Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Aku Mempercayai Mereka


__ADS_3

Aku tau tingkah gadis itu tampak aneh, tapi aku tidak ingin menanyakan pertanyaan yang muncul di benak ku. Walaupun ada yang Ia sembunyikan, aku akan tetap mempercayainya.


"Bagaimana kabar mu?" tanya ku.


Ia langsung menatap ku dan menjawab. "Sangat~ baik. Tapi hanya terlalu bosan~"


"Hari ini diamlah di kamar mu dulu, sore nanti akan ada desainer yang membawa beberapa gaun untuk mu nanti."


"Eh? bukannya pakaian ku di ganti masih bulan depan? kenapa dia datang sekarang?"


"Ini gaun pernikahan, bukan pakaian sehari-hari mu. dan lagi pakaian mu di ruang ganti, baru di ganti 2 bulan yang lalu. Tapi jika kau ingin mengganti seluruh pakaian mu sekarang, bilang saja kepada desainer itu."


"Tidak, pakaian ku masih banyak~ yang belum ku pakai. Desainer itu juga pasti sedang sibuk dengan pakaian sehari-hari ku nanti."


"Yasudah, terserah kamu saja. Aku ingin ke ruang kerja ku sekarang." ucap ku, lalu melepaskan pelukannya.


"Oh ya, panggil pelayan untuk membersihkan kamar mu. Ini terlihat sangat berantakan, sangat tidak cocok dengan mu."


"Oh, i-iya. Aku akan memanggil pelayan nanti."


"Hm...kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa sore nanti." jawab ku lalu melangkah pergi dari hadapan wanita itu.


"Baiklah~ selamat bekerja," balasnya.

__ADS_1


Saat melangkah keluar dari kamar wanita, ternyata masih ada Dika yang sedang berjaga di luar. Ia yang melihat ku Keluar langsung menundukkan kepalanya, aku sontak menghentikan langkah ku tepat di depannya.


"Dia memang atasan mu, tapi tetap aku yang mengendalikan mu! Jadi, bersikaplah layaknya seekor anjing yang penurut!" tegas ku tanpa meliriknya sama sekali, dan langsung melangkah pergi dari hadapannya.


Setelah sampai di ruang kerja ku, aku sudah di sambut dengan pemandangan 4 Pria dan satu Wanita yang sedang duduk di sofa bersama.


Melihat Nella yang juga ikut bergabung dengan kami, aku sontak tersenyum kecil dan melangkah kearah mereka.


"Bagaimana kabar mu, Nella?" tanya ku sambil duduk di kursi sofa.


"Selamat datang kembali, Tuan. Senang bisa bertemu anda. Kabar saya cukup baik sekarang." jawabnya.


"Apa pekerjaan mu sudah selesai sekarang?"


"Aku saja baru bangun dari tidur ku, jika Jordan tidak membangunkan ku. Mungkin aku akan tertidur sampai besok." celetuk Andre.


"Bagaimana hasil pekerjaan mu? apa sesuai dengan apa yang ku ingin kan?" tanya ku ke Andre.


"Tentu saja, Tuan. Saya menyelesaikan tugas saya dengan hasil yang sangat memuaskan, saya juga membawa dokumen Keluarga Anggara yang sudah di perbarui." jawabnya, lalu menyodorkan ku sebuah dokumen.


Aku pun mengambil dokumen itu dan meletakkannya di atas meja, yang ada di tengah-tengah kami.


"Aku tidak akan memeriksanya, aku percaya dengan hasil yang kau berikan." ucap ku.

__ADS_1


"Tentu saja, hasil yang saya dapatkan selalu memuaskan anda." angkuhnya dengan tangan yang Ia lipat di depan dadanya.


"Hendra, aku tau kau sudah menyiapkan cairan infus untuk ku. Akan lebih baik kau menyuntikkannya sekarang."


"Maksud anda disini? tapi akan lebih baik kalau anda tertidur, agar saat bangun tubuh anda terasa lebih segar."


"Tidak perlu, ada yang harus aku bicarakan juga dengan kalian disini. Jadi, ambil peralatan mu dan pakaian infus itu sekarang."


"Baiklah, Tuan." jawabnya lalu berdiri, dan melangkah pergi.


"Oh ya, Jordan. Apa ada yang ingin kau laporan kepada ku? kau terlihat gelisah mulai tadi, berbicara pun kamu terlihat sedikit ragu untuk membuka mulut mu."


"Tidak ada, Tuan. Saya mungkin hanya kelelahan saja, saya tidak sedikitpun merasa gelisah mulai tadi." elaknya.


"Hm...baiklah." jawab ku santai.


Tak lama kemudian, Hendra pun kembali dan mulai memasangkan selang infus ke lengan kiri ku. Setelah Ia menyelesaikan pekerjaannya, Ia pun kembali duduk.


"Kalian tau kan, aku sangat mempercayai kalian. Walaupun salah satu dari kalian menyembunyikan sesuatu dari ku, aku yakin itu untuk kebaikan kita bersama." ucap ku yang sedang bersandar di sandaran sofa.


Saat aku mengatakan hal itu, Jordan yang tadinya sedikit menunduk dan tampak tidak berani menatap ku. Ia sontak menatap ku dengan mata yang membulat besar.


*Aku tidak memaksa mu untuk berbincara, tapi sepertinya kamu sendiri yang akan membuka mulut mu itu.* batin ku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2