Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Buaya Mafia


__ADS_3

Mendengar jawaban dari pelayan itu, gue sedikit kesal. Bukan karna marcel yang berbicara dengan semua wanita, tapi karna Marcel mendatangi kamar wanita lain.


Pria yang datang ke kamar wanita lain, pasti ada maksud tertentu. Apalagi Marcel yang memiliki hobi bermain dengan wanita, itu tambah membuat gue kesal.


Gue sontak berdiri dan memberikan gelas jus itu kepada pelayan wanita yang ada di samping gue.


"Aku ingin kembali ke kamar." ucap gue.


"Baik, Nona." jawab mereka.


Gue pun melangkah terlebih dulu dan disusul oleh mereka. Selama di perjalanan, gue tak henti-hentinya mengerutu di dalam batin gue. Gue juga sampai mendesak berkali-kali, dan entah apa yang para pelayan itu pikiran tentang gue sekarang.


Saat sampai di kamar, gue langsung duduk di sofa dan menyandarkan tubuh gue sambil menghela nafas panjang.


"Apa anda sakit, Nona?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak, aku baik-baik saja." jawab gue.


*Rasanya mau pulang aja.* batin gue.


"Pulang!?" sahut gue dan sontak menenggakan tubuh gue dan menatap para pelayan itu.


*Ada ide bagus nih.* batin gue sambil tersenyum ke mereka.


"Hm...apa kalian bisa membantu ku?" tanya gue dengan wajah memelas.


"Tentu saja, Nona."


"Tolong sampaikan kepada Jordan, bahwa aku ingin kembali kerumah."


"Secepat ini? apa anda benar baik-baik saja? apa perlu kami memanggilkan Dokter Hendra untuk anda?"

__ADS_1


"Tidak perlu, katakan saja kepada Jordan. Setelah itu, biar Jordan yang mengurusnya. Dan kalian boleh kembali ke pekerjaan kalian masing-masing, aku ingin sendiri di kamar."


"Baiklah, Nona."


Setelah merepa keluar, gue dengan cepat langsung berdiri dan melangkah kearah ranjang, untuk memulai rencana kecil gue.


15 menit gue berbaring di atas ranjang, akhirnya ada suara seseorang membuka pintu kamar gue dan suara langkah kaki yang menuju kearah gue.


*Akhirnya datang juga.* batin gue sambil tersenyum kecil.


Gue merasakan ada tangan yang menyentuh puncak kepala gue, dan perlahan Ia mengelusnya dengan lembut.


"Kenapa lu kayak gini sih? tiba-tiba mau pulang, lu lagi menghindar dari gue atau gimana!?" ucap Marcel dengan nada yang sedikit kesal


"Gara-gara Informasi Jordan, aku sampai tidak sempat berpamitan dengan Bella, dan langsung berlari kemari. Haah..."


*Itu memang rencana gue, bego!! lu udah puny cewek, malah pergi ke kamar cewek lain, dasar buaya mafia!!* batin gue.


*Bodo anjir!! kok gue kesel ya!?*


*Mending lu pergi sana, kembali tuh sama cewek tercantik lu!!*


Tangan Marcel tidak terasa lagi diatas kepala gue. Gue pikir dia pergi, tapi ternyata Ia naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di hadapan gue.


*Dah lah, pura-pura baru bangun aja.* batin gue, dan mulai menggerakkan tangan dan kaki gue, lalu membuka perlahan kedua mata gue.


Baru membuka mata, gue langsung melihat wajah Marcel yang sangat dengan dengan wajah gue, dan kedu matanya itu menatap gue dengan tatapan kesalnya.


*Astaga! kaget!!* batin gue yang berusaha untuk terlihat biasa saja.


"Udah bangun? enak tidurnya? mimpi indah?" tanyanya.

__ADS_1


"Kapan lu datang? kenapa gak bangunin gue dulu?" tanya gue balik.


"Kasian kan kalau di bangunin, ntar kalau dibangunin malah minta pulang. Udah kayak bocah yang rewelnya kebangetan!" sindirnya, dan sontak menyentil hidung gue dengan kuat.


"Ih!! apasih!? sakit tau!!" kesal gue sambil memegang hidung gue.


"Lu kenapa sih? capek disini? bosan? atau apa? kenapa mintanya pulang mulu, sih!? heran!"


"Ya maaf...dari pada gue gak di peduliin, mending gue pulang lah! lagian orang yang di depan gue ini sibuk sama cewek lain."


Marcel sekali lagi menyentil hidung dan dahi gue dengan kuat, dan berkata. "Tau dari mana gue sibuk sama cewek lain!? gak usah nuduh-nuduh sembarangan, deh!"


"Alah! memang maling tuh gak bakal ngaku!"


"Mau lu apasih, Jes~? Gue gak sibuk sama cewek lain, lu ngomong gitu sama aja nuduh gue sembarangan loh"


"Terus bella siapa?!" sahut gue, dan membuat Marcel sontak terdiam sambil menatap gue.


"Tau dari mana nama itu? para pelayan? cepat jawab!!"


"Kalau gue gak mau jawab kenapa!!? takut kalau yang gue bilang tuh bener!?"


"Apasih, Jes! buat apa gue takut!? gue memang sama Bella, tapi bukan karna alasan Pribadi, tapi alasan politik! jadi pahami lah!! gue gak bakal macem-macem sama anak di bawah umur, dia itu masih 17 tahun!" ocehnya.


"Alah!! sama yang tua aja lu macem-macem, malah main di kasur. Masa umur 17 gak?" sindir gue.


"Lu salah paham, Jes! gue sama Bella tuh gak ada hubungan apa-apa, dia tuh cuma Putri dari pemimpin Mafia Amerika. Gue mana bisa mengabaikan Putri pemimpin Mafia Amerika, gue bakal di sebut apa kalau sampai mengabaikan Putrinya sendiri!?"


"Terserah!!" geram gue, dan langsung bangun dari posisi gue.


Tapi tiba-tiba saja Marcel menahan dada gue, dan memaksa gue untuk tetap berbaring di sampingnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2