Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Amarah Andre


__ADS_3

Setelah sampai di markas, gue di buat terkejut dengan suara teriakan dari lantai dua, lebih tepatnya dari ruangan gue.


Gue yang sedang berjalan di samping Andre, langsung berlari meninggalkan Andre menuju ke ruangan gue dengan sangat cepat.


"ADA APA!?" teriak gue sambil mendorong pintu itu.


"Tu-tuan? ka-kapan anda pulang?" sahut Jordan yang berdiri tak jauh dari ranjang gue.


Gue pun berjalan menuju ke arah Jessica, yang sedang duduk di ranjang dengan raut wajah yang sangat ketakutan.


"Hei...ada apa? kenapa teriak?" tanya gue yang duduk di samping Jessica.


"Bryan...semalam Bryan—"


Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, gue langsung menariknya kedalam pelukan gue dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Iya gue tau, tenang aja...dia gak bakal berani nyentuh lu lagi, gue janji." ucap gue.


"Sekarang jawab pertanyaan gue." sambung gue sambil melepaskan pelukan gue dan memegang kedua bahu gadis itu.


"Lu ngerasa sakit, gak? selain di kepala, di bagian bawah ada yang sakit?" tanya gue sambil menatap mata sayunya.


"Gak ada, gue gak ngerasa sakit." jawabnya.


"Haah... syukur deh" lega gue.


"Yaudah, sekarang kamu istirahat dulu aja. Nanti Jordan bawain sarapan, habis itu lu haru di periksa sama Dokter dulu." ucap gue, lalu membaringkan tubuhnya lagi dengan perlahan.

__ADS_1


"Terus sekolah gue gimana?" tanyanya.


"Jordan sudah mengurus itu. Sekarang lu istirahat aja dulu, kalau butuh apa-apa panggil Jordan aja. Gue masih ada urusan lain." jawab gue.


"Hm...oke." balasnya.


Gue langsung menundukan kepala gue dan mengecup dahi Jessica dengan lembut, lalu berbisik. "Gue pergi dulu, jangan teriak-teriak lagi."


Dia hanya menjawab dengan anggukan saja, lalu memejamkan matanya. Gue pun berdiri dan berbalik.


"Siapa Gadis itu?" sahut Andre yang menyandar tubuhnya ke pintu.


"Aku akan memberitahu mu nanti, di ruang pertemuan." ucap gue.


"Jordan, beli makanan untuk gadis itu. Setelah itu panggil Hendra untuk memerika tubuhnya kembali." perintah gue.


Gue pun melangkah kearah pintu dan melewati Andre sambil berkata. "Ikut aku!" lalu berjalan pergi menuju ruang pertemuan.


Saat sampai di ruang pertemuan, gue langsung duduk di kursi gue. Dan Andre duduk di kursi yang kiri gue.


"Saya kira, saya kembali dengan waktu yang singkat. Tapi ternyata, banyak sekali perubahan dari anda dan juga Markas ini!" sahut Andre.


"Tidak ada perubahan dari markas ini, selama kamu pergi. Hanya ada 1 anggota saja yang bertambah." ucap gue.


"Sepertinya itu bukan sekedar anggota. Itu lebih tepat di sebut sebagai calon pemimpin Wanita!" sindirnya.


"Kepekaan mu memang tidak bisa di ragukan lagi. Ya...Dia memang calon pemimpin Wanita. Mungkin terdengar aneh, karna aku yang dulunya menganggap wanita hanya sebagai bahan permainan dan pelampiasan emosi saja. Tapi sekarang, aku malah mencintai seorang gadis lemah sepertinya." sambung gue.

__ADS_1


"Anda sudah tau bahwa gadis itu lemah, tapi kenapa anda malah memilinya dari sekian banyak wanita yang ingin menikah dengan anda!!?" geramnya yang tiba-tiba mengeluarkan pulpennya dari saku jasnya.


*Kenapa pulpen itu harus keluar, sih!?* batin gue.


Pulpen berwarna emas yang di buat dari emas asli, dan selalu di bawa kemanapun Andre pergi. Memang terlihat seperti seorang yang memiliki pekerjaan penting, makanya dia selalu membawa pulpennya kemana-mana.


Tapi, pulpen itu punya sebutan sendiri, yaitu "Sabit Sang Malaikat Maut" alasan di beri nama seperti itu, karna disaat Andre sudah mengeluarkan pulpennya dan mulai menekan-nekan bagian atasnya. Dunia akan langsung berubah dan permasalahan yang Ia hadapi akan langsung selesai, walaupun caranya sedikit berbahaya.


Bukan hanya itu, apalagi di saat dia sedang dalam misi menyelesaikan permasalahan mengenai hukum. Jika pulpen itu sudah berada di tangannya, semua orang tidak akan ada yang berani melawan perkataannya. Para Hakim saja sampai menghindarinya jika Ia yang menjadi pengacara dalam sidang. Dan lebih parahnya lagi, jika kesal dengan seseorang. Ia bukannya membunuh menggunakan pistol ataupun senjata lainnya. Ia malah membunuh menggunakan pulpennya itu.


"Saya bukannya melarang anda untuk mencintai seseorang, tapi setidaknya pikirkan kedepannya. Gadis lemah sepertinya hanya akan membuat anda kewalahan saja, dan itu akan menjadi kelemahan terbesar anda." ucapnya.


"Dan lagi! Anda akan berada pada tingkatan pertama nantinya, musuh akan semakin banyak. Kemungkinan anda mati semakin besar jika ada gadis lemah sepertinya!" lanjutnya.


"Ya...aku tau itu. Aku juga tidak tau, kenapa aku bisa mencintai gadis seperti itu. Tapi selemah apapun dia, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Walaupun Nyawaku yang akan menjadi taruhannya, aku akan tetap menjaganya." balas gue.


"Tidak!! Anda jauh lebih penting dari gadis itu! Anda satu-satunya penerus dari keluarga Anggara, mana mungkin posisi pemimpin Mafia di berikan kepada keluarga lain! itu tidak akan pernah!!" geramnya.


"Aku bukan penerus asli dari keluarga Anggara, aku hanya—"


"Jangan lanjutkan perkataan anda!!" potongnya sambil memukul meja dengan keras.


"Saya tau anda tidak memiliki darah keluarga Anggara, tapi anda satu-satunya penerus keluarga Anggara dan satu-satunya pemimpin Mafia! Nyawa anda jauh lebih penting dari ribuan orang di luar sana! Jangan sampai saya mendengar kabar bahwa anda mati hanya karna untuk melindungi gadis itu!! Saya bersumpah! kematian anda itu akan menjadi bencana besar di Dunia ini!!" sambungnya yang benar-benar marah.


"Andreno Glasino!! kamu tidak berhak memerintah ku!!" tegas gue.


"Saya berhak memerintah anda, Tuan!! saya satu-satunya wali anda, saya kakak anda, saya pengacara pribadi anda, dan saya juga Putra tunggal dari keluarga Glasino yang memiliki ikatan persaudaraan dengan keluarga Anggara!!" sahutnya sambil menatap gue dengan mata yang merah karna marah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2