Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Berdiam Diri


__ADS_3

JESSICA POV*


Waktu terasa sangat cepat, sampai gue tidak menyadari kalau matahari sudah berganti menjadi bulan. Seperti perintah dari Jordan, gue mulai tadi hanya berdiam diri di kamar.


Entah apa yang bisa gue lakuin dikamar itu, tapi para pelayan yang di kirim Marcel mencoba untuk menghibur dengan cara memainkan alat musik di depan gue dan di sajikan makanan ringan dan beberapa cake untuk gue.


Dan yang gue lakuin? hanya duduk diam sambil menonton penampilan mereka. walaupun gue sedikit bosan, karna musik yang mereka mainkan adalah musik yang sudah sangat lama dan tidak pernah di mainkan lagi.


Tapi, dari sekian banyaknya lagu yang mereka nyanyikan. Ada satu lagu yang menarik perhatian gue, entah apa arti lagu itu. Tapi lagu itu terdengar sangat gembira, seperti lagu pengiring tarian.


Setelah mendengarkan banyak lagu, dan menghabiskan semua makanan yang telah mereka sajikan. Gue di suruh untuk bersih-bersih terlebih dulu dan mengganti pakaian tidur.


Dan kejadian seperti sebelumnya pun terjadi, gue yang mandi kenapa semua pelayan wanita juga masuk ke dalam kamar mandi?


Padahal mereka udah menyiapkan air untuk gue mandi, tapi ada aja alasan biar gak di usir sama gue. Entah ada yng sibuk bantu gue mandi, pegangin handuk, nyalain lilin biar gue relax, dan lainnya.


Setelah gue di jadikan boneka selama dua jam oleh mereka. Gue akhirnya bisa bersantai di atas ranjang lembut itu, dengan pakaian tidur yang sangat mewah seperti sebuah dress.

__ADS_1


"Nona, anda ingin makan malam apa? ini sudah lewat jam makan malam, kami harus bergegas menyajikan makan malam untuk anda." sahut salah satu pelayan Wanita itu.


Mendengar itu, gue langsung bangun dari posisi gue dan menatapnya dengan mata yang sedikit terkejut.


*Lah! gue baru di kasih makan satu meja tadi, sekarang disuruh makan lagi? secara tidak langsung mereka menyiksa gue dan perut gue ini.* batin gue.


"Nona?" tegur pelayan itu.


"Aku tidak ingin makan, perut ku sudah penuh." ucap gue dan kembali berbaring.


"Setidaknya keluar kamarlah walaupun hanya sebentar, Tuan akan marah jika anda hanya berdiam diri di kamar saja." lanjutnya.


"Hm...benar juga." gumam gue.


"Baiklah, antar aku ke perpustakaan." ucap gue, lalu menurunkan kaki gue dari ranjang.


Tapi sebelum kaki gue menyentuh lantai, salah satu dari pelayan itu sontak memegang kedua kaki gue dan meletakkan sendal rumah tepat di bawah kaki gue.

__ADS_1


"Karna sudah malam, akan lebih baik anda menggunakan sendal ini. Ini cukup membuat kaki anda hangat." ucapnya sambil memasang sendal itu di kaki gue.


"Terimakasih." jawab gue, lalu berdiri.


Ia hanya membalas dengan menundukkan kepalanya, setelah Ia kembali berdiri.


"Mari kami antar."


Gue di persilahkan untuk jalan lebih dulu, dan mereka mengikuti gue dari belakang. walaupun mereka di belakang gue, mereka tetap menuntut setiap langkah gue. Untuknya saja perpustakaan itu berada di lantai yang sama dengan kamar yang gue tempati.


Saat sampai di depan ruangan itu, dan saat gue ingin mendorong pintu itu. Tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu itu dari dalam.


Karna terkejut, gue langsung melangkah mundur dan menatap seseorang itu dengan mata yang membulat besar karna terkejut.


Seorang Gadis lah yang keluar dari ruangan itu. Ia yang juga sama terkejutnya dengan gue, dan membuatnya terdiam dengan tangan kanan yang masih memegang gagang pintu dan tangan kiri yang memeluk sebuah buku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2