
"Ini tentang Nyonya, Tuan." - Hendra.
"Kenapa? apa Carmelia terluka lagi? atau dia melakukan hal aneh?"
"Ti-tidak, Tuan. Melainkan, Nyonya mengetahui jika anda pergi ke Amerika tanpa izin darinya." -Vernon.
"Hei!! bodoh! apa yang kau lakukan!?" bisik Agnella.
"Lebih baik kita katakan saja!" balas Vernon.
"*Haah... aku sudah menduga itu akan terjadi, mau seberapa lama pun kalian menutupi kepergian ku dengan Andre, pada akhirnya Carmelia juga akan tadi."
"Ta-tapi, Tuan. Nyonya sangat marah karna kami tidak memberitahunya, Nyonya sampai menghambur meja makan dan melempar peralatan makan." - Vernon.
"Hah!? serius? kenapa kalian tidak menjelaskannya lansung? aku yakin dia akan memahaminya."
"Kami sudah mencob menjelaskannya, tapi Nyonya malah melempari kita piring dan peralatan lainnya." - Agnella.
"Jadi, dimana dia sekarang? biar aku yang bicara kepadanya."
"Hm... i-itu, Tuan. Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bermaksud untuk melakukan itu kepada Nyonya." -Vernon.
"Apa maksud mu, Vernon? melakukan apa?"
"I-itu, Tuan. Sa-saya menyuntikkan obat tidur kepada Nyonya. Sa-saya ingin membuat Nyonya tenang, tapi kelihatannya Nyonya tidak akan mendengarkan perkataan kami. Ja-jadi..." -Vernon.
__ADS_1
"Jadi kamu menyuntikkan obat tidur kepadanya? dan sekarang dia tertidur karna obat tidur yang kau berikan?"
"Benar, Tuan. Saya benar-benar tidak berniat untuk melukai Nyonya, sekali lagi saya mohon ampunan anda." -Vernon.
"Jujur saja, jika aku berada disana. Bisa ku pastikan tangan dan kaki kalian terlepas dari tubuh kalian, tapi. Karna separuh dari masalah ini, aku yang membuatnya. Jadi, kalian hanya perlu meminta maaf kepada Carmelia. Itupun kalau dia mau memaafkan kalian."
"Sepertinya Nyonya tidak akan memaafkan kami, Tuan. Sebelum Nyonya tertidur, Nyonya mengatakan bahwa Ia tidak akan memaafkan kami." - Hendra.
"Nah! kalau itu aku tidak bertanggungjawab, setidaknya aku sudah memaafkan kalian. Masalah Carmelia yang tidak memaafkan kalian, itu urusan kalian masing-masing."
"Tapi, walaupun Carmelia akan marah kepda kalian dan tidak memperdulikan kalian. Kalian harus tetap menjaga dan merawatnya, sampai aku kembali ke Itali. Karna, urusan di sini masih sangat panjang. Andre juga masih berusaha untuk mengobrol dengan pemimpin serikat kepolisian."
"Tentu saja, Tuan. Kami akan menjaga dan merawat Nyonya, karna itu sudah menjadi kewajiban kami." -Vernon.
"Yasudah, aku akan menutup telponnya. Kalian beristirahat lah, tapi pastikan dulu keamanan Carmelia sebelum kalian meninggalkannya di kamarnya."
"Baiklah, sampai jumpa."
"Selamat malam, Tuan*." Ucap ketiga orang itu, dan telpon pun ditutup oleh Marcel.
Setelah telpon itu tertutup, mereka bertiga langsung bersandar di sandaran sofa dan bernafas legah karna Marcel tidak marah karna kejadian yang menimpah Istrinya.
"Sepertinya Tuhan hari ini sangat baik, sampai-sampai Tuan Marcel yang seperti Tiran itu, tiba-tiba berubah menjadi malaikat," cetus Hendra.
"Bukan malaikat, lebih tepatnya berubah menjadi manusia normal," balas Agnella.
__ADS_1
"Mau manusia normal ataupun malaikat, intinya hari ini nyawa kita masih aman. Kalau sampai Tuan marah besar, bisa kupastikan kita sudah di neraka sekarang," timpal Vernon.
"Kenapa harus neraka? setidaknya ucapkan surga, jangan malah neraka!" protes Agnella.
"Hei! sadar diri, bodoh! Sebaik apapun Tuhan, mana mau dia memasukkan seorang Mafia ke Surga. Kelakuannya kasar, selalu membunuh, di tambah jarang beribadah!" kata Vernon.
"Sudah tau bakal masuk Neraka, kenapa malah ikut jadi anggota mafia?" heran Hendra.
Dengan polosnya Vernon menjawab. "Aku bukan anggota Mafia, aku kan hanya seorang kepala pelayan."
"Sama saja, bodoh!!!" kesal Hendra dan Agnella.
"Kau bekerja dibawah kaki mafia, ya berarti kau juga seorang mafia! dasar bodoh!!" lanjut Agnella.
"Itu berbeda! aku hanya kepala pelayan, bukan anggota mafia seperti kalian!" elak Vernon.
Karna kesal mendengar perkataan Vernon, Hendra dan Agnella sontak berdiri lalu berkata. "Terserah!!" Mereka melangkah pergi dari hadapan Vernon.
"Kalian mau kemana?" tanya Vernon.
Agnella dan Hendra berbalik bersama dan menjawab. "Tidur!" lalu melanjutkan langkah mereka, dan meninggalkan Vernon seorang diri menjaga Carmelia.
"Bisa-bisanya mereka meninggalkan ku!" gerutu Vernon sambil berdiri, dan tak lupa untuk mengambil ponselnya.
Pria itu menelpon seseorang dari ponselnya, dan mengatakan. "Pastikan keamanan Nyonya berkali-kali lipat malam ini, dan beritahu aku jika Nyonya terbangundari tidurnya." Setelah mengatakan itu, Ia pun pergi meninggalkan Carmelia seorang diri di kamarnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG