
Udah 1 jam lebih berlalu, mulai tadi gue mendengar suara-suara aneh dari ruangan Marcel. Entah apa yang mereka lakukan, tapi sepertinya Marcel sangat menikmatinya.
Sedangkan gue yang di kamar hanya bisa duduk di atas ranjang saja, sambil berjaga-jaga, kalau saja Marcel tiba-tib menerobos masuk ke kamar gue.
Mulai tadi pikiran gue dipenuhi dengan kata-kata Jordan tentang Marcel. Semakin gue berusaha untuk percaya dengannya, semakin gue ingin pergi dan menjauh dari Marcel.
Tapi kenyataannya, gue sama sekali gak bisa pergi dari Markas ini dan juga Marcel. Mungkin, kalau gue pergi, bisa saja roh gue juga pergi ke pangkuan tuhan.
Gue sudah terikat dengan Mafia, lebih tepatnya terikat dengan pemimpin Mafianya langsung. Gue bisa saja di bunuh dan di buang kapan pun laki-laki itu mau.
dan tugas gue? hanya bisa pasrah dan berharap umur gue masih panjang. Karna gue masih punya keinginan untuk bahagia di Dunia ini.
Disaat gue masih sibuk melamun, tiba-tiba saja ada yang menerobos masuk ke kamar gue. dan ternyata, itu adalah Marcel yang tidak menutupi tubuh bagian atasnya.
"Oh...shit!" ucap gue dan langsung menutup mata dengan kedua tangan gue.
"Kenapa? baru pertama kali liat gue gak pakai baju, ya?" tanyanya.
Saat gue membuka mata gue, tiba-tiba saja Marcel ada tepat di depan gue. dan membuat gue terkejut sampai melompat mundur.
"Apaan, sih? lu pikir gue setan, apa!?" protesnya, lalu duduk di atas ranjang gue.
"Lu bawa apaan?" tanya gue.
"Wine." jawabnya santai.
*Wine? whiskey? Apa bedanya?* batin gue.
"Kenapa? mau?" tawarnya.
"Gak!" tolak gue.
"Yaudah, gue aja yang minum." ucapnya lalu mengangkat gelas itu ke mulutnya.
Tapi sebelum Marcel meminumnya, gue lebih dulu mengambil gelas itu lalu membuang isi gelas itu ke lantai.
"Lu udah gak waras, ya!!?" geramnya.
"Kayaknya iya." jawab gue sambil meletakkan gelas itu di atas meja rias gue.
"Lu tau, harga wine itu gak murah, bego!!" protesnya.
"Oh ya? yaudah...kalau gue ada duit, nanti gue ganti." sambung gue.
"Padahal itu gelas terakhir..." gumamnya dengan ekspresi murung.
*Padahal cuma wine, kok sedih banget.* batin gue.
"Ngapain kesini? malah gak pakai baju lagi!" protes gue.
"Gue butuh hiburan." jawabnya.
"Emang tadi tuh gak cukup, apa!? lu udah sejam lebih main sama 2 cewek, terus lu bilang gak cukup? lu beneran gila, sumpah!!" oceh gue.
__ADS_1
"Sekali lagi lu ngoceh, giliran lu yang gue coba!" ancamnya.
"Padahal udah main sama 2 cewek, dasar!" gerutu gue.
Tiba-tiba saja, Marcel berbaring dan meletakkan kepalanya di atas paha gue.
"Gue ngantuk." ucapnya.
"Ya tidur, lah! lu kan punya ruangan sendiri, ngapain disini? gue juga mau tidur, kali!" protes gue.
"Ruangan gue lagi di beresin sama Jordan, termaksud ranjang gue. Jadi, gue tidur di sini semalam." sambungnya.
"Emang ruangan lu kotor?" tanya gue.
"Kotor banget! mau gue jelasin, kotornya karna apa?" tanyanya balik sambil menatap gue dengan senyum liciknya.
*Apa karna itu?* batin gue.
"Kenapa diam?" tegurnya.
"Lagi mikirin sesuatu." jawab gue.
"Mikirin gue?" sahutnya.
"Kagak!!" jawab gue cepat.
Tiba-tiba saja, Marcel memegang bagian belakang gue, lalu mendorongnya sampai wajah kami saling berdekatan.
"Cium gue." ucapnya.
Tapi Marcel menahannya dengan sangat kuat, lalu...sontak mengecup bibir gue sekilas.
"Ih!! apaan sih!!?" kesal gue.
"Bibir lu memang beda dari yang lain." ucapnya.
"Seksi, kan? manis, kan?" tanya gue.
"Seksi? pala lu seksi! bibir kecil kayak gitu, mau di bilang seksi?" sahutnya.
"Gue anggap itu pujian, makasih." balas gue.
"Serah lu dah, ngantuk gue." sambungnya, dan langsung memejamkan matanya.
*Dia tidur gak pakai baju? malah tidur di atas paha gue lagi.* batin gue.
Dari pada gue kena marah, gue lebih memilih untuk diam saja. Sesekali menatap Marcel, lalu mengalihkan tatapan gue ke arah lain.
Gue pikir dia udah tidur nyenyak, karna sudah cukup lama dia memejamkan matanya. Jadi, gue memutuskan untuk menatap wajahnya dengan baik.
"Gue baru sadar, bulu matanya panjang banget. Bikin gue iri..." gumam gue.
"Kenapa bisa ada cowok setampan dia, sih? pori-pori gak keliatan, mata yang cantik, bibir warna pink udah kayak pakai liptint, dan lebih parahnya...bentuk wajanya bukan main dah." oceh gue yang tidak bisa berhenti menatap wajahnya.
__ADS_1
"Kalau di sekolah penampilannya kayak gini, bisa-bisa satu sekolah pingsan ngeliatnya. Pantes aja kakaknya pernah dapat julukan pangeran sekolah, adeknya aja kayak gini. Gak adil banget, sumpah!!" gerutu gue.
Gue rasanya mau nyentuh pipinya, tapi gue takut dia bangun. Tapi...gue pingin banget bisa nyentuh pipinya, mumpung dia lagi tidur nyeyak.
Tanpa berpikir panjang lagi, gue langsung mengangkat tangan gue lalu perlahan menyentuh pipi Marcel dengan jari telunjuk gue.
"Ih...kenyal banget, gemes..." ucap gue dengan tersenyum lebar sambil menusuk-nusuk pipi Marcel.
Karna terlalu asik, memainkan pipinya. Tanpa sadar, gue malah membangunkan singa yang sedang tertidur pulas.
"Udah puas?" tanyanya sambil menatap gue.
"Hah!? ka-kapan lu bangun?" sahut gue sambil menarik tangan gue kembali.
Tapi, Marcel malah menggenggam tangan gue, lalu meletakkan telapak tangan gue di pipinya.
"Nga-ngapain lu?" tanya gue.
"Bukannya lu mau nyentuh pipi gue, ya?" tanyanya balik.
"Hah!? si-siapa bilang, sok tau lu!" jawab gue dan langsung menarik tangan gue kembali.
Tiba-tiba saja Marcel bangun dari posisi tidur gue, dan menatap gue serius.
"Ke-kenapa?" tanya gue ragu.
"Baring!" ucapnya.
"Hah!?" sahut gue bingung sekaligus kaget.
"Baring di sebelah sana, gue mau tidur di sini. Buruan!!" perintahnya.
"Oh...oke." jawab gue lalu pindah kesisi lain tempat yang gue duduki.
Marcel pun kembali berbaring. Tapi, bukannya memejamkan matanya kembali, Ia malah menatap gue lagi dan lagi.
*Gue kayak punya utang aja sama nih orang.* batin gue.
Tapi tiba-tiba saja Marcel menarik gue, sampai berbaring tepat di sebelahnya, lalu memeluk gue.
"A-apaan, sih!!?" sahut gue terkejut.
"Tidur...besok harus sekolah." ucapnya.
"Ta,tapi—"
"Udah...tidur aja." potongnya.
"Gu-gue butuh selimut!!" teriak gue.
Setelah gue berteriak, Marcel sontak melepaskan pelukannya. Gue pikir, dia ngelepasin gue. Tapi ternyata, dia hanya mengambil selimut lalu menutupi tubuh gue dan juga tubuhnya. Lalu kembali memeluk gue.
"Udah, kan? buruan tidur." ucapnya, lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
*Masalahnya...gue gak bisa tidur nyenyak, kalau gue tidur sama cowok yang gak pakai baju!!* batin gue.
Bersambung