Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Menjemputnya


__ADS_3

Gue yang mendengar ada yang memanggil nama gue, sontak menengok kebelakang, dan ternyata orang itu adalah Marcel bersama para bawahannya.


"Hah...akhirnya datang." gumam gue.


"Marcel!" panggil Gue, lalu tersenyum kepadanya.


Saat tatapanny mengarah ke gue, Ia langsung berlari kearah gue dan diikut pada bawahannya. Tapi tiba-tiba saja, Pria itu malah menarik gue kedalam pelukannya yang sangat erat.


MARCEL POV*


Gue yang mulai tadi mencari gadis itu, di setiap kantor polisi yang ada di kota ini. Konyolnya, gue malah takut akan terjadi sestua kepada gadis itu. Padahal, Ia masih bisa tersenyum di saat-saat seperti ini.


*Untung saja para bajiangan itu sudah mati.* batin gue yang masih memeluk gadis itu dengan erat.


"Marcel? bisa lepas gak? gue gak bisa nafas, nih." ucapnya.


Saat gue sadar atas perbuatan gue itu, gue sontak mendorongnya jauh dari gue.


"Ehem...ehem...kenapa lu bisa sampai disini?" tanya gue.


"Lu gak baca pesan gue? udah capek-capek gue ngetik, malah gak di baca, dasar!!" protesnya.


"Mana sempat gue baca pesan sepanjang itu." bohong gue.


*Gue baca, kali! sangking panjangnya, bikin mata gue sakit natap layar ponsel mulu.* batin gue.


"Itu...gue gak segaja nabrak toko orang, mobil lu rusak lagi. gimana, dong?" ucapnya.


"Tapi lu gak papa, kan?" tanya gue.


"Gue gak papa, cuma kepala gue doang yang sakit, gara-gara terbentur sama setir mobil." jawabnya.


"Serius? coba sini." sambung gue.


Ia langsung melangkah kedepan gue, dan gue langsung mengecek dahinya.


"Memar, loh!" sahut gue sambil mengelus lembut dahinya.


"Serius? parah banget, gak?" tanyanya.


"Gue tanya, sakit gak?" tanya gue balik.


"Sakit, tapi gak sakit banget sih." jawabnya.


"Jordan!" panggil gue.


"Ada apa, Tuan?" sahutnya.

__ADS_1


"Telpon dokter, bilang kepadanya untuk menyiapkan satu ruangan. Sebentar lagi kita akan kesana." ucap gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.


"Sekarang...bilang siapa yang membawa lu kesini?" sambung gue sambil menatap tajam ke polisi yang tadi duduk di depan Jessica.


"Ma-maaf, Tuan Marcel. Ka-kami tidak tau jika gadis itu adalah kekasih anda." ucapnya.


"Kekasih? gak ada kekasih, kami hanya rekan kerja saja." sahut Jessica.


*Rekan kerja?* batin gue.


"Ya...kami memang hanya rekan kerja saja, tapi gadis ini tetap tanggung jawab ku." sambung gue.


"Maaf kan kami, Tuan." jawabnya sambil membungkuk.


"Sudah lah, lagian mereka juga gak terlalu kasar sama gue. Mending kita pulang aja." ucap gadis itu.


"Tapi—"


"Ayo! gak usah banyak bacot!" potongnya sambil menarik tangan gue.


"Awas kalian!! aku gak bakal tinggal diam!! liat aja nanti!!" teriak gue.


Jessica menarik gue keluar dari kantor polisi itu, saat di luar Ia langsung melepas tangan gue dan berbalik menatap gue.


"Loh? lu gak bisa nyetir? serius?" tanya gue terkejut.


"Gue serius, anjir!!" jawabnya.


"Oh...pantesan nambar toko orang." gumam gue.


"Itu bukan salah gue!! makanya jangan nyuruh gue nyetir, dong!! di tungguin 30 menit malah gak datang-datang, lu tau gak? gue itu takut di tempat gelap kayak gitu!!" geramnya.


"Hah!? lu takut gelap? serius? kenapa gak ngomong?" sahut gue.


"Gimana gue mau ngomong? lu aja gak ngebiarin gue ngomong? malah langsung pergi ninggalin gue sendiri lagi!" protesnya.


"Yaudah, maaf. Lain kali gak bakal ada kejadian kayak gini lagi, deh." ucap gue.


"Hah...terserah dah, gue mau balik ke markas." jawabnya.


"Malam ini kita gak bisa ke markas dulu." sahut gue.


"lah? kenapa?"


"Markas berantakan banget, jadi kita nginap di hotel aja malam ini. Lagian besok juga libur, lumayan buat Istirahat seharian penuh."

__ADS_1


"Serius? tapi, bukannya lu selalu pulng kerumah pas pagi ya?"


"Gue udah bilang sama Nyokap gue, kalau gue nginap di rumah temen gue. Alasan ngerjain tugas kelompok, jadi besok lusa baru gue pulang kerumah."


"Hm...yaudah deh, gue ngikut aja."


"Yaudah, lu masuk duluan aja ke mobil."


"Oke." jawabnya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Gue pun sontak berbalik menatap Jordan dan para bawahan gue yang lainnya, lalu berkata. "Setengah dari kalian, boleh kembali kerumah saja. dan yang lainnya berjaga di hotel tempat ku akan menginap."


"Baik, Tuan." jawab mereka.


"Oh ya, Jordan. Apa kamu sudah menyuruh orang untuk membersihkan markas? dan, apa yang terluka tadi sudah di antar ke rumah sakit semua?" tanya gue.


"Sudah, Tuan. Semua yang terluka sudah berada di rumah sakit, dan markas sekarang sedang dalam perbaikan. Saya juga sudah menelpon dokter pribadi anda, untuk menyiapkan satu ruangan kosong." jelasnya.


"Ruangan itu di batalkan, suruh dia datang ke hotel saja. dan...pergilah telebih dulu ke hotel XX, dan pesan 2 kamar VIP." sambung gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk lalu pergi.


"Yang akan berjaga, ikut dengan ku sekarang!" perintah gue.


"Baik,;Tuan." jawab setengah dari para bawahan gue.


Gue pun melangkah masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping Jessica lalu berkata. "Ke Hotel XX."


"Baik, Tuan." jawab supir itu, lalu langsung menginjak gas dan pergi.


"Jes, lu gak papa kan?" tanya gue sekali lagi untuk memastikan keadaannya.


"Gak papa, gue sehat banget." jawabnya.


"Serius? kalau sakit bilang, gak usah pura-pura seakan-akan lu baik-baik aja. Lu tuh baru aja habis kecelakaan, itu bukan masalah kecil." ucap gue.


Setelah gue selesai bicara, Jessica hanya menatap gue dalam diam. Entah apa yang di pikirkan gadis itu, Ia seperti ingin berkata sesuatu, tapi tidak sanggup untuk mengatakannya.


Gue sontak mengangkat tangan gue lalu meletakkannya di atas kepala Jessica, dan mengelus puncak kepalanya dengan lembut.


"Gak papa, kalah lu sakit bilang aja. Gue bakal rawat lu sampai sembuh, gue janji." ucap gue.


"Gue cuma berharap lu selalu ada di samping gue." sahutnya.


"Iya...gue janji, gue bakal selalu ada di samping lu, sampai gue mati." jawab gue.


Gue yang lagi serius-seriusnya, tiba-tiba Jessica memegang tangan gue dan nurunkannya dari kepalanya lalu berkata. "Basi! bosan gue denger kata-kata kayak gitu."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2