Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. Nomor Tak Dikenal


__ADS_3

Aku yang terlalu sibuk bekerja, sampai lupa kalau jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mulai dari siang sampai sekarang, aku belum bertemu dengan Carmelia. Saat makan malam pun, aku tidak hadir di meja makan dengan alasan sibuk.


"Tuan, apa anda tidak kembali kekamar? ini sudah cukup larut, pasti Nyonya sudah tidur sekarang," cetus Jordan yang memecahkan keheningan di ruangan ini.


"Mungkin sebentar lagi aku akan kembali. Jika kau ingin kembali, kembalilah. Tak apa meninggalkan ku disini sendiri."


"Saya memang cukup mengantuk, tapi bagaimana bisa saya meninggalkan and sendiri disini. Lebih baik kita sama-sama keluar saja, Tuan."


"Haah... kenapa kau keras kepala sekali, sih?" protes ku sambil menutup dokumen yang ada di hadapan ku, lalu berdiri.


"Yasudah, hari ini sampai sini saja," lanjut ku lalu melangkah kearah pintu. Kami berdua pun pergi kearah yang berbeda untuk ke kamar kami masing-masing.


Jujur saja, aku masih ragu untuk kembali ke kamar. Aku takut Carmelia masih terbangun dan kita malah kembali berdebat lagi. Tapi saat sampai di kamar, ternyata lampu kamar sudah mati dan hanya tersisa lampu tidur saja yang memberi cahaya di dekat ranjang. Karna harus mengganti pakaian dulu, aku akhirnya melangkah kearah kamar mandi terlebih dulu.


Tapi, saat aku ingin melangkahkan kaki ku kedalam kamar mandi. Tiba-tiba saja ada suara ponsel berdering dengan keras, aku yakin itu bukan suara ponsel ku. Aku pun berbalik dan melangkah kearah suara itu, dan ternyata ponsel yang berdering itu adalah milik Carmelia.


Aku ragu mengangkat telpon itu, aku takut Carmelia akan marah karna mencampuri urusannya. Tapi ponselnya tak kunjung berhenti berdering, daripada membuat Carmelia terbangun. Aku memilih untuk mengambil ponsel itu dan mengangkat telpon itu.


"Halo, selamat apa," sapa ku, tapi tiba-tiba saja telpon itu putus, tanpa ada sepatah katapun dari seberang sana.


"Eh? kok mati?" heran ku sambil menatap layar ponsel dan terpampang jelas nomor yang menelpon itu nomor yang tak dikenal.


"Apa cuma orang iseng? tapi, kenapa nelponnya kenomor Carmelia? bukannya nomor yang kita pake itu di jaga keamanannya ya?" Semakin di pikirin, aku semakin penasaran dengan orang itu. Aku pun mengambil ponsel ku, dan memotret nomor tak dikenal itu.

__ADS_1


Aku pun mengembalikan ponsel Carmelia di tempatnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Setelah selesai mengganti pakaian, aku memilih untuk tidur di sofa dengan tanpa memakai selimut dan hanya menggenakan bantal sofa saja.


***


Pagi-pagi aku sudah terbangun karna lagi-lagi perasaan mual itu kembali menggangu ku. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya. Setelah selesai, aku pun keluar dari kamar mandi. Tapi, lagi-lagi aku mendengar suara ponsel yang berdering, dan itu suara ponsel milik Carmelia. Karna ini masih terlalu pagi, dan Carmelia belum bangun, aku akhirnya mendekati ponsel itu dan meraihnya.


Saat menatap nomor ponsel yang menelponnya, aku merasa tidak asing dengan 3 angka di belakang nomor itu. Dengan cepat aku mengambil ponsel ku, dan melihat kembali hasil foto semalam.


"Eh? sama?" heran ku setelah memastikan kesamaan kedua nomor itu.


"Siapa sih? angkat aja kali, ya?" ucap ku lalu mengangkat telpon itu.


"Halo, selamat pagi. Ini dengan siapa ya?" tanya ku, dan lagi-lagi telpon itu terputus setelah aku selesai berbicara.


Karna penasaran dengan nomor itu, aku langsung menelpon Jordan setelah meletakkan ponsel milik Carmelia kembali. Aku menunggu Jordan mengangkat telpon ku, sambil berjalan ke arah sofa. Saat aku duduk ternyata Ia sudah mengangkat telpon ku.


"Ha...Lo...?"


"Jordan! bangun!!"


"Hah? Tuan!? ada apa? apa ada masalah? ini pukul berapa, Tuan?"


"Ini pukul lima pagi."

__ADS_1


"A—apa? li-lima pagi? Pukul lima pagi, Tuan?"


"Sudahlah, ada yang lebih penting dari pukul lima pagi."


"Ada masalah apa, Tuan? Apa anda ingin makan sesuatu lagi? atau anda ingin melakukan sesuatu?"


"Hei!! kau sekarang sedang mengejek ku!"?"


"Hah? tidak, Tuan. Saya hanya bertanya saja."


"Terserah lah! intinya sekarang buka laptop mu, dan hubungi bagian satelit. Suruh dia untuk melacak nomor yang akan ku kirim kepada mu."


"Hah? nomor? kenapa harus satelit? kan kita bisa menyuruh polisi saja."


"Hei! polisi butuh berjam-jam untuk melacak satu nomor saja, lebih baik kita gunakan satelit saja. Itu lebih cepat dan tepat."


"Haah...baiklah, Tuan. Silahkan kirim nomornya kepada saya, saya akan langsung menghubungi bagian satelit."


"Oke," jawab ku, lalu memutuskan telpon itu. Aku pun mengirim nomor itu kepada Jordan.


"Siapapun itu, aku akan menghukum mu!" gumam ku sambil menatap nomor itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2