Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Obat


__ADS_3

Bryan yang duduk di samping gue tidak berkata apapun, Ia hanya menuangkan minuman ke dua gelas yang berbeda.


"Buat apa? Gue kan udah bilang, kalau gue gak minum!" sahut gue.


"Satu gelas saja, setelah ini gue bakal ngasih hadinya ke lu." ucapnya, lalu menyodorkan gelas yang berisi wine itu ke gue.


"Hm...awas aja kalau ku bohong!" ancam gue dan langsung mengambil gelas itu lalu meminumnya dalam sekali tegukan.


"Sudah, kan!?" kesal gue sambil meletakkan gelas itu ke atas meja.


"Gimana rasanya? Enak?" tanyanya.


"Apasih!? Rasanya kayak wine biasalah! Lu pikir ini pertama kalinya gue minum, apa!?" ketus gue.


"Hm..." dehemnya yang tiba-tiba menyeringai.


"Buruan! Gue mau pulang, nih!!" geram gue.


"Iya,iya." jawabnya dan langsung berdiri, lalu berjalan kearah ranjang untuk mengambil kotak hadia itu.


Bryan pun kembali duduk di samping gue sambil memegang kotak yang Ia ambil tadi.


"Ini, hadia buat lu." ucapnya sambil memberikan kotak itu ke gue.


"Gue gak tau maksud lu apa, tapi thanks. Udah ngasih gue hadia, walaupun gue gak butuh!" sambung gue setelah menerima kotak itu, dan langsung membukanya tanpa izin terlebih dulu.


Saat membuka kotak itu, gue sedikit terkejut dengan isinya. Tidak seperti luarnya yang tampak besar, tapi di dalamnya terlihat sangat kecil.


"Mobil?" sahut gue.


"Iya, itu mobil. Gue denger lu akhir-akhir ini selalu naik taksi, dan lu akhir-akhir ini selalu telat ke sekolah. Jadi gue beliin lu mobil, biar lu gak perlu nunggu taksi lagi dan gak telat lagi." jelasnya.


Gue sontak menatapnya, dan berkata. "Gue gak butuh!" lalu mengembalikan kunci mobil itu kepadanya.

__ADS_1


"Eh!? Ke-kenapa? Lu gak suka? Biar gue beliin yang lain aja, tinggal bilang mau mobil yang mana." sambungnya tampak kebingungan.


"Gak! Percuma lu kasih gue mobil, gue juga gak bakal pakai." jawab gue.


*Karna orang tua gue yang bakal pakai, atau bisa aja di jual.* batin gue.


"Kenapa? Lu gak mau pakai mobil pemberian gue? Atau mobil ini terlalu murah?" tanyanya.


"Gue gak bisa jelasin! Intinya gue gak bisa nerima mobil itu, mending lu jual lagi. Gue benar-benar gak butuh, sumpah!" jawab gue.


"Lu kenapa, sih!!? Bukan cuma mobil! Hadia-hadia gue yang lain pun, selalu lu tolak!! Lu gak ngehargai gue, Jes!!" geramnya.


"Gue kan udah bilang, jangan ngasih apapun ke gue. Gue gak mau apapun dari lu, gue cuma mau lu menjauh dari gue! Itu doang!" balas gue.


Tapi tiba-tiba saja Bryan mendorong gue dengan kuat sampai terbaring di atas sofa.


"L-lu mau apa!?" sahut gue yang terkejut karna Bryan tiba-tiba menindih gue.


"Kenapa? Apa obatnya belum bekerja?" ucapnya.


"Jes...gue suka banget sama lu, gue udah hampir gila karna gak bisa dapatin lu! Gue mau lu, Jes!! Gue bakal ngasih segalanya, gue juga bakal jadi kayak Reyhan kalau lu mau! Tolong terima gue, Jes...tolong..." racaunya seperti orang yang mabuk.


"Lu kenapa, sih—"


Ucapan gue tiba-tiba terpotong, karna kepala gue yang rasanya seperti di pukul dengan sangat gue.


"Apa obatnya mulau bekerja? apa rasanya sakit? Tenang aja, rasa sakitnya hanya sebentar saja. Aku akan berbuat baik setelah itu." sambungnya.


"Maksud lu apasih!!? Lu gila ya!!? Obat apa yang lu maksud, hah!!? Mau mau ngebunuh gue!!?" geram gue yang berusaha untuk mendorongnya.


Bryan sontak memegang kedua tangan gue dan di letakkannya di atas kepala gue.


"Ayolah...jangan memberontak, tunggu obatnya selesai bekerja. Baru gue lepasin lu." ucapnya.

__ADS_1


"TOLONG!! ADA ORANG MESUM DISINI!! TOLONG!!" teriak gue.


"Percuma lu teriak, ruangan ini kedap suara. Jadi, lebih baik lu diam, Jes..." sahutnya.


Tiba-tiba saja gue merasa panas di seluruh tubuh gue. Rasanya sangat panas, dan membuat gue menggeliat di bawah Bryan.


"Ukh...ke-kenapa panas banget? To-tolong lepas...aaahh..." tanpa gue sadari, gue malah mengeluarkan suara yang terdengar sangat aneh.


Bryan tiba-tiba menyeringai ke gue, dan sontak melepaskan ke dua tangan gue.


"Kenapa? Panas? Bajunya mau gue lepasin?" tawarnya dengan senyum liciknya.


"Gak!! Gue mau keluar!!" tolak gue, dan langsung bangun dari posisi gue.


Gue berusaha untuk berdiri dengan kepala yang sangat sakit dan tubuh yang tidak memiki tenaga.


Setelah gue berhasil berdiri, gue langsung melangkah dengan pelan menuju ke pintu. Saat sampai di pintu, gue berusaha untuk membuka pintu itu.


Tapi pintu itu malah terkunci, gue akhirnya memukul-mukul pintu itu dan berteriak meminta bantuan.


Tiba-tiba saja ada yang memeluk pinggang gue dari belakang, dan menjilat telinga gue.


Gue yang terkejut, langsung berbalik dan mendorong Bryan dengan kuat.


"L-lu mau ngapain!? Jangan mendekat!! Gue bakal laporin lu kepolisi nanti!!" ancam gue.


Bryan tiba-tiba mendekati gue dan sontak mendorong gue sampai menelpel ke pintu.


Ia tiba-tiba mencium bibir gue dan melum*tnya. Anehnya, gue sama sekali tidak memberontak. Gue malah mengikuti permainan lidahnya yang bermain di dalam mulut gue.


Tiba-tiba saja, tangan Bryan menyentuh paha gue dan naik sampai ke pinggang gue. Ia sontak menggendong gue dan berjalan entah kemana, tapi bibir kami masih menyatuh.


Bryan meletakkan gue di atas ranjang, dan dia berdiri tepat di hadapan gue. Ia tiba-tiba melepas pakaian bagian atasnya, dan melanjutkan permainannya itu.

__ADS_1


Rasanya sangat aneh, tapi gue tidak menolak permainannya itu. Gue gak tau apa yang Ia lakukan sekarang, pikiran gue sangat kacau.


Bersambung


__ADS_2