
Selagi menunggu Jordan menghubungi ku, aku memilih untuk bersantai sambil menonton Tv dengan suara yang cukup kecil agar Carmelia tidak terbangun. Tidak butuh 30 menit, aku sudah mendapatkan telpon dari Jordan.
"Lumayan juga," gumam gue, lalu mengangkat telponnya.
"Halo, Tuan."
"Bagaimana? apa kau sudah mengetahui siapa dibalik telpon iseng itu?"
"Maaf, Tuan. Kami sudah menelusuri nomor itu sampai akar-akarnya, tapi kami tidak menemukan keberadaan sang penelpon itu. Beberapa menit sebelum anda menelpon saya, sepertinya Ia sudah melenyapkan nomornya."
"Hah? bagaimana bisa? aku menelpon mu tepat setelah aku memastikan nomor itu dengan nomor yang menelpon Carmelia semalam. Tapi dia malah melenyapkan nomornya dengan waktu sesingkat itu?"
"Jika itu nomor Iseng, bagaimana mungkin dia bisa melenyapkan nomornya dan menghapus jejak miliknya?"
"Saya tidak bisa memastikan siapa dan bagaimana cara orang itu mendapat nomor Nyonya, tapi saya akan meningkatkan keaman nomor milik Nyonya dan anda. Saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi."
"Haah... sudahlah. Lanjukan tidur mu." Aku pun memutuskan telpon itu.
"Kenapa ada orang yang memilih untuk hidup pendek? padahal aku sedang tidak berniat membunuh siapapun!" heran ku.
Karna aku ingin bersiap lebih pagi, aku memilih untuk menelpon Vernon dan menyuruhnya untuk membawa pelayan, untuk membantuku bersiap. Memang ini terlalu pagi untuk bersiap, karna biasanya aku selalu bersiap setiap pukul 7 pagi atau bahkan lebih. Tapi, karna tidak ingin membuat mood Carmelia buruk karna melihat wajah ku. Jadi lebih baik untuk menghindarinya, sampai Moodnya benar-benar kembali membaik.
Di ruangan yang dingin, dengan tumpukan dokumen di setiap mejanya, dan ruangan yang sedikit gelap ini, hanya ada aku seorang diri. Aku memakai pakaian seperti biasa, kemeja putih dengan kedua lengan yang di gulung, dan celana hitam dengan tambahan sepatu kulit berwarna hitam juga.
Aku menyalakan lampu ruangan terlebih dulu, lalu melangkah kearah meja kerja ku yang masih terihat sama seperti semalam.
"Apa karna aku terlalu pagi, makanya tidak ada seorang pun yang merapikan ruangan ini?" heran ku yang melihat dokumen yang berserakan dimana-mana.
__ADS_1
Sebelum duduk, aku membuka gorden jendela terlebih dulu. Tentu saja tidak ada matahari, langit masih terlihat gelap. Tapi pagi-pagi seperti ini, para penjaga sudah berkeliling untuk memastikan keaman kastil.
"Sepertinya lebih baik aku keluar, sambil menunggu ruangan ini bersih," gumam ku, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Aku menelusuri lorong yang masih terlihat sepi, tapi sudah ada beberapa pelayan yang terlihat di setiap lorong yang ku lewati. Saat di depan pintu utama kastil, ternyata pintu itu masih tertutup dengan sangat rapat.
"Apa ini bisa di buka? bukannya kuncinya ada pada Vernon ya?" gumam ku sambil memegang gagang pintu itu.
"Aku baru sadar, ternyata pintu itu berkali-kali lipat sangat besar dari pintu biasa. Sudah seperti pintu perbatasan Dunia dan akhirat," heran ku.
Tiba-tiba saja ada yang memanggil ku dari belakang, aku langsung menengok kebelakang dan menatap orang itu.
"Loh? Andre? kapan kau kembali?" tanya ku saat melihat Andre yang melangkah mendekati ku.
"Selamat Pagi, Tuan," sapanya sambil menunduk.
"Saya baru kembali 1 jam yang lalu, Tuan."
"Lalu, kenapa kau disini? Seharusnya kau beristirahat kan?"
"Saya tidak bisa tidur, mungkin karna kopi yang saya minum tadi."
"Ada-ada saja."
"Oh ya, Tuan. Kenapa anda bangun sepagi ini? saya terkejut saat melihat anda di depan pintu, saya pikir itu bukan anda."
"Aku hanya ingin bangun pagi saja, karna kupikir diluar sangat segar. Jadi, aku ingin keluar dan menghirup udara sambil menunggu ruangan ku di bereskan."
__ADS_1
"Kalau begitu, izinkan saya pergi bersama anda. Saya juga ingin mencari angin, saya dengar danau di dekat sini sangat indah saat pagi."
"Danau? ah! aku baru ingat di samping kastil ada Danau, karna tidak pernah berjalan-jalan keluar. Aku sampai lupa kalau kastil di bangun di tengah-tengah hutan yang ada danaunya."
"Kalau begitu, mari. Saya antar ke danau itu," ajaknya.
Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, dan Pria itu pun melangkah mendekati pintu. Lalu menarik kedua pintu itu, dengan gampangnya pintu yang tadinya terlihat tertutup dengan rapat, malah terbuka dengan sangat mudah ditangan Andre.
*Apa aku yang lemah, atau memang dia yang terlalu kuat?* batin ku yang heran melihat pintu itu mulai terbuka lebar.
Andre pun menuntun ku keluar dari kastil, karna ini hanya jalan-jalan biasa saja. Para penjaga yang tadinya ingin menemani kami, aku malah menyuruhnya untuk tetap berada di posisi mereka dan membiarkan kami berjalan berdua saja.
"Oh iya, Jordan. Apa kau tau bagaimana cara seseorang melenyapkan nomor telponnya, sampai jejak keberadaannya juga hilang?" tanya ku.
"Memang kenapa, Tuan? Apa anda ingin melenyapkan nomor seseorang?"
"Hm... tidak, aku hanya penasaran dengan seseorang yang menelpon Carmelia. Saat di periksa, nomor itu dinyatakan lenyap tanpa jejak sedikitpun."
"Hah? bagaimana bisa? itu cukup sulit di lakukan oleh orang biasa, kecuali orang itu ahli dalam hal jaringan seperti itu."
"Haah... sudahlah, mungkin dia memang hanya orang iseng saja. Dan lagi, Jordan sudah mengatakan untuk meningkatkan keaman nomor Carmelia."
"Saya harap orang itu mati, walaupun bukan dengan tangan saya sendiri. Bisa-bisanya dia mengusik Nyonya Anggara!"
Mendengar perkataan Andre, aku langsung tersenyum tipis. Karna jika dilihat sikap Andre yang dulu dan sekarang, itu sangat berbeda. Ia yang dulu sangat membenci Carmelia, dan tidak ingin mencampuri urusan Wanita itu. Tapi sekarang? Ia malah selalu siap untuk menjaga Carmelia dengan kekuatannya sendiri.
BERSAMBUNG
__ADS_1