
Mendengar perkataan Jordan itu, Marcel langsung menurunkan gelasnya dan bertanya. "Dimana senjata itu?"
Jordan pun membuka jasnya dan mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya, Ia mengeluarkan sebuah senjata yang terbungkus dengan plastik dan terlihat ada beberapa bercak darah di senjata itu. Lalu meletakkannya di atas meja, dan menyodorkannya kehadapan Marcel.
Marcel yang langsung mengenali senjata itu dalam sekali lihat, Ia tiba-tiba terdiam dan menatap lekat senjata itu. Dengan perlahan Ia meraih senjata itu, lalu mengeluarkannya dari plastik yang membungkusnya.
Marcel kembali mengingat pesan Agnella yang di katakan oleh Andre sebelumnya, Ia langsung melihat ke ujung pistol itu. Benar saja, ada sebuah kertas yang menyumbat tempat keluarnya peluru dari pistol itu. Marcel berusaha untuk mengeluarkan kertas itu, dan setelah kertas itu berhasil keluar. Ia dengan cepat membuka gulungan kertas itu, dan menatap tulisan yang ada di kertas itu.
"Jika kau menemukan surat ini, berarti aku sudah meninggalkan mu. Maafkan aku karna tidak bisa menjaga calon bayi kita, maafkan aku karna selalu membantah perkataan mu, dan maafkan aku karna selalu bersikap keras kepala. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau sedikitpun tidak bersalah atas kematian ku. Aku yakin kau akan menjadi ayah yang sangat hebat dan selalu melindungi anaknya, aku percaya pada mu, Marcel...
Nama bayi Laki-laki : Hugo Darren Anggara
Nama Bayi Perempuan : Rhea Larisa Anggara Putri" isi surat yang di tulis oleh Carmelia.
Marcel terdiam setelah membaca isi surat itu, Ia tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Carmelia yang menulis surat itu, seolah-olah Ia memang tau bahwa Ia akan mati dan hanya tinggal bayi mereka yang selamat.
Karna tak kuasa menahan air matanya, Marcel akhirnya menangis sambil menunduk dan menggenggam erat sepucuk surat itu. Ketiga Pria yang melihat Marcel menangis, mereka hanya bisa diam, walaupun ada sedikit rasa penasaran terhadap isi surat itu.
Disaat Marcel menangis tanpa suara, disebelahnya masih ada Bryan yang tak henti-hentinya berteriak. Kedua Pria itu sama-sama merasakan rasa sakit, hanya saja cara mereka mendapatkan rasa sakit itu tentu saja berbeda.
__ADS_1
Setelah beberapa menit Marcel terlarut dalam tangisannya, Ia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menengok kearah Bryan dengan mata yang sembab. Tentu saja Bryan terkejut saat Marcel menatapnya dengan mata yang sembab dan merah itu. Marcel tiba-tiba berdiri sambil mengambil pematik yang dibawakan oleh Andre sebelumnya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Bryan.
"Apa kau liat mata ku ini? JIKA BUKAN KARNA KAU, AKU TIDAK AKAN MENGALAMI HAL INI!!!" teriak Marcel.
"Ma...aaf..." lirih Bryan.
"Maaf? kau bilang maaf!!? karna kau istri ku mati, bodoh!! karna kau aku di tinggalkan!!!" geramnya.
Marcel memundurkan wajahnya dan tiba-tiba menyalakan pematik itu, sambil berkata. "Aku akan menambah rasa sakit mu!"
Mendengar itu, Bryan membelalakkan matanya. Terlihat jelas Ia sangat terkejut dengan apa yang Marcel katakan, Ia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya. Tapi saat Ia menggerakkan sedikit saja tubuhnya, rasa sakit yang di buat oleh alat itu malah terasa berkali-kali lipat sangat sakit dari sebelumnya.
"Baik, Tuan," jawab Marcel, lalu berdiri dan melangkah pergi untuk mengambil bahan bakar.
"Apa kau pernah melihat seseorang yang terbakar hidup-hidup? jika belum, aku akan memperlihatkannya secara gratis~" ucap Marcel.
"Kali ini bukan dendam Istri ku yang ku balaskan, melainkan dendam suami yang telah kau pisahkan dengan Istrinya! aku akan menunjukkan neraka kecil untuk mu seorang," lanjutnya, yang tidak henti-hentinya membuka lalu menutup kembali pematik di tangan kanannya itu.
"Sebenarnya, aku sangat menyayangkan kastil ini akan kotor dan lantainya akan ikut terbakar bersama mu. Tapi tak apa, aku akan merelakannya untuk mu. Tenang saja, aku tidak akan meminta ganti rugi kepada, kok~"
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Jordan pun kembali dengan membawa 2 jerigen bahan bakar di kedua tangannya. Pria itu pun langsung meletakkan kedua jerigen itu tepat di samping Marcel, dan berkata. "Ini Tuan, bahan bakar yang anda minta."
"Lansung tungkan ke tubuh, Bryan!" perintah Marcel.
"Tapi, Tuan. Itu akan sangat berbahaya, bisa saja kastil ikut terbakar," bantah Jordan.
"Jordan, ini kastil miliku. Jadi terserah aku akan melakukan apa di dalam kastil ku sendiri."
Andre tiba-tiba muncul dan berdiri di samping Jordan, dan langsung mengambil salah satu jerigen itu, lalu berkata. "Benar kata Tuan, Jordan. Lebih baik kita selesaikan ini semua," sambil menatap Jordan dengan memberi isyarat untuk pergi dan melakukan perintah Tuannya.
Dengan terpaksa Jordan mengambil kembali salah satu jerige itu dan mulai menuangkan bahan bakar itu ke seluruh tubuh Bryan. Marcel mundur 5 langkah dari depan Bryan, dan begitupun dengan Grissham yang mengikuti langkah Marcel.
Setelah kedua bahan bakar itu berhasil di tumpahkan ke tubuh Bryan, Jordan dan Andre pun menghampiri Marcel dan berdiri di belakang Tuannya.
"Dengarkan aku baik-baik, Bryan! kau dan aku sama-sama bersalah, tapi kesalahan mu itu bisa di bilang sebuah kesalahan bodoh yang pernah kau lakukan. Kau membunuh istri ku, sekaligus wanita yang pernah kau sukai di sekolah dulu. Dan kau membuat Putri ku terbaring lemah di rumah sakit!" ucap Marcel.
"Aku Marcel Anggara akan selalu mengingat kesalahan mu ini, dan kita akan bertemu lagi di akhirat!!" lanjutnya, dan langsung melemparkan pematik yang menyala itu ke arah Bryan yang telah dilumuri bahan bakar.
Dalam hitungan detik, Api mulai melahap tubuh Bryan. Pria itu berteriak sejadi-jadinya, Ia juga mencoba memberontak di kursi itu. Sedangkan Marcel, Ia hanya diam tanpa ekspresi sedikit pun. Ia masih memegang sepucuk surat dari Carmelia di tangan kirinya, dengan harapan bahwa hari ini adalah hari terakhir Ia kehilangan orang yang Ia sayangi.
__ADS_1
BERSAMBUNG