
Setelah Gue sampai di Hotel, gue pun langsung melangkah masuk menuju ke kamar Jessica. Saat di dalam lift, tiba-tiba ponsel gue berdering dengan keras.
"Lah, gue bawa ponsel toh..." gumam gue lalu mengeluarkan ponsel itu dari dalam saku jas gue.
Saat melihat siapa sang penelpon itu, gue langsung mengangkat telpon itu dengan cepat.
"Selamat sore, Tuan."
"Sore, ada apa? apa masalah nya sudah selesai?"
"Maaf, Tuan. Saya melakukan kesalahan besar, saya lalai dengan anggota kelurga anda yang lain."
"Apa yang sedang kamu bicarakan?"
"Dari awal anda menolak tawaran Pria itu, ternyata dia menargetkan saudara anda, Tuan."
Saat mendengar itu, gue benar-benar hanya bisa mematung sangking terkejutnya. Bagaimana bisa dia menargetkan seseorang yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perusahaan mereka.
"Tuan? apa anda baik-baik saja?"
"A-aku baik-baik saja. Lalu, bagaimana dengan keadaan saudara ku?"
"Ini yang saya ingin katakan, Tuan. Maafkan saya, maaf atas kesalahan yang saya perbuat. Pembunuh itu berhasil menembakkan peluru beracun kepada saudara anda."
"Apa!!?"
"Peluru beracun!!? bagaimana bisa pembunuh bayaran di sini memiliki peluru beracun semua? bukannya hanya aku yang bisa memilikinya!!?"
"Kami sedang menyelidikinya, Tuan."
"Sekarang di mana saudara ku? apa dia baik-baik saja? orang tua ku, bagaimana? apa mereka aman?"
"Tenang, Tuan. Orang tua anda sekarang aman bersama saya, kami sedang menuju rumah sakit untuk menyelamatkan saudara anda."
"Tunggu disana, aku akan segera kesana!"
"Tapi, Tuan—"
Tidak tau apa yang akan di katakan Jordan, Tapi gue langsung mematikan telponnya dan memencet tombol lift untuk kembali turun. Untungnya saja, hanya gue yang berada dalam lift itu.
Setelah lift kembali ke basement, gue langsung melangkah keluar dari lift dan berlari menuju ke mobil Hendra.
__ADS_1
Saat gue bersiap untuk menginjak gas, tiba-tiba ponsel gue bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Gue pun langsung melihat isi pesan itu.
"Tolong untuk tidak gegabah, Tuan. Sekarang anda masih menjadi Marcel, jika Orang tua anda tau mengenai jati diri anda yang lainnya, keluarga anda akan terus dalam bahaya. Jadi, tolong untuk tetap diam di Hotel saja, Tuan. Saya akan menjaga keluarga anda dengan baik, saya berjanji." -Jordan.
Setelah membaca pesan itu, gue bimbang dengan keputusan gue. Apa gue harus tinggal diam di hotel, tapi keluarga gue sedang dalam bahaya. Atau...apa gue harus pergi, tapi bisa saja orang tua gue mengenali gue dan suatu hari pasti akan ada masalah yang lebih besar dari pada sekarang.
Gue sontak meletakkan dahi gue di setir mobil dan mengehla nafas panjang.
"Maaf...seharusnya dari awal aku sudah melakukan hal itu...maaf Pa, Bu, Bang. Maaf...aku bakal melakukannya setelah aku lulus nanti, aku janji..." lirih gue yang sangat merasa bersalah kepada keluarga gue.
Gue akhirnya keluar dari mobil, dan berjalan masuk kedalam hotel dengan perasaan kecewa kepada diri gue sendiri.
Sejujurnya, sangat percuma jika memiliki Kekuasaan dan kekayaan jika tidak bisa melindungi seseorang atau sesuatu yang sangat berharga bagi diri sendiri. Rasanya, kekuasaan dan kekayaan yang gue miliki sekarang sangat tidak berguna.
Selama di perjalanan menuju kamar Hotel gue, gue tak henti-hentinya menghela nafas. Entah sudah berapa kali gue menghela nafas, tapi gue masih merasa lelah dengan hari ini.
Saat sampai di depan kamar hotel gue, kedua Pria yang gue perintahkan untuk menjaga Jessica sontak menyapa gue sambil menunduk.
"Bagaimana dengan gadis itu?" tanya gue.
"Nona sekarang sedang tidur, Tuan." jawab salah satu dari mereka.
"Apa dia ada keluar dari kamarnya?" tanya gue lagi.
"Yasudah, tetap berjaga di luar. Aku ingin beristirahat sebentar." perintah gue.
"Baik, Tuan." ucap mereka bersama sambil menunduk.
Gue pun berbalik dan membuka pintu kamar gue lalu melangkah masuk dengan perlahan. Berjalan menuju ranjang, lalu berbaring di atas ranjang dengan perlahan dan menatap ke langit-langit dinding.
"Hah...aku butuh alkohol." gumam gue, lalu bangun dari posisi tidur gue dan turun dari ranjang.
Berjalan kearah pintu dengan tubuh yang sangat lelah, lalu membuka pintu kamar gue.
"Ada apa, Tuan?" sahut salah satu Pria itu.
"Aku butuh 5 botol whiskey dan 2 botol wine, dengan kadar alkohol paling tinggi" ucap gue.
"Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar." jawabnya.
Gue pun menutup pintu gue kembali, lalu berjalan kearah sofa dan duduk dengan punggung yang di sandaran di sandaran sofa.
__ADS_1
Entah kenapa, tubuh gue mulai tadi terasa sangat berat dan cukup sulit untuk di gerakkan.
"...apa efek obat biusnya masih tersisa? rasanya dosis yang di berikan terlalu berlebihan." gumam gue.
Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu gue. Setelah gue menyauti ketukannya, Pria itu pun masuk dengan membawa 7 botol alkohol di atas nampan makanan.
"Letakkan disitu saja." ucap gue sambil menunjuk meja dengan mata gue.
Setelah Ia meletakkannya di atas meja, gue langsung berkata. "Kamu boleh pergi."
"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk lalu melangkah pergi.
Tanpa membuang waktu lagi, gue langsung membuka satu persatu bokol whiskey dan wine itu lalu meminumnya.
Awalnya tidak terjadi apapun dengan kesadaran gue. Tapi saat gue menengguk botol ke 5, rasanya kesadaran gue mulai menghilang.
Gue tipe orang yang gak bakal mabuk kecuali alkohol yang gue minum lebih dari 10 botol. Tapi anehnya, gue baru meminum 5 botol saja, gue sudah mulai mabuk.
Walaupun sudah mulai mabuk, gue tetap meminum whiskey itu tanpa henti. Mau mabuk seberapa parahnya pun, gue bukan tipe orang yang kalau mabuk menghambur barang-barang atau berbicara sendiri seperti orang gila. Gue malah diam dan tak lama kemudian pasti gue tertidur dengan keadaan duduk.
Tapi, tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di sebelah gue. Gue langsung membuka mata gue dan menatapnya, dan ternyata seseorang itu adalah Jessica.
Melihat wajahnya, gue tak bisa berhenti tersenyum lebar.
JESSICA POV*
Gue yang baru bangun tidur, langsung turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
"Nona? ada apa, Nona? apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu Pria itu.
"Apa Tuan kalian sudah datang? aku ingin bertemu dengannya." tanya gue.
"Sudah, Nona. Tuan ada di dalam kamarnya." jawabnya.
Mendegar itu, gue langsung melangkah masuk ke kamar Marcel dengan senyum kecil karna akhirnya bisa bertemu dengannya.
Saat didalam kamarnya, gue melihat dia yang sedang duduk di sofa. Gue langsung berjalan kearahnya sambil memanggil namanya.
Tapi, saat berdiri disampingnya gue melihat banyak botol alhokol dan lebih parahnya lagi, Marcel tertdur di sofa dengan keadaan duduk.
"...Apa dia mabuk?" gumam gue.
__ADS_1
Bersambung