
"Lu lagi bercanda, hah?! dizaman ini, memang masih ada gitu cewek yang menjaga tubuhnya sendiri? sampai sekarang gue hidup, udah berapa kali gue ngeliat cewek-cewek yang ngebiarin cowok buat nyentuh tubuhnya sembarangan..." ucap gue.
"dan lu? lu malah bilang kalau lu ngejaga tubuh lu? cih!! menjijikan." lanjut gue sambil menyeringai.
"Lu terlalu menilai seenak lu. Lu gak tau, ada beberapa cewek diluar sana yang masih menjaga tubuhnya dengan baik, tapi lu? Lu malah ngejual cewek-cewek yang mungkin tubuhnya masih bersih tanpa disentuh sama cowok mana pun!!" sahutnya.
"Gue kira, lu beda dari cowok brengsek di luar sana. Tapi nyatanya? Lu malah paling brengsek dari cowok-cowok yang gue temui!! lanjutnya yang benar-benar membuat gue terkejut.
"Oke, gue akui kalau gue memang cowok brengsek. Tapi, gue mau nanya sama lu..."
"Buat apa lu ngejaga tubuh lu itu? apa lu nunggu cowok baik, yang bakal jadi suami lu? Baru lu ngerelain tubuh lu sama dia gitu?" tanya gue.
"Ya...gue bakal ngasih tubuh gue dan juga hati gue ke suami gue." jawabnya dengan serius.
"Oke!! Kapan lu bakal nikah?!"
"A-apa maksud lu?"
"Gue tanya, kapan lu bakal nikah? Umur berapa lu mau nikah? dan apa yang lu mau kalau nikah?" tanya gue sekali lagi.
"Buat apa lu nanya kayak gitu? emang lu mau nikahin gue gitu? lu becanda, hah?!! kita aja masih 18 tahun, dan lu malah mau ni—"
"Gue gak becanda!!" potong gue sambil menatap gadis itu serius.
"Gue bakal nikahin lu, sesuai dengan persyaratan lu. Tapi gue juga punya persyaratan sendiri." ucap gue.
"Karna gue pemimpi Mafia, dan gue sama sekali gak boleh punya kelemahan. Di antara kita tidak boleh ada kata cinta sedikitpun, dan lagi gue gak bakal izinin lu buat punya anak. Kenapa?"
"Karna anak itu bisa aja, jadi kelemahan gue. dan gue gak mau itu!"
"Persyaratan macam apa itu?!! lu pikir ini nikah kontrak apa, lu gila ya?"
"Gue bisa ngasih lu segalanya, harta? Tahta? Gue bakal ngasih segalanya, tapi tidak dengan kasih sayang. Gue gak bakal pernah ngasih itu." sambung gue.
"Ogah!!!" teriaknya.
"Gak bakal!! gue gak mau!! gak akan pernah!! gue gak mau terlibat pernikahan gila macam itu!!" teriaknya lagi.
"Sekarang berhenti berbicara hal-hal yang tidak masuk akal. Gue disini, hanya ingin hidup, dan mencari kehidupan baru."
"Gue gak ada niatan buat menjalin hubungan sama lu, benar kata lu. Gue seharusnya bersyukur karna lu nolongin gue, itu saja sudah cukup. Lu nerima gue disini aja, gue udah syukur. Gue cuma butuh tempat yang nerima gue, yang ngehargai gue!!" ucapnya, tanpa membiarkan gue berbicara sedikitpun.
"Itu doang...gue cuma mau itu doang..." lirihnya.
"Oke...anggap saja gue sudah nerima lu tinggal disini, anggap aja rumah lu sendiri. Sekarang pakai baju, dan turun kebawah." sambung gue dan langsung berbalik lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Hah..." hela nafas gue setelah keluar dari kamar itu.
"Ada masalah apa, Tuan?" tanya Jordan.
"Tidak ada." jawab gue dan langsung melangkah turun untuk berkumpul dengan yang lain.
Setelah berdiri di depan mereka gue sontak berkata. "Ada hal yang harus aku beritahu ke kalian."
"Kalian tau kan gadis yang selalu bersama ku?" tanya gue.
"Iya, Tuan." jawab mereka.
"Sekarang gadis itu akan tinggal bersama kita, aku harap kalian menjaganya seperti kalian menjaga ku. Jangan hanya di markas saja, jaga dia saat sedang di luar, selama 24 jam." ucap gue.
"dan panggil gadis itu dengan sebutan Nyonya Carmelia. Jika aku ada mendengar kalian memanggil atau memperlakukan hadis itu seenaknya, aku akan langsung membunuh kalian. Mengerti?!!" tegas gue.
"Mengerti, Tuan." jawab mereka.
"Baiklah, kalian pergilah ke basment lebih dulu. Aku akan menyusul bersama Jordan." perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab beberapa bawahan yang telah gue tunjuk, lalu pergi dari hadapan gue.
Akhirnya Jessica pun turun, dan menghampiri gue. Tapi Ia kali ini menunduk, entah karna apa.
Setelah sampai di mobil, semua bawahan gue lebih dulu keluar dari basement, lalu kembeli membentuk formasi seperti mengelilingi mobil gue.
Awalnya suasana didalam mobil sangat sunyi, seperti tidak berpenghuni. Tapi tiba-tiba saja Jordan memulai pembicaraan dengan gue.
"Oh ya, Tuan. Saya lu mengatakan sesuatu kepada anda." sahutnya.
"Cepat katakan!" ucap gue.
"Mobil Lamborghini edisi terbaru yang hanya ada 10 di dunia, besok akan langsung di luncurkan. Apa anda ingin membelinya, Tuan?" tanyanya.
"Apa?!! kenapa kamu baru bilang sekarang?" sahut gue terkejut.
"Maafkan saya, Tuan." jawabnya.
"Sudah lah, hubungi orang dalam disitu. Jangan sampai aku tidak mendapatkan 1 dari 10 mobil itu!!" perintah gue.
"Baik, Tuan. Saya akan langsung menghubunginya, dan langsung mentransfer pembayarannya."
"Oke, jangan sampai aku tidak mendapatkan mobil yang sudah lama ku inginkan!!" tegas gue.
"Saya akan memastikan, bahwa anda akan mendapatkan mobil itu." ucap Jordan.
__ADS_1
"Ya, aku menunggu kabar dari mu." jawab gue.
"Baik, Tuan." balasnya.
Suasana mobil kembali sunyi kembali, gue hanya bisa diam saja sambil memainkan senjata gue.
*Kok rasanya lama banget, ya?* batin gue.
"Kita akan sampai, 5 menit lagi." sahut supir itu.
"Itu lebih baik." jawab gue.
Seperti yang di katakan oleh supir gue, kami akhirnya sampai di rumah Pria itu.
Seperti biasa, para bawahan gue yang lebih dulu menerobos masuk kedalam rumah itu.
Tapi kali ini tidak semudah sebelumnya, banyak bodyguard di depan rumah Pria itu. Para bawahan gue harus melawan mereka lebih dulu, baru gue masuk kedalam rumah itu.
"Kenapa ada banyak sekali bodyguard?" sahut gue.
"Pria itu sudah sering mengirim pembunuh bayaran ke Pria ini, tapi selalu gagal karns para bodyguard-nya yang sangat banyak seperti sekarang. Maka dari itu, Ia sampai berani menawari anda untuk membunuh Pria ini." jelas Jordan.
"Hah...pantas saja." jawab gue dan kembali mengamati perkelahian para bawahan gue bersama para bodyguard itu.
Dari pengamatan gue, para bodyguard itu setara dengan para bawahan senior gue. Mereka cukup ahli berkelahi, dan memakai senjata.
"Ini tidak bisa dibiarkan." ucap gue dan sontak ingin membuka pintu mobil itu.
"Tidak, Tuan!!" sahut Jordan.
"Anda tidak boleh keluar." larang Jordan.
"Oh ya? apa berani melarang ku?!" ucap ku.
"Ini demi keselamatan anda, biarkan para bawahan anda melawan mereka. Tidak mungkin mereka akan kalah, karna ada 6 bawajan terbaik anda." jelasnya.
Tapi tiba-tiba saja, ada suara tembakan yang membuat ku cukup terkejut dan juga panikt.
Gue langsung berbalik dan menatap keluar jendela, dan ternyata Mark yang mengenai tembakan itu.
"Mark?!!" sahut gue.
Bersambung
__ADS_1