
Mendengar teriakan Jessica, gue langsung bangun dari posisi gue lalu duduk menghadap kearahnya.
"Kenapa lu teriak-teriak, sih? Emang kenapa sama nikah? gue juga gak bakal nikahin lu sekarang, paling tahun depan. Lagi beberapa bulan lagi kita bakal lulus kan. Lu bisa kuliah, tapi malamnya lu fokus ke gue sama jadi Carmelia bukan Jessica." jelas gue.
"Hah...gue gak tau apa yang lu maksud. Gak usah di lanjutin, gue udah pusing dengernya." ucap Jessica yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya.
"Hm..." dehem gue sambil mengerutkan dahi.
*Dia maunya pacaran dulu? atau gimana,sih? tapi gue gak ngerti yang namanya pacaran.* batin gue.
Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Jessica. Gue pun langsung menyauti ketukan itu sambil menurunkan kaki gu ke lantai.
"Permisi, Tuan. Maaf karna telah menggangu kalian." ucap Marcel yang berdiri cukup jauh di depan gue bersama Dika.
"Akhirnya kalian kembali. Bagaimana keadaan kalian?" tanya gue.
"Kamu sudah cukup baik, Tuan.", jawab Marcel.
"Baiklah, malam ini ada sesuatu yang haru kita kerjakan." sambung gue.
"Apa itu, Tuan?" tanya Marcel.
"Kita tunggu Jordan datang, baru aku akan menjelaskannya." jawab gue.
Baru selesai gue berbicara, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu itu lagi. Dan tentu saja itu suara ketukan yang di buat Jordan, gue pun langsung menyauti ketukan itu.
"Permisi, Tuan. Tugas yang anda berikan sudah selesai, saya mengirim satu bawahan anda untuk mengantar Nona Angel langsung ke sana dan memastikan bahwa Wanita itu telah di asingkan tanpa memegang paspor dan surat-surat yang bisa membantunya kembali. Saya juga sudah memberitahu keluarga Dermi mengenai hal itu." jelas Jordan.
"Baiklah....karna kalian semua sudah berkumpul, ada sesuatu yang harus kita bahas." ucap gue.
"Hari ini kita akan pergi ke klub X, kalian masih ingat klub itu kan?" tanya gue sambil tersenyum licik.
__ADS_1
"Tentu saja, itu kan klub—"
Gue tidak membiarkan Jordan melanjutkan perkataannya. Gue langsung meletakkan jari telunjuk gue di depan bibir gue, sebagai tanda dia harus tutup mulut mengenai klub itu.
"Bryan putra dari kepala menteri negara, bocah yang sempat berkelahi dengan Mark di jalan. Dia mengajak Carmelia pergi ke klub itu, karna klub itu cukup berbahaya. Jadi Dika akan menemaninya, tapi Dika akan berada di belakang Carmeli sejauh 2 meter. Aku, Jordan, Mark, dan 4 bawahan lainnya akan pergi ke ruangan 434. Kita akan menunggu Carmelia di ruangan itu, sedangkan 10 bawahan yang akan ikut lagi. Mereka akan menyamar sebagai tamu di klub itu. Mereka bertugas untuk menjaga Carmelia dari jarak jauh dan selalu bersiap dengan senjata mereka jika saja terjadi sesuatu nantinya. Apa kalian paham?" jelas gue sejelas-jelas mungkin.
"Paham, Tuan. Jadi, Dika dan Nona akan pergi lebih dulu ke klub itu. Lalu kita menyusul mereka dari belakang, dan langsung masuk ke dalam ruangan 434." jawab Jordan.
"Ya, seperti itu." balas gue.
"Baiklah, kalau kalian paham. Sekarang pergi dan siapkan senjata dan kendaraan kalian masing-masing, jangan lupa untuk memilih 14 bawahan lainnya yang akan ikut." peringah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka betiga sambil menunduk lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar Jessica.
"Dan lu..." sahut gue sambil menengok dan menatap Jessica.
"Ganti baju, urai rambut lu, jangan pakai masker. Intinya bersikap seperti Jessica yang biasanya, bukan Carmelia yang memiliki hubungan dengan Mafia." lanjut gue.
"Hm...oke." jawabnya.
"Lu gak keluar? gue kan mau ganti baju." sambungnya.
Mendengar itu, gue langsung melemparkan tubuh gue ke ranjang dan berkata. "Gak~ gue mau disini~" sambil tersenyum licik.
"Terserah lu, lagian gue ganti bajunya di kamar mandi." ucapnya sambil turun dari ranjang dan berjalan pergi.
"Hah...gak asik!" gumam gue.
Jujur saja, gue udah cukup lama gak datang ke klub itu. Klub itu termaksud klub yang berdiri di bawah naungan gue. Klub itu termaksud klub yang cukup berbahaya, tapi juga sangat terkenal.
Bagi orang-orang yang baru pertama kali datang ke klub itu ataupun mendengar dari orang lain mengenai klub itu, mereka hanya akan berpikir bahwa kelub itu adalah klub yang sangat mewah, terkenal, dan tentunya sangat aman dari incaran polisi.
__ADS_1
Tapi, mereka tidak mengetahui rahasia sebenarnya dari klub itu. Klub itu tempat orang-orang menjual para wanita, dan ada beberapa wanita yang langsung datang ke klub itu untuk menjual diri mereka dan tentu saja bayaran mereka sangat tinggi disana.
Bukan hanya itu, di klub itu juga berkumpulnya para bandar narkoba. Perjudian yang selalu dilakukan di setiap ruangan itu, dan yang lebih parahnya lagi. Pemerkosaan dan pembunuhan yang setiap hari terjadi. Maka dari itu, para wanita tidak disarankan untuk datang ke klub itu seorang diri, apalagi kalau Ia berniat untuk mencari jodoh ataupun Pria tampan dan kaya.
Sangat tidak di sarankan untuk mencari di klub itu. Memang di klub itu tempatnya para Pria tampan dan kaya berkumpul, tapi Pria yang seperti itu malah temaksud golongan Pria terkejam dan tersadis.
Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya Jessica keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang cukup berbeda dengan pakaian yang Ia pakai setiap malamnya. Kali ini dia memakai gaun berwarna merah yang panjangnya hanya sepahanya saja, dan lagi bagian atas gaun itu sangat terbuka.
Gue yang melihat itu langsung berdiri dan berdiri di belakangnya yang duduk di depan meja rias.
"Lu gak punya gaun lain ya? tuh gaun udah kayk kekurangan bahan bnget, jelek!!" ucap gue yang menatap dirinya di pantulan cermin.
"Maaf-maaf aja, nih. Gaun yang lu pilih juga rata-rata kekurangan bahan semua, dan lagi. Cuma gaun ini aja yang gak berwarna hitam, semuany pada hitam putih." sambungnya sambil memasang kalung di lehernya.
"Gak mau tau, lu harus pakai jas panjang itu! kalau kagak, kita gak jadi pergi. titik!!" tegas gue.
"Marcel Anggara, tapi gue mau pakai baju ini tanpa pakai jas ataupun luaran lainnya. Gue mau pakai gaun ini, dong. Titik!! gak ada kata penolakan!" balasnya.
"Tapi—"
"Gak boleh nolak, baby~ kan udah janji gak bakal melawan ucapan gue." potong lalu tersenyum manis.
"Hah...terserah!" rajuk gue.
"Buruan keluar, yang lainnya pasti sudah nunggu di basment." ucap gue sambil melangkah pergi kearah pintu.
"Iya,iya. Tungguin, dong~" sahutnya.
Gue dan Jessica pun melangkah keluar dari kamar itu, dan berjalan menuju basment.
Saat di basment, Jordan dan yang lainnya sudah menunggu mulai tadi. Tanpa basa-basi lagi, Jessica langsung masuk ke dalam mobil milik Dika. Lalu pergi lebih dulu menuju ke klub itu, dan disusul gue dari belakang dengan para bawahan gue yang lainnya.
__ADS_1
Bersambung
2 hari libur dulu, ya~