Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Dibunuh Oleh Gadis Lemah


__ADS_3

Setelah perbincangan yang cukup panjang dengan kepala keluarga Min sekaligus pemimpin Mafia Korea, akhirnya gue bisa beristirahat di kamar. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 03.20


Mulai sore tadi sampai sekarang, gue belum sempat melihat Jessica. Dan lagi, kamar gue dan kamarnya berbeda lantai. Gue berada di lantai dua, dan dia berada di lantai tiga. Dan itu membuat gue malas untuk untuk menemuinya.


Entah apa yang sekarang Ia lakukan, pasti di dalam pikirannya penuh dengan banyak pertanyaan mengenai kastil dan juga alasan mengapa gue membawanya kesini.


Walaupun gue tidak bertemu dengannya, tapi Dika yang menjaganya selalu memberikan laporan setiap sejam sekali kepada gue. Laporan mengenai apa yg Ia lakukan, apa yang Ia makan, dan siapa yang menemaninya di kamar dan juga mengobrol bersamanya.


Saat di kamar, gue memutuskan untuk membersihkan diri dan memakai baju handuk berwana navi saja. Berbeda dengan di markas, kamar gue yang di kastil 5 kali lebih luas dari ruangan di markas. Kasur yang yang besar, bisa memuat 5 orang dewasa, dan berabotan lainnya yang berwarna Hitam. belum lagi ruang ganti gue, yang berada di sebelah dengan ukuran setengah dari kamar gue.


Gue membaringkan tubuh gue di atas ranjang, dengan kaki yang masih menempel di lantai dan mata yang menatap ke langit-langit ruangan.


"Sudah lama tidak merasakan kenyamanan ini..." gumam gue.


"Tinggal 2 jam lagi, gue harus kembali ke rumah. Tapi kepala keluarga Min masih berada di sini, Andre harus tinggal disini. Agar ada yang menemani Pria itu berbincang." ucap gue dan langsung menarik handuk kecil yang masih menempel di leher gue.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu gue, gue langsung menyauti ketukan itu, lalu bangun dari posisi gue.


"Maaf mengganggu waktu istirahat Anda." sahut Jordan.


"Ada apa?" tanya gue.


"Nona mencari anda, dia ada di depan kamar anda sekarang." jawabnya.


"Loh? bukannya dia sudah tidur? apa yang dia lakukan pagi-pagi buta seperti ini?" sambung gue.


"Nona bilang, Ia ingin bertemu dengan anda. Ada hal penting yang harus Ia sampaikan." ucapnya.


"Haah...dia selalu saja seperti ini. Suruh di masuk, dan siapkan Kopi untuk ku. Sepertinya hari ini aku tidak akan tidur lagi." perintah gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk, dan berbalik lalu melangkah keluar dari kamar gue.


Gue pun berdiri, dan berjalan kearah kursi santai ku yang berada di dekat jendela. Karna akan ada Jessica, jadi gue menarik kursi dan meletakkannya di depan gue yang hanya di halangi oleh meja kecil.


Tak lama kemudian, Jessica pun masuk dan melangkah kearah gue dengan pakaian tidur berwarna putih dan rambut yang di biarkan terurai.

__ADS_1


"Maaf mengganggu waktu istirahat mu, tapi ada hal yang harus aku sampaikan." ucapnya.


*Mu? Aku? gue gak salah denger kan?* batin gue.


"Duduk!" sahut gue.


"Iya..." jawabnya, lalu duduk di kursi itu.


"Ada masalah apa? apa ini berkaitan dengan keluarga mu?" tanya gue.


"Aku ingin kamu menikahi ku dan berikan segela harta mu kepada ku." jawabnya yang mebuat gue terkejut.


"A-apa maksud mu? aku memang berjanji akan memberikan segalanya kepada mu, tapi bukan seperti ini yang aku inginkan! apa itu perintah dari orang tua mu lagi!!?" sahut gue.


"Bukan! ini murni keinginan dari ku sendiri." ucapnya sambil menatap gue degan serius.


"Gak!! ini bukan keinginan dari mu sendiri!! kamu bukan Jessica!!" geram gue.


"JORDAN!! ANDRE!! VERNON!! CEPAT KESINI!!" teriak gue.


"JORDAN!!!" teriak gue lagi.


Tiba-tiba saja ada suara tembakan yang sangat keras, gue pikir Jessica yang menembakkan peluru ke gue, mkanya gue langsung menunduk dan menutup mata gue dengan kuat.


"Maaf kami terlambat, Tuan." sahut seseorang.


Mendengar itu, gue langsung membuka mata gue berlahan dan menengakkan tubuh gue, lalu menengok kearah suara itu.


"Jo-jordan!?" ucap gue terkejut.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" sambung Vernon yang berdiri di belakang Jordan bersama dengan Andre.


"A-aku baik-baik saja, tapi kenapa kalian menembak Jessica!?" tanya gue.


"Tenang, Tuan. Itu tidak akan membunuh Nona, itu hanya akan membuat Nona pingsan saja." jawab Jordan santai.

__ADS_1


"Untung saja Jordan yang menembak, jika saya. Mungkin gadis itu sudah mati sekarang!" gerutu Andre.


"Ke-keenapa!!? kenapa bisa jadi seperti ini!!?" geram gue.


"Kami juga tidak tau, Tuan. Saya dan Andre akan mencari tau secepat mungkin." ucap Jordan.


"Jangan membawa ku, aku tidak akan mengurusi gadis itu. Memuakkan!" kesal Andre.


"Jangan membuat ku tambah pusing, Andre!! cari tau mengenai masalah ini bersama dengan Jordan! jam 5 nanti, aku sudah harus menerima laporan masalah ini!! jika tidak, kalian yang akan mendapatkan hukumannya!!" sahut gue.


"Tapi—"


"Tidak terima kata bantahan!!" potong gue.


"Haah...baiklah." jawabnya.


"Anda silahkan istirahat saja, biar saya beritahu kepala sekolah anda, bahwa anda besok tidak bisa masuk." lanjutnya.


"Baiklah, jangan lupa untuk memberitahu wali kelas gadis itu juga, Jordan." ucap gue.


Jordan langsung menggendong Jessica, dan langsung menghadap ke gue.


"Anda tidak perlu memikirkan masalah Nona, saya akan menjaga Nona tetap aman. Saya juga akan memanggil Hendra untuk merawat Nona." jelasnya.


"Aku akan menyerahkannya kepada mu." jawab gue, lalu berdiri.


"Kami izin undur diri dulu." sambungnya.


"Selamat malam, Tuan." ucap mereka berdiri sambil menunduk, lalu melangkah keluar dari kamar gue.


Gue pun melangkah kembali ke ranjang gue, dan langsung membaringkan tubuh gue dengan benar.


Gue hanya bisa menghela nafas mengingat kejadi beberapa detik yang lalu. Benar-benar hampir membuat gue mati di tangan seorang gadis lemah sepertinya.


Tapi pada akhirnya gue memejamkan mata gue dengan kepala yang penuh dengan tanda tanya, dan mulai tertidur dengan posisi tangan kanan yang gue letakkan di atas perut dan tangan kiri yang berada di atas mata gue.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2