
Setelah selesai membelikan Jessica pakaian yang akan Ia kenakan saat malam hari, akhirnya kami pun kembali ke markas.
Entah cuma pikiran gue atau memang faktanya, bagasi mobil gue sampai penuh dengan semua tas belanjaan gadis itu.
Padahal, gue milihin dia baju gak sebanyak itu. Tapi kenapa mobil gue malah di penuhin sama pakaian wanita?
"Jordan." panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
"Berapa total semua pakaian gadis ini?" tanya gue.
"Hanya pakaiannya saja, atau semuanya Tuan?" tanya Jordan balik.
"Semuanya!!" jawab gue.
"Total harga Pakaian, sepatu, dan aksesoris lainnya hanya mengeluarkan 725 juta saja, Tuan." sambung Jordan yang benar-benar membuat gue terkejut setengah mati.
"725 juta? kamu bercanda Jordan?!" sahut gue.
"Tidak, Tuan. Itu semua total pengeluaran anda hari ini. Tapi bukannya itu masih kecil, Tuan? Saya mengira anda akan menghabiskan sampai 1 miliyar, untuk gadis itu." ucap Jordan.
"Kamu sudah gila, Jordan?!!! aku saja tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu dalam sehari. Bukannya kamu selalu tau tentang pengeluaran ku, Jordan?!!" geram gue.
"Woi!! ngapain lu marah-marah sih? lagian, lu sendiri kan yang pilih tuh baju. Jadi bukan salah bawahan lu lah, apalagi salah gue." sahut Jessica.
"Terus? salah gue gitu?" tanya gue.
"Ya iyalah, masa salah gue. Lu nyalahin cewek gitu? Lu gak tau prinsip Cewek selalu benar, ya?" jawab gadis itu.
"Lu pikir prinsip itu mempan sama gue yang pemimpin mafia, ini? Lu pikir gue apa, hah?!!!" teriak gue.
"Lu manusia, bego!!" teriaknya juga.
"Lu kok teriak-teriak, Bangs*t!!!" geram gue.
"Yang mulai duluan, lu bego!!" balasnya.
Tapi tiba-tiba saja, Jordan menyodorkan senjatanya kearah Jessica. Gadis itu pun sontak terdiam, begitupun gue.
*Lah? kenapa gue diam? bego!!* batin gue.
"Kenapa sih, dikit-dikit di sodorin pistol mulu!! Kalian pikir gue ini apaan, sih?!!" protesnya.
"Suka-suka, dong. Kok lu yang repot, makanya gak usah banyak bacot." jawab gue sambil memainkan pistol gue juga.
"Hah...gini banget hidup gue." keluhnya.
Akhirnya kami pun sampai di markas, Jordan langsung membukakan gue pintu, dan gue pun langsung keluar dari mobil.
"Jordan, bantu gadis itu untuk merapikan semua barang-barangnya di dalam ruangan ku." perintah gue.
__ADS_1
"Tapi, Tuan. Ruangan anda memang di khususkan untuk anda. Bagaimana bisa milik gadis itu di letakan di ruangan anda?" sambungnya.
"Kalau begitu, apa ada ruangan kosong lagi?" tanya gue.
"Ada 1 ruangan kosong, tepat di sebelah ruangan anda. Tapi tidak ada 1 pun barang di dalam ruangan itu, jika ingin di pakai. Harus di isi dengan lemari, dan ranjang kan, Tuan?" jelas Jordan.
"Kalau begitu, perintahkan beberapa orang untuk mengisi ruangan itu sesuai dengan apa yang di katakan gadis itu. Malam ini ruangan itu harus sudah selesai." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
Gue pun langsung melangkah masuk dan diikuti oleh Jessica di samping gue. Sedangkan Jordan, dan supir gue. Mereka berdua membawakan semua belanjaan Jessica ke dalam ruangan gue lebih dulu.
Saat sudah di dalam markas, gue di buat terkejut dengan Mark yang sedang menyiksa seseorang yang sepertinya seumuran dengan gue.
"Ada apa, Ini?" sahut gue dan para bawahan gue pun sontak menengok kearah gue begitupun Mark, yang tiba-tiba berhenti menyika seseorang itu.
Gue pun berjalan kearah Mark bersama Jessica yang mulai tadi di samping gue.
Tapi tiba-tiba saja Jessica menahan gue, sambil memegang tangan gue.
"Kenapa?" tanya gue sambil menengok kearahnya.
"Itu temen Bryan, sekelas sama gue." jawabnya pelan.
"Hah? serius?!!" sahut gue terkejut.
"Diam bego! jangan sampai gue ketahuan." ucap Jessica.
"Lu kan udah pakai baju yang berbeda, terus rambut lu juga di ikat, pakai topi lagi. Gak mungkin dia kenal lu."
"Yasudah, pakai masker lu lagi."
"Hah...iya, iya." jawabnya dan langsung memakai maskernya.
Gue sontak melangkah kearah Mark, dan berdiri di depan teman Bryan itu.
"Siapa, dia?" tanya gue.
"Dia bocah yang menggangu murid sekolahnya sendiri, Tuan." jawab Mark sambil menunduk.
"Siapa yang menyuruh mu membawanya kesini, hah?!!!" geram gue.
"Aku tidak pernah menyuruh mu melukai anak sekolah!! apa kamu ingin mati, Mark?!!"
"Maafkan karna kelancangan saya, Tuan. Tapi belum bocah ini benar-benar keterlaluan dengan murid itu." sambung Mark.
"Dika!!" panggil gue.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya.
"Bawa bocah ini kembali ke tempat dimana kalian menemukannya, cepat!!!" perintah gue.
__ADS_1
"Baik, Tuan." jawabnya dan sontak mengangkat bocah itu, lalu pergi dari hadapan gue.
"Turun!!!" teriak gue.
Semua bawahan gue sontak berlutut di hadapan gue, tanpa terkecuali.
"Jordan, bawakan cambuk ku!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab Jordan dan langsung pergi, padahal baru saja Ia kembali setelah meletakkan barang-barang Jessica.
"Aku sudah berapa kali memberitahu kalian, jangan pernah ikut campur dengan urusan ku saat aku sedang menjadi Reyhan. Tapi kalian? malah bertindak sesuka kalian, apa kalian semua sedang melawan ku?!!!" geram gue.
"Maaf, Tuan. Tadi hanya Mark saja yang melawan anda, yang lainnya tidak ikut melawan an—"
Dorr!!
Gue menembak pria itu yang berani menjawab ucapan ku, sebelum aku menyuruh mereka menjawabnya.
Tanpa gue sadari, ternyata Jessica mulai tadi merasa ketakutan karna gue yang marah besar ini. Gue yang baru menyadari itu, sontak berbalik dan menatap gadis itu.
"Pergi keruangan gue, jangan pernah keluar sebelum gue yang menyuruh lu, cepat!!" perintah gue.
"Ta-tapi—"
"Cepat!!" potong gue.
Ia langsung berlari dan pergi dari hadapan gue dengan tubuh yang masih gemetaran.
Jordan pun datang dengan membawa cambukan yang selalu gue pakai untuk menghukum para bawahan gue.
"Ini, Tuan." ucap Jordan sambil memberikan campuk itu ke gue.
Gue langsung mengambil cambuk itu, dan mulai mencoba cambuk itu.
"Malam ini tidak ada ampun untuk kalian." ucap gue.
Gue pun langsung mencambuk semua bawahan gue, mereka yang masih berlutut dan bertahan agar tidak terjatuh.
Karna mereka tau, jika terjatuh. Gue bisa saja langsung membunuh mereka di tempat, atau menambahkan hukuman yang sangat berat.
Setelah 1 jam menghukum mereka, gue akhirnya berhenti dan langsung memberikan cambuk itu ke Jordan.
Karna sedikit lelah, gue sontak membuka 2 kancing atas dari kemeja gue.
"Angkat mayat itu, dan beri makan anjing-anjing ku!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka.
Gue pun langsung pergi dari hadapan mereka, dan berjalan menuju ruangan gue untuk sedikit beristirahat.
Saat sampai di depan ruangan gue, gue langsung masuk tanpa harus megetuk, karna itu ruangan gue sendiri.
__ADS_1
"Hah..." hela nafas gue sambil melepas jas gue dan sontak meletakkan di atas sofa.
Bersambung