
Saat di luar kamar Bella, Gue sontak mendorong Marcel menjauh dari gue dan menatapnya dengan sangat tajam.
"Kenapa lagi, sih? gue ada buat salah lagi? atau lu gak puas sama pernyataan gue ke Bella tadi?" tanyanya.
"Bukan itu bego!!" kesal gue.
"Yaudah, kita kembali ke kamar dulu. Baru lu jelasin, terserah lu mau mukul gue atau mau marah-marah gak jelas, terserah..." ucapnya, lalu merangkul gue kembali dan menarik gue ikut bersamanya.
Setelah sampai di kamar, Marcel melepaskan rangkulannya lalu melemparkan dirinya ke atas ranjang dan meninggalkan gue yang hanya berdiri di samping ranjang itu.
"Haah...akhirnya bisa santai." ucapnya sambil mengelus-elus kasur yang Ia tiduri.
Karna kesal dengan sikap bodohnya itu, gue langsung melemparkan tubuh gue tepat diatas tubuh Marcel dan membuatnya berteriak kesakitan.
"Sa-salah gue a-apasih? sa-saki tau..." ringisnya.
"Ini ranjang gue, kok lu yang kuasain sih!?" kesal gue.
"Ya maaf...habisnya dari tadi gue gak ada istirahat. Bada gue udah pegel-pegel karna main golf, sekarang remuk gara-gara ditindas gajah." ucapnya.
"Apa lu bilang!!? gajah!!? lu sebut gue gajah!!?" geram gue dan sontak menghempaskan tubuh gue di atas Marcel lagi.
"Ma-maaf...gue,gue salah....maaf!!!!" teriaknya.
"Bodo!! siapa suruh ngejek gue!!" kesal gue dann mengulangi tingkah gue ke Marcel.
Awalnya Marcel masih meringis dan berteriak kesakitan, tapi tiba-tiba saja tidak ada suara sedikitpun dari Pria itu. Gue yang sedikit takut, sontak berhenti dan bangun dari posisi gue.
"Cel? lu gak papa kan?" tanya gue setelah turun dari punggungnya dan duduk tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Cel? lu kalau becanda jangan sekarang, gue lagi gak mood!!" kesal gue sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Tapi tidak ada pergerakan kecil yng di buat oleh Marcel, gue yang mulai panik karna takut terjadi sesuatu kepadanya. Berniat untuk memanggil Jordan
atau Hendra untuk menolong gue.
Saat gue ingin turun dari ranjang, tiba-tiba saja tangan gue di tarik dan memaksa gue untuk berbaring kembali.
"Mau kemana? udah nyakitin gue, malah mau pergi. Gak bertanggung jawab banget sih!" ucap Marcel sambil tersenyum licik di atas gue dan menyentil hidung gue pelayan.
"Ih!!! gue kira lu mati tau!!" kesal gue sambil memukul dada bidangnya.
"Lah? masa gue mati karna di tindih sama lu? aneh banget dah."
"Habisnya lu gak gerak, gue udah takut lu kenapa-kenapa."
"Aduh aduh... sayangnya aku khawatir nih? lucu banget sih..." ucapnya lalu mengecup pipi kiri gue.
"Ih!! mana mungkin gue jomblo seumur hidup! gila lu!!"
"Lu kalau marah kenapa lucu banget sih? jadi makin sayang..."
Marcel tak henti-hentinya mengecup kedua pipi gue, entah karna dia memang menyukainya atau karna sesuatu. Tapi semakin lama kecupannya itu semakin menjadi-jadi. Kecupan yang awalnya sangat lembut, berubah menjadi ******* yang sangat ganas di bibir gue.
Bodohnya, gue malah meladeninya dan mengikuti permainan kecilnya itu. Tangannya yang mulai turun ke bawah, dan mengelus paha gue dengan sangat lembut. Itu sedikit membuat gue terangsang dan sedikit mendesah.
Sialnya, Marcel malah terus menggoda gue. Gue yang memekai dress panjang, Ia perlahan menaikkan dress itu sampai membuka sebagian tubuh gue.
"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Marcel dengan tatapan yang penuh dengan nafsu.
__ADS_1
"Hm..." dehem gue sambil mengangguk ragu.
Tanpa basa-basi lagi, Marcel sontak membuka seluruh pakaiannya dan membuat gue melihat tubuhnya tanpa menggunakan sehelai benang pun. Ia juga membuka paksa pakaian yang gue pakai, dan hanya menyisahkan pakaian dalam gue saja.
Gue sedikit malu dengan tatapan Marcel yang menatap tubuh gue, tapi Marcel mendekati telinga gue dan berbisik. "Tidak usah malu, hanya aku yang melihatnya. Dan lagi, kamu tampak sangat cantik seperti ini."
Setelah berbisik seperti itu, Ia dengan santainya tersenyum manis ke gue dan perlahan membuka CD gue.
Terasa sangat geli karna jarinya mulai bermain dibawah sana, tapi lidahnya itu tak berhenti menjilati seluruh tubuh gue.
"Kamu udah basah, honey~ jadi aku akan langsung keintinya aja. Tenang saja aku akan bermain dengan lembut." ucapnya dengan suara yang sangat aneh.
Tiba-tiba saja gue merasakan sesuatu yang menusuk bagian intim gue, terasa sangat sakit tapi gue tidak ingin Marcel menghentikannya.
Saat Marcel mendorong pinggulnya dan membuat kami bersatu, gue sangat tersiksa dan membuat gue berteriak sangat keras karna terasa sangat sakit.
"A-apa sakit? kalau sakita gue bisa berhenti kok, kita bisa lakuin nanti." ucapnya yang menatap gue dengan ekspresi khawatir.
Gue menggelengkan kepala gue dan berkata. "Lanjutkan, gue bisa tahan." sambil mengalungkan tangan gue ke lehernya.
"Oke, gue bakal mulai. Kalau lu gak kuat, pukul gue sekeras mungkin, biar gue bisa berhenti."
"Hm..." dehem gue sambil menganggukkan kepala.
Dengan perlahan, Marcel mulai menggoyangkan pinggulnya. Saat Ia menarik kembali miliknya, ada rasa lega yang terasa di dalam diri gue. Tapi saat Ia memasukkan dalam sekali hentakan, itu benar-benar menyiksa gue dan rasanya di dalam di penuhi oleh miliknya.
Gue mulai mengeluarkan suara aneh, dan tubuh gue rasanya sangat panas. Padahal AC kamar ini sangat dingin tadinya. Marcel yang bermain dengan irama yang sama, dan tubuhnya mulai mengeluarkan keringat.
Tidak seperti diawal, sekarang rasa sakit itu perlahan menghilang dan di ganti dengan kenikmatan yang tidak ingin gue hentikan.
__ADS_1
BERSAMBUNG