Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jalan-Jalan Sendiri


__ADS_3

MARCEL POV*


Gue yang lagi tertidur dengan lelap di pangkuan Jessica, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar Jessica dengan keras. Mendengar ketukan itu, gue langsung membuka mata gue lalu bangun dari posisi gue.


"Masuk!" sahut gue yang menatap kearah pintu dengan tajam.


"Ma-maaf mengganggu anda, Tuan." ucap Jordan.


"Hah...sudah lah, kamu dari mana saja? kenapa kamu pergi tanpa perintah dari ku? bukannya kamu berjanji untuk tetap berada di dekat ku setelah kejadian itu?" sambung Gue.


"Maaf, Tuan. Saya mendapat perintah dari Nona Angel untuk membelikan Anda makan malam, Tuan." jawabnya.


"Apa kamu bodoh, Jordan!!?" geram gue.


"Untuk apa kamu membelikan ku makan malam atas perintah wanita itu!? jika aku ingin makan, aku akan langsung menyuruh mu! dan lagi, kenapa kamu pergi sangat lama hanya untuk mmebeli makanan saja!? apa kamu tau apa yang di lakukan oleh Wanita itu kepada ku!!?" ucap gue.


"Maaf atas kelalaian saya, Tuan. Mungkin karna dia adalah Putri tunggal Tuan Dermi, saya tanpa sadar mengikuti perintahnya. Dia juga mengancam saya, jika saya tidak menjalankan perintahnya, anda akan menghukum dan membunuh saya." jelasnya.


"Hanya karna dia Putri dari teman dekat Tuan Anggara, kamu sampai pelupakan siapa Tuan mu sebenarnya!!?" sahut gue.


"Sekali lagi maaf, Tuan. Saya bersalah, hukum saya jika anda ingin." ucapnya sambil membungkuk.


"Karna kelalaian mu itu, aku sampai di bodohi oleh wanita itu. Bisa-bisanya dia meminumkan ku obat perangsang, aku hampir gila karna obat itu. Dan lagi, dimana dia sekarang? aku tidak menemukannya di ruangan ku setelah aku menemui Carmelia." sambung gue.


"Itu yang ingin saya katakan kepada anda, Tuan." sahutnya.


"Apa maksud mu?" tanya gue bingung.


"Tuan Dermi ingin bertemu dengan anda sekarang, ada hal yang ingin dia bicarakan dengan anda." jawabnya.


*Apa karna gue ninggalin Angel tadi? masa gara-gara itu, sih?* batin gue.


"Yasudah, siapkan mobil. Kita akan berkunjung ke kediaman keluarga Dermi." perintah gue.


"Baik, Tuan." jawabnya lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar Jessica.

__ADS_1


"Cel, lu mau kemana? siapa Angel?" sahut Jessica yang ternyata mulai tadi menatap dan mendengarkan ucapan gue.


Gue langsung menoleh dan menatap wajahnya yang penuh dengan kebingungan.


"Hm...lu mau jalan, gak? mau jajan? gue kasih kartu gue, ya. Nanti lu belanja sendiri aja, gue bakal suruh beberapa bawahan gue buat nemenin lu." tawar gue.


"Tapi—hah...yaudah lah, gue mau ke mall." jawab gadis itu.


"Oke, sayang. Yaudah, gue ke ruangan gue dulu. Mau siap-siap, habis itu gue kesini lagi." ucap gue sambil mengelus puncak kepalanya, lalu berdiri.


"Hm...oke." jawabnya.


Gue pun melangkah keluar dari kamarnya dan masuk ke ruangan gue, untuk mengganti pakaian baru. Setelah selesai bersiap, gue pun melangkah keluar dari ruangan gue.


"Mobil sudah siap, Tuan." sahut Jordan.


"Sebelum kita pergi, ada yang harus kamu lakukan dulu." ucap gue.


"Apa itu, Tuan?" tanyanya.


"Baik, Tuan. Silahkan anda ke mobil lebih dulu, saya akan segera menyusul anda setelah menyelesaikan tugas dari anda." ucapnya.


"Baiklah." jawab gue, lalu melangkah pergi menuju basment.


JESSICA POV*


Gue yang lagi bersiap di depan meja rias, mengikat rambut dan memakai topi dan juga masker kain berwarna hitam agar identitas gue tidak di ketahui orang yang gue kenal.


Memang cukup sulit untuk bernafas jika terlalu lama memaka masker, tapi mau bagaimana lagi, gue harus bisa menutupi identitas gue sendiri. Karna itu sudah menjadi perjanjian gue dengan Marcel.


Tiba-tiba saja da yang mebgetuk pintu gue, gue pikir itu Marcel. Makanya gue langsung berdiri dan merjalan ke arah pintu untuk membukakannya pintu.


"Marcel— eh? Jordan? dimana Marcel?" tanya gue yang sedikit terkejut dengan kehadiran Jordan bukannya Marcel.


"Tuan sudah di mobil, Nona. Ini kartu ATM, Tuan. Anda bisa menggunakannya sesuka hati anda, kartu itu tanpa batas penggunaan. Passwordnya 135628, Nona." jelasnya sambil menyodorkan gue sebuah Blackcard.

__ADS_1


"Hm...bisa kirimkan passwordnya lewat pesan? aku takut lupa." ucap gue sambil mengambil kartu itu dari tangan Jordan.


"Tentu saja, Nona. Saya akan segera mengirimkannya ke nomor anda." jawabnya.


"Oh iya, Nona. Akan ada 10 orang yang mengikuti anda, mereka akan menjaga anda. Beri saja perintah kepada mereka, jika ada salah satu dari mereka yang melawan perkataan anda. Bilang saja kepada saya, saya akan langsung memberikannya hukuman." sambungnya.


"Hm...oke." jawab gue.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Anda bisa langsung ke basment, karna mereka sudah menunggu anda di basment." ucapnya.


"Baiklah, terima kasih." jawab gue.


Jordan hanya menjawab dengan menundukkan kepala saja, lalu melangkah pergi dari hadapan gue. Gue pun berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar gue untuk mengambil tas gue.


Gue pun melangkah keluar dari kamar gue dan berjalan menuju basment dengan stelan serba hitam. Mulai dari kemeja hitam polos, rok hitam bergaris putih di bawahnya, jas hitam yang panjangnya hingga selutut, dan juga sepatu boot hitam.


"Kenapa juga jasnya panjng banget? mana berat lagi, ada-ada aja!" gerutu gue.


Jas itu di berikan oleh Jordan, katanya itu di buat khusus untuk gue agar gue terhindar dari ancaman para pembunuh. Ngerti gak ngerti, gue tetap nerima jas-jas itu. Bukan cuma satu yang Ia berikan, melainkan 10 jas yang sama persis. Untung jasa jasnya tidak terlalu polos, kalau saja jas itu polos mungkin gue gak bakal pakai dan menolak pemberian Jordan itu.


Gue pun sampai di basment, gue bisa melihat kerumunan pria yang sedang berdiri di depan salah satu mobil yang ada di tempat itu.


"Selamat malam, Nona. Malam ini kami yang akan mengawal anda." ucap salah satu dari Pria itu sambil menunduk di hadapan gue.


"Malam, baiklah. Kita ke mall XX, sekarang." perintah gue.


"Baik, Nona." jawab mereka bersama.


Gue pun melangkah masuk ke dalam mobil, setelah salah satu Pria itu membukakan gue pintu mobil kedua.


Tak lama kemudian, mobil pun mulai bergerak. Hanya satu orang yang berada di dalam mobil itu sebagai supir sementara, dan yang lainnya menjaga gue dengan mengelilingi mobil yang gue tumpangi. Ada 2 mobil dan 3 motor yang mereka pakai untuk mengawal gue.


Tentu saja ini yang pertama kalinya gue di kawal seperti ini tanpa ada Marcel dan juga Jordan yang menemani gue. Dan disini, gue harus bisa tegas kepada mereka saat memberikan perintah. Kalau tidak, mungkin saja mereka tidak akan mendengarkan ku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2