
Setelah sampai di kediaman keluarga Putra, para bawahan gue langsung menerobos masuk melewati pagar mereka, dan membiarkan gue masuk lebih dulu.
Setelah semuanya berada di halaman rumah itu, para bawahan gue langsung turun dari motor, dan keluar dari mobil mereka, lalu berjalan masuk kedalam rumah itu.
Ada hal yang cukup membuat gue senang saat dalam misi ini. Hal itu adalah, menobrak pintu utama rumah itu secara brutal.
Walaupun hanya hal sederhana, itu bisa membuat gue sedikit puas dan tersenyum kecil.
Selagi mereka menyekap para anggota keluarga Putra, gue hanya berdiam diri di mobil bersama supir, Jordan, dan tentu saja gadis gila itu.
"Kenapa kita kesini?" sahut Jessica.
"Katanya kita akan bersenang-senang?" lanjutnya.
"Jordan, jelaskan kepadanya." ucap gue.
"Baik, Tuan."
"Carmelia!!" sambung gue.
"Maksud anda, Tuan?" tanya Jordan.
"Panggil dia Carmelia saat malam hari, dan tetap panggil dia Jessica saat siang hari." jelas gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan.
"Jadi, Nona Carmelia. Kita memang akan bersenang-senang, tapi maksud dari kata bersenang-senang itu bukan yang seperti anda pikirkan." ucap Jordan.
"Maksudnya?" tanya Jessica.
"Kita kesini akan menghancurkan seseorang, dan Tuan akan mengambil alih perusahaan keluarga. Tapi tetap keluarga Putra yang mengelolanya, hanya saja perusahaan itu menjadi atas nama Tuan Marcel. Jadi semua penghasilan yang di dapat dari perusahaan itu, semuanya milih Tuan." jelas Jordan.
"Bukan hanya itu, Putri dari keluarga Putra akan di bawa dan di jual ke pria konglomerat, atau bisa saja di jadikan wanita penghibur saat di markas." lanjutnya.
"Tapi kenapa? kenapa harus melakukan hal gila itu? bukannya sudah cukup kalian mengambil ahli perusahaan mereka? untuk apa menjual putri mereka? bagaimana kalau putri mereka sangat berharga bagi mereka?" oceh gadis itu, yang membuat gue sontak menatapnya.
"Lu bisa diam gak, sih?!!" geram gue.
"Disini lu bukan siapa-siapa, jadi gak usah ngatur-ngatur bawahan gue!!" ucap gue.
"Jujur nih ya, gue cowok yang paling gak punya hati!! Gue gak peduli, mau itu hal yang paling berharga bagi mereka ataupun tidak. Kalau gue mau merebutnya, ya gue rebut lah!! Lu gak usah sok nyeramahin bawahan gue apalagi gue!!" geram gue.
"Gimana kalau itu keuarga lu? lu bakal ngelakuin apa? gimana kalau yang di jual itu nyokap lu, atau adek kandung lu." sambungnya.
Karna terlalu muak dengan ucapannya, gue sontak memegang kedua pipi gadis itu dengan satu tangan gue, dan menekannya dengan keras.
"Lu udah ikut campur terlalu jauh! jadi, lebih baik lu diam aja. dan ikuti aja permainan yang sudah gue buat!" ucap gue, dan langsung melepaskan pipi gadis itu dengan kasar.
__ADS_1
Gue langsung bersandar kembali, dan melihat kedua tangan gue di depan dada.
Tiba-tiba Dika keluar dari rumah itu, dan berjalan kearah gue. Gue langsung menurunkan kaca mobil gue.
"Apa sudah selesai?" tanya gue.
"Sudah, Tuan. Tapi ada 1 masalah." jawabnya.
"Apa?" tanya gue.
"Putri keluarga Putra, tidak ada di rumah. Hanya ada Putra sulungnya saja." jawab Dika.
"Oh ya? Apa kalian sudah mencari si seluruh rumah itu? tanpa terkecuali?"
"Sudah, Tuan. Tidak ada tanda-tanda Putri mereka di rumah ini."
"Hah...baiklah." ucap gue dan langsung keluar dari mobil tanpa bantuan dari Jordan.
Jordan yang melihat itu, begergas keluar dari mobil. Berbeda dengan Jessica, Ia malah berdiam diri di dalam mobil dan tidak bergerak sedikitpun.
"Woi!! lu gak keluar?!" panggil gue.
"Gue boleh gak ikut kedalam, gak?"
"Keluar!! cepat!!" perintah gue.
"O-oke." jawabnya dan langsung keluar dari mobil, lalu berjalan menghampiri gue.
Gue pun melangkah masuk kedalam rumah itu dan diikuti oleh Jordan, Dika, dan tentu saja Jessica yang berdiri di samping gue.
Saat sampai di dalam rumah itu, gue sudah di sambil dengan barang-barang yang berhamburan di lantai.
Bukan hanya itu, gue juga sudah bisa melihat keluarga Putra yang sedang diikat dan berlutut di lantai.
Saat gue sudah berdiri di depan keluarga Putra, Jordan langsung memberikan gue kursi, dan tanpa basa basi lagi gue langsung duduk di kursi itu.
"Dimana putri kalian?" tanya gue santai.
"Ti-tidak tau, dia sudah 2 hari ini tidak pulang kerumah." jawab Pria itu.
"Hah... memuakkan." gumam gue.
"Berikan surat perjanjian itu, Jordan!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan dan langsung mengeluarkan dokumen yang berisi surat perjanjian pengalihan perusahaan.
Setelah Jordan memberikan dokumen itu ke depan Pria itu, gue sontak tersenyum miring.
__ADS_1
"Tanda tangan surat itu, maka kalian akan aku lepaskan. Termaksud Putri kalian." ucap Gue.
"Ta-tapi, Tuan. Surat apa ini?" tanyanya.
"Itu surat perjanjian, anda selaku pemilik perusahaan Putra memindah tangankan semua penghasilan dari perusahaan anda, kepada Tuan Marcel Anggara. Surat itu juga berisi, bahwa anda mengubah nama pemilik perusahaan itu dengan nama Tuan Marcel Anggara." jelas Jordan.
"Untuk apa bokap gue tanda tangan!!" teriak laki-laki yang ada di sebelah wanita itu.
"Lu kira lu siapa, hah?!! Lu kira perusahaan itu murah apa?!! lu gila, hah?!!" teriaknya lagi.
Para bawahan gue yang mendengar itu, sontak menyodorkan pistol kearahnya. Ada 11 pistol yang siap untuk di tembakan kearah laki-laki itu.
"To-tolong...jangan sakiti putra kami..." lirih wanita itu.
Gue sontak terseyum dengan puas, dan mengangkat telunjuk gue lalu sontak menunjuk laki-laki itu.
11 pistol pun berhasil mengeluarkan pelurunya dan mengenai tubuh laki-laki itu.
"Ke-kevin? Kevin!!" teriak wanita itu dan sontak menangis.
"Cih! drama keluarga yang memuakkan." ucap gue.
"Hey, Pak Tua! Cepat tanda tangan dokumen itu. Aku sudah tidak punya waktu lagi!" sambung gue.
"Ba-baik." jawabnya.
1 bawahan gue pun langsung melepaskan ikatannya, dan membiarkan Pria itu untuk menandatangani dokumen itu.
Karna terlalu muak dengan suara tangisan yang dibuat oleh wanita itu. Gue langsung berkata. "Anak anda sudah tenang disana, jadi diamlah!! Aku sangat muak dengan suara tangisan itu!!"
Setelah dokumen selesai di tandatangani, Pria itu langsung memeluk Istrinya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Ambil dokumen itu, kita akan kembali ke markas, sekarang!!" perintah gue dan sontak berdiri.
Gue pun melangkah keluar dari rumah itu, dan masuk ke dalam mobil. Begitupun dengan Jessica, dan para bawahan gue yang lainnya.
Gue baru sadar, kalau Jessica mulai tadi merasa ketakutan sampai-sampai membuat tubuhnya bergetar hebat lagi.
"Lu kenapa, sih? kayak punya trauma sama kekerasan aja, lebah banget lu!!" sahut gue.
"Gu-gue gak papa." jawabnya.
*Bohong!* batin gue saat melihat wajah gadi itu.
"Cepat jalan!!" perintah gue.
Mobil pun bergerak dengan cepat menuju markas, dan dikawal oleh para bawahan gue.
__ADS_1
Bersambung