
Ternyata Bryan membawa gue ke belakang sekolah, tempat para preman sekolah berkumpul untuk merokok ataupun bolos pelajaran.
Bryan langsung melempar gue ke tembok dengan keras dan berdiri tepat di hadapan gue dengan tangan kiri yang berada di dalam saku depan celananya.
"Ke-kenapa kita kesini? gu-gue salah apa?" tanya gue.
"Apa hubungan Jessica sama pemimpin Mafia itu?" sahutnya.
"Ma-maksud lu apa? gu-gue gak tau hubungan mereka." tanya gue sok polos.
"Lu kan dekat sama Jessica, pasti lu tau hubungan mereka!!" kesalnya.
"Gu-gue gak tau... Jessica gak pernah cerita tentang itu sama gue. Gu-gue juga gak tau siapa pe-pemimpin Mafia itu." jawab gue.
"Bohong!! apa jangan-jangan lu—"
"Reyhan Putra di mohon untuk ruang kepala sekolah, segera!" suara pengumuman sekolah yang tiba-tiba memotong ucapan Bryan.
"Gu-gue di panggil, a-apa gue boleh pergi? Gu-gue takut kepala sekolah nungguin gue." sambung gue.
"Argh!! dasar!!" geramnya dan sontak mendorong gue dari hadapannya.
"Buruan sana!! urusan kita belum selesai!" usirnya.
"I-iya." jawab gue dan langsung beranjak pergi dari tempat itu menuju ke ruang kepala sekolah.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, gue akhirnya sampai di depan pintu ruang kepala sekolah. Gue pun mengetuk pintu itu perlahan.
Setelah mendapatkan sautan dari dalam, gue pun mulai mendorong pintu itu secara perlahan dan melangkah masuk ke ruangan itu.
Saat di dalam, gue di buat terkejut dengan seseorang yang duduk di sofa dengan pakaian yang sangat formal dam wajah orang itu sangat familiar bagi gue.
*Astaga! Andre!!?* batin gue yang menatapnya dengan wajah yang sangat terkejut.
"Reyhan, beri salam kepada Tuan Andreno Glasino. Pengacara terhebat di Dunia." sambung Kepala sekolah.
"Ba-baik, Pak." jawab gue.
__ADS_1
Gue pun menyerongkan tubuh gue sampai menghadap ke Andre, dan bersiap untuk memberi salam. Tapi tiba-tiba saja Andre berkata. "Tidak perlu, saya tidak punya waktu lagi."
"Oh...baiklah, Tuan." balas Pria itu.
"Reyhan, hari ini kamu tidak akan bersekolah. Tuan Andre ingin mengajak mu berbincang dan mengenal mu lebih dalam, Ia ingin melihat potensi mu. Siapa tau kamu bisa menjadi pengacara sepertinya." ucap Pria itu.
"Lalu, bagaimana dengan tugas-tugas sekolah saya, Pak? Seminggu lagi kan ujian, Pak." tanya gue.
"Bapak akan bilang kepada para guru yang mengajar di kelasmu, bahwa kamu ada pelajaran lain di luar sekolah. Dan lagi, bukannya setiap Ujian sekolah. Kamu selalu mengerjakan semuanya dalam satu atau dua hari saja? Kamu yang memilih jadwal itu sendiri, jadi...terima saja. Ujian semester awal ini, hanya Ujian biasa saja bagi mu." jelasnya.
*Padahal dia yang menyarankan itu, biar gue bisa beda kelas sama murid lainnya. Malah gue di taro di kantor guru, lagi!* batin gue.
"Gimana Reyhan? kamu mau, kan?" tanyanya.
"Iya, Pak. Saya mau. Kalau begitu, saya ke kelas dulu. Biar saya ambil tas saya dulu." jawab gue.
"Tidak perlu, saya sudah menyuruh supir saya untuk mengambil tas anda." sahut Andre.
"Nah...Kalau begitu Anda bisa langsung mmbawa murid kesayangan saya ini." sambung Kepala sekolah.
Andre langsung berdiri dengan memegang tasnya di tangan kirinya, lalu berkata. "Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih." sambil menunduk sekilas kepada kepala sekolah.
"Mari ikut saya." ajak Andre ke gue.
"Ba-baik." jawab gue dan langsung menunduk sekilas kepada kepala sekolah utuk memberi salam, lalu mengikuti Andre dari belakang.
Setelah sampai di mobil, gue langsung melonggarkan dasi gue dan menyisir rambut kebelakang dengan tangan gue.
"Haah..." hela nafas gue sambil menyandarkan tubuh gue di sandaran kursi.
"Selamat pagi, Tuan. Senang bisa bertemu dengan anda lagi." sapa Andre yang duduk d sebalah gue, sambil menundukkan kepala.
"Angkat kepala mu." ucap gue.
"Senang juga bisa bertemu lagi dengan mu, sudah 2 tahun kita tidak bertemu. Dan kamu tiba-tiba muncul di sekolah tambah memberitahu ku lebih dulu!" sindir gue.
"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin memberi anda kejutan, dan ingin membawa anda keluar dari sekolah itu untuk hari ini saja." jawabnya.
__ADS_1
"Sudahlah! jalan saja dulu, kita bicara di perjalanan saja." sambung gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Ke markas, sekarang!" perintahnya kepada supir pribadinya.
"Baik, Tuan." jawab Pria itu dan mulai menjalankan mobilnya.
"Oh ya, kenapa kamu tidak mengambil kesempatan untuk libur setahun? kamu sudah sangat bekerja keras setelah kematian Tuan Anggara. Dan lagi, apa kamu tidak berniat untuk menikah? umur mu ini sudah 29 tahun, kamu sudah bukan remaja seperti ku lagi." sahut gue
"Ayolah, Taun~ jangan menyindir masalah pernikahan. Aku sudah muak dengan para wanita yang hanya menginginkan kekayaan ku saja, padahal ada yang lebih kaya dari ku. Tapi mereka malah mendekati ku, sampai aku muak!" ocehnya.
"Kenapa juga kamu masih terlihat tampan, walaupun umur mu sudah hampir kepala tiga. Aku sampai iri dengan wajah mu itu, bisa-bisa aku kalah tampan dari mu." ejek gue.
"Oh tentu saja~ makanya para wanita sangat terpikat dengan ku. Wajah dan kekayaan ku sangat tidak manusiawi." angkuhnya.
"Bisa-bisanya aku punya pengacara seperti ini, ckckck!" decak gue.
"Ada hal yang saya ingin katakan mengenai Pemimpin Mafia dari Korea." sambungnya.
"Kenapa? apa dia menentang persetujuan dari pemimpin mafia lainnya? apa dia tidak setuju kalau pemimpin Mafia dari Itali yang memimpin Dunia Mafi?" tanya gue.
"Tidak, Tuan. Dia tidak menentangnya, dia malah menerima anda dengan sangat senang hati. Tapi..." ucapnya yang tiba-tiba terpotong.
"Tapi kenapa? kamu membuat ku jadi sangat penasaran!" kesal gue.
"Pemimpin Mafia Korea yang sekarang ingin mengundurkan diri, karna Ia yang sudah kehilangan Istri dan Putri bungsunya." jawabnya.
"Apa-apaan itu!!? lalu siapa yang akan memimpin disana? apa dia sudah memiliki kandidat untuk menggantinya? dan lagi, percuma saja kalau dia menghindar dari para musuh. Dia tetap akan menjadi sasaran empuk kalau dia sampai melepas jabatannya sendiri!" sahut gue.
"Ya...saya juga sudah mengatakan hal itu kepadanya. Tapi dia masih bersikeras untuk melepaskan jabatannya itu." sambungnya.
"Haah...dasar Pria tua bodoh!! kirimkan surat undangan kepadanya, bahwa pesawat pribadi ku akan menjemputnya nanti malam. Aku harus bicara dengannya!" perintah gue.
"Ba-baik, Tuan." jawabnya.
*Dasar Pria bodoh! baru kehilangan istri dan Putri bungsunya saja, sudah mundur sebelum berperang. Ada-ada saja!* batin gue.
__ADS_1
Bersambung