
Jordan yang tadinya masih terduduk di lantai, dengan cepat Ia berdiri dan tanya. "A-apa maksud mu? Nyo-nyonya ti-tidak selamat??"
Dokter itu tidak menjawab pertanyaan Jordan, Ia malah menatap Marcel yang membatu karna perkataannya. Andre yang paham akan apa yang terjadi dengan Marcel, Ia langsung menarik Marcel kedalam pelukannya.
Tapi, baru beberapa detik Andre memeluknya. Marcel tiba-tiba mendorong Andre, dan kembali menatap Dokter wanita itu. "A-apa aku bisa melihat Istri ku?"
"Tentu saja, Tuan. Mari, saya antar." Dokter itu pun menuntun Marcel masuk kedalam ruang operasi, dan di susul oleh Andre, Jordan, dan Para dokter lainnya.
Sebenarnya, Marcel tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Dokter itu. Tapi, saat melihat bangsal yang berada di tengah-tengah ruangan itu, Ia langsung berlari kearah bangsal itu dan berdiri tepat di samping bangsal itu.
Marcel menatap lekat kain putih yang menutup tubuh seorang wanita di atas bangsal itu. Dengan perlahan tangannya bergerak kearah kain itu, dan menggenggam eratnya.
*Carmelia...* batin Pria itu lalu dengan perlahan menarik kain itu. Saat Kain itu terbuka dan menampakkan wajah wanita itu, Lagi-lagi Marcel terjatuh dan terduduk.
__ADS_1
"Tuan!!" teriak Andre dan Jordan.
"Ti-tidak... tidak mungkin... ti-tidak mungkin..." racau Marcel.
"A-apa yang harus kita lakukan, Andre?" tanya Jordan.
"Aku tak tau, aku juga bingung. Rasany aku ingin duduk di samping Tuan dan meangis bersamanya," jawab Andre.
"Aku juga..." balas Jordan.
"Carmelia!! bangun! bangun!! tolong bangun!!! apa kau lupa dengan janji mu!? cepat bangun!!!" Marcel menggoyang-goyangkan tubuh Carmelia yang sudah tak bernyawa itu.
"Jangan mencoba untuk menipu ku, Carmelia!!, cepat bangun!! jika tidak, aku akan menghukum mu!! cepat bangun!!"
__ADS_1
Dokter wanita itu tiba-tiba berjalan kearah Marcel dan menepuk pundak Pria itu, lalu berkata. "Tuan, anda harus menerima kepergian Nyonya."
Marcel menatap dokter itu dengan tajam, dan berkata. "Tidak!! Carmelia masih hidup!! dia tidak mungkin mati!!"
"Benar kan, Carmelia? kau tidak mungkin meninggalkan ku kan? benar kan? kau sudah berjanji untuk bermain bersama saat anak kita telah lahir, apa kau tau? Putri kita telah lahir, pasti dia secantik diri mu," racau Marcel sambil menatap Carmelia sambil tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Carmelia, bangunlah. Kau harus bangun, kita harus memberi nama Putri kita. Tolong bangun... jangan diam saja..."
Tak di sangka, Air mata yang Ia tahan mulai tadi, akhirnya pecah dan membasahi pipi Pria itu. Marcel memeluk Carmelia dan menangis di atas pundak sang Istri.
"Tolong... bangunlah... bagaimana aku akan merawat Putri kita jika tidak ada kau disisi ku? dan bagaimana aku menjalani hidup ku tanpa mu? jadi, tolong... bangunlah... hiks. hiks..."
Mereka yang menyaksikan tangisan Marcel itu, tak satupun dari mereka yang berani untuk mendekati Marcel lagi. Mereka hanya bisa berdiri di tempat mereka masing-masing dan menundukkan kepala mereka.
__ADS_1
*Kematian mu adalah sebuah bencana bagi Dunia ini, aku akan membunuh mereka semua! tidak ada satupun dari mereka yang akan selamat! aku bersumpah atas nama mu dan sumpah darah yang ku lakukan dengan mu!* batin Marcel yang masih menangis dan memeluk Istrinya.
BERSAMBUNG