Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
S2. The Queen Of All Leaders


__ADS_3

"MARCEL!!!" teriak seseorang memanggil nama ku dengan suara yang sangat familiar di telinga ini.


Aku yang sedang sibuk membaca dokumen di meja kerja ku, sontak menenggak kepala ku dan menatap ke arah suara itu.


Seorang Wanita yang sedang berjalan ke arah ku dengan ekspresi wajah kesalnya, sambil membawa sebuah map di tangan kanannya.


"Haah... kesalahan apa lagi yang sudah ku perbuat?" gumam ku.


Wanita itu berdiri tepat di depan meja ku dan tiba-tiba melemparkan map yang Ia pegang tadi ke atas meja ku. Ia menatap ku dengan sangat tajam dengan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya.


"Ada apa? kenapa kau tiba-tiba datang dengan ekspresi seperti itu, sayang?" tanya ku lembut.


Benar, Wanita yang ada di hadapan ku ini adalah, Carmelia Marcel Anggara. Setelah 2 tahun berlalu, Wanita itu sekarang menjadi Wanita yang sangat kejam. Bukan hanya orang lain yang berani Ia hukum, Suaminya sendiri pun berkali-kali Ia marahi dan di beri hukuman.


Tapi, tidak seperti ku yang menghukum ataupun membunuh semua orang tanpa memedulikan apa orang itu baik atau jahat. Carmelia lebih memilih untuk menghukum orang-orang yang menurut nya pantas di hukum karna kejahatannya. Dan setiap aku melakukan kejahatan, Carmelia tak segan-segan memarahi ataupun memberikan ku hukuman di depan para bawahan ku.


Walaupun aku adalah seorang Pemimpin dari para pemimpin mafia di dunia ini, yang bisa menghancurkan Negara manapun dengan sekali perintah. Tapi, jika Carmelia sudah turun tangan. Siapun tidak bisa melawan perintahnya, termaksud diriku. Maka dari itu, Ia memiliki julukan. The Queen of All Leaders, Ratu dari segala Pemimpin.


"Tidak usah berpura-pura tidak tau, Marcel!! Aku benci tingkah bodoh mu itu!!" geram Carmelia.


*Aku salah apa lagi, Tuhan~?* batin ku.


"Aku sedang tidak berpura-pura, aku benar-benar tidak tau kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini?"


"Apa kau tidak lelah merampas milik orang lain? kemarin kau merampas tanah milik orang lain, dengan alasan untuk membangun Markas baru. Dan sekarang kau ingin merampas sebuah desa hanya untuk membangun kastil baru yang lebih besar dari kastil ini? apa kau gila!!?"


Mendengar perkataannya itu, aku sontak menengok kearah Jordan yang sedang terdiam sambil mendengarkan perdebatan kami.


*Jangan hanya diam, bantu aku menjelaskannya!* batin ku sambil menatap Jordan tajam.


Untungnya saja Jordan bisa di andalkan, Ia langsung melangkah mendekat ke arah kami, lalu berkata. "Maaf menyela, Nyonya. Tuan memang ingin membangun kastil yang lebih besar di pedesaan, karna Tuan tau bahwa Nyonya sangat menyukai suasana pedesaan. Tapi, Tuan tidak berniat untuk merampas desa itu, Tuan ingin membeli desa itu."


"Jordan, kau tau kan kalau aku membenci kebohongan?" ketus Wanita itu.

__ADS_1


"Tentu saja, Nyonya. Tapi sekarang saya sedang berkata jujur, kalau anda tidak percaya. Anda bisa bertanya kepada Agnella, Ia sedang membantu Andre mempersiapkan berkas-berkas jual beli untuk desa itu."


"Sayang, aku tau kau membenci sikap ku. Tapi aku bersumpah, tidak akan pernah merampas desa itu. Aku malah ingin memberikan para penduduk desa itu keuntungan, jika mereka menerima tawaran Jual beli ini." cetus ku.


"Setidaknya, sekali ini percayalah kepada ku. Jangan selalu berpikir buruk tentang ku."


"Baimana aku tidak berpikir buruk, kau saja seperti ini. Selalu bersikap sesuka hati mu, dan tidak memperdulikan pendapat orang lain."


"Baiklah, aku mengakui kesalahan ku. Aku benar-benar minta maaf, tapi tolong jangan marah lagi."


"Terserah!! lanjutkan pekerjaan mu, aku pergi!" ketusnya, lalu berbalik dan langsung melangkah keluar dari ruangan ku.


"Haah...kenapa dia selalu sesensitif itu?" keluh ku.


"Wanita memang selalu sensitif, Tuan. Apalagi, karna Tuan selalu meninggalkan Nyonya selama beberapa Minggu. Bagaiaman Nyonya tidak sesensitif itu? dan lagi, pernikahan anda sudah berjalan 2 tahun. Tapi sampai sekarang anda belum juga memiliki penerus."


"Aku belum membutuhkan penerus, masih terlalu dini untuk memiliki penerus. Dan lagi, dia sama sekali tidak pernah menyinggung masalah anak. Setiap bertemu, Ia selalu saja menyinggung semua kesalahanku ku."


"Butuh ataupun tidak, anda harus memiliki seorang penerus sesegera mungkin. Saya takut jika terjadi sesuatu kepada anda, dan tidak ada yang bisa melanjutkan posisi anda. Mungkin keluarga Anggara akan di turunkan dari jabatan yang sekarang."


"Anda ingin pergi kemana?" tanyanya.


"Menemui Istri tercinta ku~" jawab ku, dan langsung melangkah pergi meninggalkan Jordan seorang diri di ruangan itu.


Saat tak jauh dari ruang kerja ku, tiba-tiba ada yang berteriak. "Papa," dan sontak membuat ku menengok ke arah suara itu.


"Eh? Felix?" sahut ku terkejut melihat seorang anak laki-laki yang berlari ke arahku dan langsung melompat ke pelukan ku.


"Ada apa? kenapa kau berlari? apa Ibu mu memarahi mu lagi?" tanya ku sambil menggendong anak itu.


"Tidak, aku bersembunyi dari guru ku. Aku benci belajar," jawabnya polos.


"Oh...pantas saja kau berlari. Bagaimana jika guru mu mengadu kepada ibu mu? kau bisa di hukum nanti."

__ADS_1


"Kan ada Papa, Papa pasti memarahi Ibu kalah Ibu berani menghukum ku."


Mendengar perkataan anak itu, aku hanya tertawa kecil dan menyentil hidungnya. Anak yang berumur 5 tahun itu sudah berani menjadikan ku tembok untuk menghindari hukuman Ibunya.


"Baiklah, sekarang apa yang ingin kamu lakukan dengan ku? apa kau ingin bermain atau belajar menembak?" tawar ku.


"Hm...tidak, aku ingin menemui Ibu Carmelia. Aku merindukan Ibu cantik ku itu."


*Carmelia pasti senang jika aku membawa Felix kepadanya,* batin ku sambil tersenyum kecil.


"Baiklah, aku akan membawa mu ke Carmelia. Tapi, berjanjilah untuk tidak menggoda istri ku. Jangan memeluknya terlalu lama, jangan mencium bibirnya, dan jangan bermanja-manja dengannya."


"Hm...baiklah, aku berjanji." ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya.


"Oke, kita pergi sekarang."


Aku pun melanjutkan perjalanan ku sambil menggendong Anak laki-laki itu. Di perjalanan, aku menanyakan keberadaan Carmelia kepada para pelayan yang ku lewati. Setelah tau bahwa Wanita itu berada di perpustakaan, kami pun bergegas pergi menemuinya.


Saat sampai di perpustakaan, ternyata Wanita itu sedang duduk bersama dengan Agnella yang sekarang bekerja di bawah perintah Carmelia.


"Papa, jangan kesana. Aku takut," bisik Felix.


"Bukannya kamu ingin menemui Ibu Carmelia?"


"Iya, aku memang ingin menemuinya. Tapi—"


Sebelum Felix menyelesaikan perkataannya, Carmelia lebih dulu berteriak memanggil nama ku. "MARCEL!! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA!!?"


Karna takut membuat Wanita itu marah lagi, dengan cepat aku berlari kearahnya dan tidak memperdulikan perkataan Felix tadi.


BERSAMBUNG.


Ada yang tau, Felix anak siapa? kenapa dia memanggil Marcel dengan sebutan "Papa"? dan memanggil Carmelia dengan sebutan "Ibu"?

__ADS_1


Jawab di kolom komentar, ya~⬇️


__ADS_2