, aku meninggalkan rumah itu dengan air mata yang mulai tadi ku tahan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2