
Bryan tidak terima dengan apa yang akan di lakukan Marcel kepada dirinya, Ia mencoba untuk memberontak dan berusaha untuk melepaskan rantai yang mengikat tubuhnya. Marcel yang melihat itu, Ia hanya diam dan bersandar di kursinya sambil menatap Bryan.
"LEPAS!! CEPAT LEPASKAN AKU!!?" teriak Bryan yang masih sibuk memberontak di atas kursi.
Marcel tiba-tiba mengambil sebotol Wine dan menuangkannya di gelas dengan tangannya sendiri, Andre dan Jordan yang berpikir kalau Wine yang ada di dalam gelas itu akan di berikan kepada Bryan. Tapi ternyata, Marcel malah meminumnya sendiri sambil menatap Bryan seperti sebuah tontonan.
"Jordan, nyalakan alat itu!" perintah Marcel.
"Baik, Tuan," jawab Jordan, lalu melangkah ke belakang Bryan.
"TI-TIDAK!! KENAPA KAU HARUS MEMAKAI ALAT ITU!!? TEMBAK AKU SAJA, CEPAT TEMBAK AKU!!" teriak Bryan.
Alat itu pun mulai bergerak mendekati punggung Bryan dengan perlahan, Bryan yang mendengar suara alat itu, Ia terus memberontak di atas kursinya dan memohon kepada Marcel untuk menghentikan alat itu. Tapi Marcel tertu saja tidak mengatakan sepatah katapun dan hanya menatap Bryan dengan ekspresi yang datar, sambil meminum segelas Wine nya.
Dengan perlahan, ujung bor itu menyentuh punggung Bryan dan mmbuat Bryan berteriak kesakitan. Darah mulai mengalir keluar dari punggung Pria itu, Jordan yang masih berada di belakang alat itu, Ia dengan cepat kembali ke samping Andre agar tidak terkena cipratan darah.
"Bagaimana rasanya? apa itu sakit?" tanya Marcel sambil mengisi kembali gelasnya.
__ADS_1
"To-tolong... ARGH!!! lepaskan alat ini... aku mo... ARGH!!! aku mohon..."
"Apa kau ingat dengan apa yang kau lakukan kepada Istri ku? disaat itu, pasti dia juga memohon seperti ini kepada mu. Tapi kau malah tidak mengampuninya, dan terus menendangnya sampai Ia kehilangan banyak darah," ucap Marcel.
"...dan sekarang yang kulakukan sama seperti apa yang telah kau lakukan kepada Istri ku, kau juga akan merasakan sakit sepertinya dan kehilangan banyak darah," lanjutnya.
"A-aku minta maaf... aku benar-benar minta maaf... tolong matikan alat ini, dan lakukan cara lain untuk membunuh ku, aku mohon..."
"Apa kau pernah mendengar Pribahasa Bagaimana ditanam, begitulah dituai ? Sama seperti situasi mu sekarang, apa yang kau lakukan kepada istri ku, begitu juga yang akan aku lakukan kepada mu. Tapi sayangnya, aku memilih cara yang lebih kejam dari mu."
Marcel tiba-tiba berdiri dan meletakkan gelasnya kembali di atas meja, Ia menatap Bryan yang tak henti-hentinya berteriak. "Nikmati waktu mu sebelum ajal mu tiba, aku akan menyelesaikan tugas ku malam ini!"
"Jordan, Andre! ambilkan aku 2 pistol milik ku dan isi dengan peluru peledak. Kita akan meledakkan isi kepala mereka!" perintah Marcel.
Saat mendengar perintah Marcel itu, para Pria itu langsung menunduk dengan tubuh yang bergetar dengan hebat. Tidak mungkin mereka tidak tau peluru yang di maksud oleh Marcel itu, peluru yang bisa meledakkan isi perut dan kepala seseorang dalam sekali tembakan.
"Sebenarnya sangat di sayangkan karna kalian semua akan mati dalam beberapa detik saja, padahal aku masih ingin bersenang-senang~ saat kalian berteriak dan memohon seperti mereka berdua, itu sangat membuat ku bersemangat. Aku jadi menyukai permainan ini~" Kata-kata yang keluar dari mulut Marcel itu, seperti seorang Psycho yang sedang tergila-gila dengan permainannya sendiri.
__ADS_1
Setelah Andre dan Jordan kembali membawa dua senjata milik Marcel, Ia pun langsung memberikan senjata itu kepada Tuannya. Lalu kembli berdiri di samping Grissham yang hanya memperhatikan Marcel mulai tadi.
"Baiklah, kita akan menyelesaikan permainan ini~" ucap Marcel sambil tersenyum miring.
Pria itu pun mulai mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke arah Pria-pria itu, lalu...
DOOR!! DOOR!
Dua peluru yang di tembakkan dari 2 senjata yang berbeda, kedua kepala Pria yang tertembak itu langsung meledak dan membuat cipratan darah dimana-mana. Para Pria yang berada di dekat mayat itu, langsung menjauh dengan tubuh yang penuh dengan darah dan wajah yang terlihat ketakutan.
"Kenapa? apa kalian takut? padahal kalian sedikitpun tidak merasa takut saat melemparkan bom ke arah para bawahan dan istri ku, benar kan?" cetus Marcel.
"Tu-tuan, Maafkan kami. Tolong maafkan kami, kami hanya menerima perintah. Kami tidak tau bahwa yang kami serang adalah Istri anda, kami benar-benar minta maaf, Tuan," ucap salah satu Pria itu.
"Haah... sudah telat!!" jawab Marcel,alu menembak Pria itu.
"Diam dan terima kematian kalian!!" kata Marcel, dan mulai menembak satu persatu kepala Pria yang masih tersisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG