
Puluhan mayat yang tergeletak di lantai dengan genangan darah yang memenuhi lantai kastil itu. Lantai yang seharusnya berwarna putih bersih, malah berubah menjadi warna merah darah.
Pria yang berdiri di depan para mayat itu, terdiam dengan tatapan kosong dan masih memegang senjata di kedua tangannya. Di belakangnya masih ada seorang Pria yang masih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan tak henti-hentinya berteriak sampai membuat suaranya hampir habis. Dan diisi lain, ada Andre, Jordan, dan Grissham yang hanya memantau dari belakang dan menyaksikan amarah seorang Suami yang di tinggalkan oleh Istrinya.
Marcel tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan menyentuh darah yang berada di bawah kakinya itu dengan jari telunjuk tangan kanannya, lalu kembali menenggakan tubuhnya. Darah yang menempel di ujung carinya itu, Ia usapkan di ujung kedua pistolnya. Tidak ada maksud lagi dari apa yang Marcel lakukan, Ia hanya memberikan darah kepada sang pembunuh (Senjatanya).
"Bawa anjing-anjing ku ke ruangan mereka, dan seret juga para makanannya ke sana. Biarkan mereka memakan semuanya tanpa terkecuali!" perintah Marcel, lalu berbalik dan melangkah kearah Pria yang terikat di kursi.
Para bawahan dan penjaganya pun mulai membawa semua anjing-anjing itu, dan juga menyerat satu persatu semua mayat tanpa kepala itu.
Marcel menatap tajam Pria yang penuh dengan darah di sekujur tubuhnya, dan wajah yang amat sangat pucat itu malah membuat Marcel tersenyum miring. Pria yang membunuh berpuluh-puluh orang dengan tangannya sendiri, dan hanya memasang ekspresi datar seperti tidak melakukan apapun. Ia malah tersenyum miring saat melihat Bryan yang tampak amat sangat tersiksa di hadapannya.
"Ada apa? apa kau mulai lelah dengan alat itu?" tanya Marcel sambil memiringkan kepalanya. Tapi Bryan tak kuasa menjawab sepatah katapun, ataupun menggerakkan tubuhnya walaupun hanya sedikit.
__ADS_1
"Jordan, ini sudah pukul berapa?" tanya Marcel kepada Jordan, tanpa mengalihkan pandangannya dari Bryan.
Jordan degan cepat melihat jam tangannya, dan menjawab. "Sudah pukul 12 malam, Tuan."
"12 malam? berarti masih ada 5 atau 6 jam, sampai alat ini berhenti, bukan? Hm.... bagaimana kalau kita minum-minum dulu? aku mulai lelah dengan pekerjaan ini," saran Marcel.
"Biar saya suruh pelayan untuk menyiapkan minumannya," cetus Andre.
"Kau sangat peka, Andre~ pergilah dan jangan lupa untuk megambil kursi untuk kalian bertiga."
Tak butuh waktu lama, Andre kembali dengan para pelayan yang membawakan beberapa botol wine dan whiskey. Mereka juga menyusun meja dan kursi tepat di hadapan Bryan, lalu duduk di kursi yang telah di sediakan.
Saat Andre ingin menuangkan whiskey ke gelas Marcel, Marcel tiba-tiba menahannya dan mengambil botol whiskey itu. "Izinkan aku untuk menuangkannya ke gelas kalian."
__ADS_1
Andre dan Jordan sangat terkejut dengan perkataan yang kelur dari mulut Marcel sendiri, bukannya menjawab mereka berdua malah saling menatap satu sama lain.
"Lakukanlah!" cetus Grissham yang mulai tadi tak bersuara sedikitpun.
Marcel hanya tersenyum tipis saat mendengar jawaban Grissham, Ia pun menuangkan whiskey itu ke dalam gelas Grisstdan di susul ke gelas Andre dan Jordan.
"Tidak perlu sungkan, anggap saja malam jni aku seperti teman bukan tuan kalian," kata Marcel sembari meletakkan botol whiskey itu keatas meja, setelah mengisi gelas miliknya.
Marcel tiba-tiba mengangkat gelasnya dan berkata, "Mari bersulang~" dengan wajah yang terlihat bahagia.
Ketiga Pria itu merasa aneh dengan sikap Marcel, tapi merek ahanya diam dan mengangkat gelas mereka sama seperti Marcel, lalu menempelkan ujung gelas mereka bersama. Bunyi dentingan gelas keempat Pria itu, menyatu dengan suara alat yang sedang menyiksa Bryan dan jeritan Pria itu.
Setelah meminum sedikit whiskey itu, Jordan tiba-tiba mengingat sesuatu dan Ia langsung meletakkan gelasnya di sampingnya, lalu berkata. "Tuan, saya menemukan senjata milik Nyonya Carmelia."
__ADS_1
BERSAMBUNG