Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Cerita Aneh Jessica


__ADS_3

Tamparan Jessica benar-benar sangat keras sampai membuat telinga gue berdengung dan pipi gue rasanya seperti terbakar.


Gue sontak terduduk dan menatap Jessica yang menatap gue dengan raut wajah marah.


"Maaf..." lirih gue sambil menunduk.


"Lu kenapa, sih!? Lu ada masalah apa lagi? Lu marah sama siapa? Kenapa lu malah ngelakuin ini lagi?" tanyanya.


"Bryan...gue gak suka ngeliat dia yang nyentuh lu semalam, seharusnya cuma gue yang bisa nyentuh lu! Pria lain gak boleh nyentuh lu! tsrmaksud dia!!" geram gue.


"Haah...gue juga gak bakal mau sama dia! Buat apa gue ngelakuin hal itu sama cowok yang gak gue suka, dan lagi. Lu kan tau sendiri, kalau semalam gue tanpa sadar malah terbawa kedalam permainannya." sambungnya.


"Iya, gue tau. Kali ini gue salah lagi, maaf..." ucap gue.


"Haah...sudah lah! Gue gak tau lagi sama lu, gue mau pakai baju dulu." jawabnya dan langsung turun dari ranjang.


"Yasudah, gue keluar dulu. Biar lu bisa pakai baju tanpa ada gangguan." saran gue sambil menurunkan kaki gue ke lantai.


Tiba-tiba saja Jessica berdiri di depan gue, gue langsung mengangkat kepala gue dan menatap wajahnya.


"Siapa yang suruh lu keluar? Buat apa gue panggil lu kalau ujung-ujungnya lu keluar!?" kesalnya.

__ADS_1


"Ta-tapi—"


"Duduk diam!! Biarin gue pakai baju dulu, baru kita ngobrol." potongnya lalu berbalik dan mulai memakai bajunya.


Tak butuh waktu lama untuk Jessica selesai memakai seluruh pakaiannya, Ia pun duduk tepat di samping gue.


"Tadi gue dapat telpon dari Nyokap gue, dia bilang kalau lu udah ngirim mobil kerumah. Dan di nyuruh gue buat sampaikan pesannya untuk lu." ucap gadis itu.


"Pesan apa? Ucapan terimakasih?" tanya gue sambil menengok dan menatapnya.


"Anda boleh memiliki Putri saya, tapi berikan saya perusahaan milik anda. Dan anda bisa mendapatkan tubuh Putri saya seutuhnya tanpa perlu izin lagi kepada kami." sambungnya yang membuat gue bingung.


"Maksud lu apa? Gue gak nger—"


"Apa-apaan!!? Kenapa mereka ngejual lu ke gue!? Kalau pemimpin mafianya bukan gue, lu bisa aja langsung di jual ke orang lain atau bisa aja langsung disiksa sesuka mereka! Emang orang tua lu gak kasian apa sama lu!!?" geram gue.


"Gak, di pikiran mereka gue cuma seorang pembunuh." jawabnya.


"Pembunuh apasih!!? Gue gak ngerti, gue sama sekali gak ngerti kenapa lu selalu disiksa sama mereka. Lu bilang kalau yang seharusnya mati itu lu, bukan kakak lu. Emang kenapa? Ada kejadian apa dulunya!!?" kesal gue.


"Dulu keluarga gue termaksud keluarga yang harmonis, Bokap gue yang punya posisi Direktur Keuangan di perusahaan besar. Setiap Bokap gue libur, keluarga gue selalu menyempatkan diri untuk ke taman bermain. Tapi, saat gue umur 9 tahun dan kakak gue 10 tahun. Di hari Minggu, tepatnya tanggal 20 Februari. Bokap gue di tuduh mengelapkan uang kantor dan alhasil orang tua gue gak ada waktu untuk mengajak kami ke taman bermain." jelasnya sambil memainkan kuku jari-jarinya.

__ADS_1


"Gue dulu anak yang cengeng dan permintaan gue harus di turuti. Gue maksa Kakak gue buat nemenin gue ke taman bermain yang jaraknya cukup jauh dari rumah gue. Dia memang mau, tapi saat di perjalanan naik sepeda ke taman bermain. Gue tiba-tiba jatuh dari sepeda dan terlempar ketengah jalan, gue gak tau pasti alasan gue jatuh kenapa. Tapi di saat itu, ada mobil yang sangat besar yang sedang menuju ke arah gue..." sambungnya.


"Setelah itu, gue gak tau pasti ceritanya gimana, karna gue tiba-tiba di rumah sakit. Tapi orang tua gue bilang, kalau kakak gue nyelamatin gue dan kakak gue meninggal terlindas mobil dengan tubuh yang rata." lanjutnya.


"Cerita macam apa itu!!? Mana ada orang tiba-tiba di rumah sakit, dan anehnya. Emang lu ngeliat mayat Kakak lu sendiri? Bener gak dia meninggal terlindas mobil?" sahut gue yang kurang mengerti dengan cerita Jessica.


"Gue juga gak tau, tapi yang gue alami memang kayak gitu. Orang tua gue ngelarang gue buat ngeliat mayat Kakak gue, dia bilang kalau pembunuh seperti gue gak bisa ngeliat mayat yang sudah di bunuhnya." jawabnya.


"Gak!! Lu bukan pembunuh! Ada hal yang lu lupakan dari cerita lu itu, makanya ada yang gak nyambung dari cerita lu." sambung gue.


"Tenang aja, gue bakal cari tau tentang kakak lu itu. Gue bakal buktiin kalau lu bukan pembunuh." ucap gue.


*Gue gak tau pasti, apa Jessica berbohong atau tidak. Tapi, kalau di bohong, apa yang sebenarnya terjadi di keluarganya?* batin gue.


"Hm...yasudah, lu bisa kembali ke kamar lu dulu. Gue harus ganti baju."


"Iya." jawabnya dan langsung berdiri, lalu melangkah keluar dari ruangan gue.


"Haah...apa dia sedang mengarang cerita? Mana ada cerita seperti itu, dia pikir ini Novel yang bisa membuat cerita seeenaknya!?" gerutu gue.


"Kalau sampai ada maksud lain darinya dan juga keluarganya, gue sudah tidak bisa mengelak perkataan Andre untuk membunuhnya." gumam gue.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2