Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Para Musuh Yang Menyerang Markas


__ADS_3

  Gue sontak bangun dari posisi tidur gue, lalu menatap gadis itu dengan tajam.


  "Gue udah sering bilang sama lu, kita gak bisa pergi berdua aja. Banyak ancaman di luar sana, yang entah itu Kapan akan menyerang kita." ucap gue serius.


  "Ancaman apa? gue gak pernah tuh ngeliat lu dapat ancaman pembunuhan atau apapun itu. Malah...gue rasa, lu yang jadi ancaman bagi semua orang." sambungnya.


  *Lu gak ngerti situasi gue.* batin gue yang menahan diri untuk tidak berdebat.


  "Kenapa diam aja?" tanyanya.


  "Sudah lah, gak usah di perpanjang lagi. Lu masih baru di Dunia ini, jadi nurut aja sama gue." jawab gue.


  "Gue udah 2 bulan disini, terus lu bilang gue masih baru? gue udah paham sama Dunia kalian." sahutnya.


  "Haah..." hela nafas gue.


  "Mending lu diam aja, gue bener-bener malas berdebat." ucap gue.


  "Lu pikir gue gak paham sama Dunia kalian!? 2 bulan itu udah waktu yang lumayan lama, gue selalu mengamati apa yang kalian kerjakan. Gue juga belajar setiap ikut sama lu, tapi lu malah ngira gue gak ngerti apa-apa!!?" geramnya.


  "Hah...ayolah...gue gak bilang kalau lu gak paham sama Dunia Mafia, tapi setidaknya pahami lah. Gue aja yang belajar dari umur 9 tahun, rasanya masih kurang ilmu gue. dan lu? 2 bulan tuh masih banyak banget yang harus lu pelajari. Jadi...mending diam, gak usah ngoceh mulu. Gue pusing, tau!!" tutur gue.


  "Lu ngeremehin gue!!?" sahutnya yang menatap gue dengan ekspresi marahnya.


  *Salah mulu gue.* batin gue.


  "Lu kenapa, sih? dari tadi sensian banget! Gue ngomongnya baik-baik loh, lu malah marah-marah sama gue." protes gue.


  "Keluar lu!!" usirnya.


  "Lah? kenapa? terus makan malamnya?" tanya gue bingung.


   "Gak jadi! gue gak nafsu makan!!" jawabnya.


  "Yaudah..." balas gue dan langsung turun dari ranjangnya.

__ADS_1


  Saat gue ingin melangkah melewatinya, tiba-tiba Jessica berkata. "Permintaan malam ini gue ganti."


  "Hah? apa?" sahut gue bingung.


  "Gue minta, lu jangan masuk ke kamar gue dan jangan bicara sama gue lagi!!" tegasnya.


  "Hah...terserah lu aja. Kalau butuh sesuatu bilang aja sama Jordan, bye." ucap gue lalu melangkah keluar dari kamarnya dan masuk ke ruangan gue.


  Saat di kamar gue, gue lebih memilih untuk membaringkan tubuh gue di atas sofa dan berdiam diri, sampai gue tertidur.


  JESSICA POV*


  Setelah Marcel keluar dari kamar gue, gue hanya bisa berdiam diri sambil duduk di atas ranjang gue.


  Gue bingung, apa yang harus gue lakukan. Tapi malam ini Jordan gak ngambil ponsel gue, gue memilih untuk bermain ponsel.


  Tentu saja, gue harus hati-hati agar Jordan ataupun Marcel tidak melihat gue yang bermain ponsel di dalam markas.


  Awalnya semuanya berjalan dengan lancar, gue hanya membuka media sosial gue dan juga membalas pesan dari teman-teman gue.


  Tapi anehnya, semakin lama suara keributan itu semakin bertambah. Bukan hanya itu, ada suara tembakan berkali-kali mulai tadi.


  Gue yang penasaran, langung meletakkan ponsel gue kembali ke dalam tas gue lalu melangkah menuju pintu kamar gue .


  Saat gue ingin meraih gagang pintu itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu gue dari luar.


  "Lu!? ngapain kesini? gue kan udah bilang, jangan ke kamar gue!" kesal gue.


  "Bukan waktunya marah-marah, sekarang para musuh sudah menerobos masuk." ucapnya yang membuat gue bingung


  "Musuh? lu becanda, ya? maksud lu apa?" tanya gue.


  "Terserah lu mau anggap gue apa!" jawabnya dan sontak menggenggam tangan gue, lalu menarik gue pergi.


  "Lu mau bawa gue kemana!?" sahut gue.

__ADS_1


  Tapi Marcel tidak menghiraukan gue, Ia malah tersenyum menarik gue tanpa memperdulikan gue yang merasakan sakit di pergelangan tangan gue.


Tiba-tiba saja Marcel berhenti di depan dinding, lalu menyentuh dinding itu.


  Gue sontak menepis tangan Marcel, karna pergelangan tangan gue yang terasa sangat sakit.


  Tapi tiba-tiba saja dinding yang ada di hadapan Marcel itu terbuka seperti sebuah pintu.


  "A-apa itu?" sahut gue terkejut.


  Marcel sontak menengok kebelakang, lalu menatap gue dan berkata. "Situasi sekarang sangat berbahaya buat lu, gue mau lu sembunyi di ruangan ini. Memang cukup gelap, tai yang penting lu aman."


  "Buat apa gue sembunyi? memang bahaya apanya?" tanya gue bingung.


  "Nanti gue jelasin." jawabnya dan tiba-tiba menarik gue masuk ke ruangan itu.


  "Sekarang dengerin gue baik-baik. Gue bakal kembali paling lama 30 menit, tapi kalau lewat dari itu...gue mau lu kabur dari sini." ucapny serius.


  "Ini ponsel gue, nyalain senternya dan terus jalan lurus sampai lu ketemu pintu berwarna hitam pekat. Pintu itu bakal bawa lu keluar dari markas ini, di depan pintu itu ada 2 kendaraan. 1 mobil dan 1 lagi motor. Pakai kendaraan itu sesuai kemampuan lu." jelasnya sambil memberikan ponselny ke tangan gue.


  "Tapi, lu?" sahut gue.


  "Gue gak bakal kenapa-kenapa. Setelah lu pergi jauh, telpon Jordan pakai ponsel gue. Oke?" ucapnya.


  "Gue tau lu takut, tapi cuma ini cara biar lu aman." lanjutnya.


  "Gue pergi dulu, jangan lupa sama pesan gue." pesannya lalu menutup dinding itu kembali dan meninggalkan gue sendirian.


  Gue bener-bener takut di dalam ruangan itu. Sangat gelap, dan terasa sangat sempit. dan lebih parahnya, gue harus menunggu 30 menit biar bisa keluar dari ruangan ini.


  Gue hanya bisa berharap, penyakit gue gak kambuh disaat-saat seperti ini.


  Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2