Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Jessica Sang Pembuat Masalah


__ADS_3

  REYHAN POV*


  Gue yang sekarang sudah berada di sekolah, tepatnya di kelas gue, sambil duduk dengan buku yang gue baca.


  Awalnya hari gue berjalan dengan biasa saja, tanpa ada pengacau sedikit pun. Saat pelajaran dimulai, semunya masih berjalan dengan sangat lancar.


  Tapi, saat bel istirahat berbunyi. Ada hal yang benar-benar membuat gu terkejut, marah, dan juga bingung.


  Hal itu adalah Jessica yang tiba-tiba datang ke kelas gue, dan menghampiri gue, lalu berdiri tepat di depan gue.


  *Nih bocah ngapain disini coba? Bryan ada di belakang, bego!!* batin gue sambil menatapnya.


  "Elu! Ikut gue!" ucapnya, yang membuat semua yang ada di kelas gue sontak terkejut dan menatap ke arah kami.


  Termaksud Bryan, Ia sontak menghampiri kami sambil berkata. "Wah...ada acara apa ini? kok gak ngajak-ngajak gue.


  "Iya, kan?" lanjutnya sambil merangkul gue.


  *Hadeh, kenapa hidup gue gini banget dah.* batin gue.


  "Lu gak usah ikut campur, ini urusan gue sama Si kutu buku ini." jawab Jessica.


  "Urusannya, juga urusan gue. Jadi lu harus bilang jug sama gue." sambung Bryan.


  *Kalian aja yang ngobrol sama, gak usah sama gue. Gue mau ke perpus kali.* batin gue.


  "Emang lu siapa? dasar preman gila!!" ucapnya dan sontak memegang tangan gue, lalu menarik gue pergi.


  "Woi!! lu mau bawa kutu buku kemana?!!" teriak Bryan.


  *Iya, woi!! gue mau di bawa kemana?* batin gue.


Ternyata cewek itu, narik gue sampai ke atap sekolah. Entah dari mana dia bisa dapat kunci pintu itu, dan keluar dengan santainya sambil menarik gue.


  "Lu ngapain narik gue sih?!" sahut gue sambil menepis tangannya.


  "Lu mau buat tangan gue putus, hah?!!" geram gue.


  "Lu kok malah marah-marah sih?!"


  "Ya jelas lah!! gue kan udah bilang, jangan bongkar rahasia gue. Lu kayaknya memang mau mati di tangan gue."


  "Gue gak ada bilang sama siapa-siapa tentang lu, bego!!"


  "Iya memang lu gak ada bilang sama siapa-siapa, tapi sikap lu itu. Bikin gue ketahuan, bego!!"


  "Lu kok nyebut gue bego, sih?" protesnya.


  "Lah? lu sendiri nyebut gue bego, ya sama-sama bego lah." jawab gue.


  "Hah...sudah lah, gue cuma mau ngasih ini doang." sambungnya dan sontak menyodorkan gue satu ponsel.


  "Loh?! Ponsel gue? Kenapa ada di lu? jangan-jangan lu maling ya?" ucap Gue setelah mengambil ponsel itu.

__ADS_1


  "Tadi bego, sekarang maling. Habis ini apa? setan gitu? Gak lama beneran gue tabok lu." protesnya.


  "Lu mau nabok gue? sehat, Mba? Semalam yang nangis minta di lepasin, siapa ya? gue sampai lupa nih."


  "A-apaan sih! gak jelas banget, gila lu!!"


  "Terserah lu dah." gumam gue.


  "Habis ini, jangan pernah lu samperin gue lagi!! lu bikin gue jadi pusat perhatian bego!! gue udah capek-capek sandiwara mulu, lu malah hancurin segalanya." sambung gue.


  "Ya maaf, gue kan cuma mau ngasih ponsel lu itu. Kalau gue ngasih langsung, nanti orang curiga gimana?"


  "Ya pakai otak dong, Say. Alasan ponsel gue jatuh kek, terus lu yang nemu, atau yang lainnya. Pintar-pintar lu lah!"


  "Sayangnya gue gak pintar, gimana dong?"


  "Au ah!! capek gue ngomong sama lu, dah gue mau bulik. Bye." ucap gue dan sontak berbalik.


  "Yasudah sono pergi." jawabnya.


  "Ini juga mau pergi, kali!" gumam gue dan melangkah masuk melewati pintu itu.


  Gue pun kembali ke kelas, sambil menundukkan kepala gue. Karna semua orang, menatap gue mulai tadi.


  *Gara-gara tuh bocah, gue jadi di liatin mulu kan. Awas aja ntar malam.* batin gue.


  Saat gue sampai di kelas, sudah ada Bryan dan teman-temannya yang menunggu gue.


  *Anjir!! kalau gini ceritanya, mending gue ke perpus aja lah.* batin gue.


  "I-iya." jawab gue.


  "Sini lu!" ucapnya.


  Gue pun melangkah menghampirinya, dan masih saja menundukkan kepala dengan sedikit ekspresi takut.


  "Ke-kenapa?" tanya gue.


  "Kenapa? lu tanya kenapa?!!!" geramnya.


  "Lu dari mana sama Jessica?!!* tanyanya.


  "Da-dari atap." jawab gue.


  "Atap? ngapain? lu godain dia? lu mau mati, hah?!!!" teriaknya.


  "Eng-engak, gu-gue gak godain dia. Dia cuma mau—"


  Sebelum gue menyelesaikan ucapan gue, tiba-tiba saja pipi kanan gue di tampar dengan sangat keras, sampai membuat kuping gue berdengung dengan hematnya.


  "Itu balasan karna lu berani ganggu Jessica." ucapnya.


  "Gu-gue gak ganggu Jessica. Jessica yang gang—"

__ADS_1


  Sama seperti sebelumnya, gue belum sempat menyelesaikan ucapan gue. Tamparan itu sekali lagi melayang ke pipi kiri gue.


  Gue hanya bisa berpura-pura ketakutan, dan membuat tubuhnya sedikit bergetar agar mereka mengira kalau gue sedang menangis.


  "Lu jahat banget, kasian kan dia di tampar sama lu. Kenapa gak sekalian kita gebukin aja?" sambung salah satu temannya.


  Bryan sontak menarik kera baju gue dengan kuat, lalu menatap gue dengan tajam.


  "Lu harus dapat hukuman lebih." ucapnya dan sontak mengangkat tangannya yang mengepal kuat itu.


  Gue hanya bisa berpura-pura menutup mata dengan kuat. Tapi anehnya, gue sama sekali gak merasakan pukulan apapun.


  Gue pun sontak membuka sedikit mata gue, dan menatap tangan Bryan yang ternyata ada yang sedang menahan tangannya itu.


  "Berani banget lu cari masalah sama orang gue!!" ucap seseorang itu.


  *Jessica?* batin gue dengan mata yang membulat besar karna terkejut.


  "Lepas!!" sahut gadis itu.


  "Harus gitu gue lepas?" sambung Bryan sambil menyeringai.


  "Gue bilang lepas, ya lepas!!!" teriak Jessica.


  "Oke,oke." jawab Bryan dan sontak melepaskan gue.


  Jessica tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan gue, lalu menatap Bryan dengn sangat tajam.


  "Sampah!!" ucap gadis itu dan sontak menarik gue pergi.


  *Mau bawa gue kemana lagi, sih? Astaga.* batin gue.


  Selama di perjalan, semua orang menatap ke arah kami dengan bingung sekaligus terkejut. Tentu saja karna Jessica yang menarik tangan gue, gue sang kutu buku buruk rupa ini.


  *Loh?! UKS?* batin gue.


  Jessica langsung menarik gue masuk ke ruangan itu, tanpa peduli dengan tatapan orang-orang.


  "Bu!! Ibu!!" teriaknya.


  "Ini istirahat, yang jaga pasti lagi keluar lah." sambung gue.


  "Oh...yaudah, lu duduk." ucapnya memaksa gue duduk di atas kasur.


  "Mau ngapain sih? lu dari tadi cari masalah mulu." sahut gue.


  Jessica tidak memperdulikan gue, Ia malah berjalan ke arah lemari, dan sontak mengambil kotak P3K. Lalu kembali menghampiri gue.


  "Lu mau ngapain sih? jangan bilang lu mau ngobatin gue?" tanya gue sambil menatapnya yang sedang duduk di samping gue.


  "Mending lu diam aja." jawabnya yang sibuk dengan kotak P3k itu.


  Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2