Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
Gue Mulai Gila!!


__ADS_3

   JESSICA POV*


  Gue yang baru saja terbangun, sudah dibuat terkejut dengan Reyhan alias Marcel yang tertidur di samping gue.


  *Sejak kapan dia disini?* batin gue, dan sontak berusaha untuk bangun dari posisi tidur gue.


  "Hm..." dehem gue yang sedang mengamati wajah tidur Reyhan.


  "Nih orang habis oplas, atau gimana sih? heran ganteng banget!!" gumam gue.


  "Kalau dia kesekolah pakai menampilan kayak gini, gue bisa pastiin dia bakal jadi idaman para murid di sekolah. Udah pintar, ganteng lagi." ucap gue.


  "Tapi sayang...terlalu liar plus gila kalau udah berubah." lanjut gue.


  Saat lagi ngeliatin muka tuh cowok, gue malah risih sama rambutnya yang nutupin matanya. Bikin gue gak puas ngeliatin mukanya.


  "Tuh rambut boleh gue singkirin gak? ganggu banget, sumpah!!" ucap gue.


  "Sebelumnya maaf ya, gue nyentuh lu sembarangan. Gue cuma mau singkirin tuh rambut kok." gumam gue dan mulai mengulurkan tangan gue kearah rambut itu.


  Tapi tiba-tiba saja, pergelangan tangan gue di genggaman erat sama tuh cowok.


  Gue yang terkejut, sontak membulatkan mata, dan berusaha untuk tidak bergerak sedikitpun.


  Tapi mata Reyhan, tiba-tiba terbuka dan menata gue dengan tajam. Ia langsung menenggakan tubuhnya kembali.


  "Udah sehat lu?!" tanyanya.


  "Hah?!" sahut gue terkejut.


  "Lu udah sehat belum?" tanyanya sekali lagi.


  "Oh...gue gak sakit kali, ngapain lu nanya kayak gitu?" protes gue.


  "Kalau mau bohong, gak usah sama gue. Nyawa lu taruhannya." ucapnya sambil melepaskan tangan gue.


  "Siapa juga yang bohong? gue jujur kali!" sambung gue.


  "Lu? jujur? pala lu jujur!! tadi lu bang cuma menjamin mata doang, tapi kata dokter lu pingsan, bego!!" geramnya.


  "Pingsan? serius? gue kira gue cuma tidur." jawab gue.


  "Lu tuh bego atau apasih, bikin orang naik darah aja!!" geramnya.


  "Gue kenapa nyebut gue bego mulu, sih? lu kira gue suka, apa? di panggil bego kayak gitu!!" protes gue.


  "Lu memang bego, bolot!! Bego banget!!!" teriaknya.


  "Yasudah sih, lu juga bego!!!" balas gue.


  "Lu bilan apa? gue bego?!!!" geramnya.


  "Iya, kenapa? mau ngebunuh gue?"


  "Lu memang minta di bunuh!" sambungnya dan sontak mengecek tubuhnya.


  "Lah? jas gue? astaga?! masih di kamar!" ucapnya


  "Tuh kan, lu yang bego plus bolot!! jas sendidi aja lupa taro mana. Dasar gak jelas!!" ejek gue.


  "Lu memang mau—!!"


  Tok tok tok


  "Masuk." sahut gue.

__ADS_1


  "Kok lu yang nyaut? lu kira disini lu bosnya?" protesnya.


  "Ini kan kamar gue, jadi gue lah yang nyaut." jawab gue.


  *Puas gue, bisa ngejek lu!* batin gue.


  MARCEL POV*


  Jordan yang masuk kedalam kamar, sambil membawa 2 kresek yang berisikan makanan, dan juga 1 kresek yang berisikan obat.


  "Harus saya taruh dimana, Tuan?" tanyanya.


  "Disini gak ada sofa? atau kursi buat 2 orang gitu?" sambung gue.


  "Tidak ada, Tuan. Kami hanya menyiapkan kursi untuk Nona bersantai, dan juga kursi meja rias yang anda duduki sekarang." jawabnya.


  "Hah...kalau begitu bawa ke ruangan ku saja, dan rapikan makanan itu di atas meja. Kami akan segera ke sana." perintah gue.


  "Baik, Tuan." jawab Jordan sambil menunduk dan langsung pergi.


  Gue pun langsung berdiri, dan berbalik tapi Jessica sontak bertanya. "Mau kemana?"


  "Mau makan, lu ikut gue. Lu harus makan, habis itu minum obat." jawab gue setelah membalikkan tubuh gue.


  "Hm...boleh bantu gue jalan gak?" sambungnya.


  "Lah? buat apa?" tanya gue bingung.


  "I-itu, gu-gue agak pusing. Jadi, tolong bantuin gue ya." jawabnya tanpa berani menatap gue.


  "Hah...lu memang ahlinya buat gue kerepotan." ucap gue dan langsung melangkah baju, lalu menggendong gadis itu.


  "Kenapa di gendong? gue cuma minta di bantuin jalan!" protesnya.


  "Diam lu!! untung-untung gue bantuin." jawab gue.


  "Lu makan apasih? ringan banget, gila! udah kayak angin aja." tanya gue.


  "Lu ngejek gue atau muji gue, sih?!!" geramnya.


  "Kayaknya ngejek deh, tapi gue serius kali!!" jawab gue.


  "Lu memang minta di tabok, ya?!!" geramnya.


  "Lu nabok gue, gue bakal jatuhin lu kelantai." ancam gue.


  "Ih!!" rajuknya.


  Gue yang merasa menang, sontak tersenyum miring dan langsung meletakkannya di sofa.


  "Kamu boleh keluar." ucap gue ke Jordan.


  "Baik, Tuan." jawabnya lalu keluar dari ruangan gue.


  "Lu bisa makan sendiri, kan?" tanya gue.


  "Ya bisa lah, gue ini cuma pusing. Bukan skarat!" jawabnya.


  "Yaudah, buruan makan." sambung gue, dan langsung melahap makanan gue.


  "Oh iya, ini kan hari Minggu tuh. Lu tetap bakal pulang gitu?" sahutnya.


  "Yaiyalah, emang kenapa?"


  "Gue boleh tetap disini gak? gue malas pulang, nih."

__ADS_1


  "Gak!! lu harus pulang."


  "Tapi—"


  "Gak ada tapi-tapian, lu disini cuma malam doang. Selebihnya gak boleh!!" potong gue tegas.


  "Hah...iya, iya."


  ***


  Setelah kami selesai makan, gue langsung memberikannya kresek yang berisikan obat dari dokter.


  "Ini apaan?" tanyanya.


  "Obat." jawab gue singkat.


  "Obat apa?" tanyanya lagi.


  "Obat demam, sama obat penenang." jawab gue seadanya.


  "Tapi buat apa?" tayanya lagi.


  "Lu banyak nanya banget, sumpah!!" geram gue sambil menghadap kearahnya.


  "Gue kan gak tau ini obat apa, siapa tau lu ngasih gue racun." ucapnya.


  "Lu pikir gue bunuh orang pakai racun, hah?!! Pake nuduh gue ngasih racun ke lu, lagi. Memang lu gak tau terima kasih!" protes gue.


  "Yaudah, makasih." jawabnya.


  "Hah?!!" sahut gue terkejut.


  "Makasih." ucapnya sekali lagi.


  "Sudah lah, tuh diminum sesuai catatan dokter. Gak usah nanya-nanya lagi, pasti tuh dokter nyatat serinci-rincinya" sambung gue sambil mengalihkan pandangan gue.


  "Oke deh, sekali lagi makasih ya." jawabnya dan entah dia berekspresi seperti apa.


  "Yaudah sana, ganti baju lu. Habis tuh di anter pulang." ucap gue.


  "Oke." jawabnya dan langsung berdiri lalu keluar dari ruangan gue.


  "Hah..." hela nafas gue sambil bersandar di sandaran sofa.


  "Jordan!!" panggil gue.


  "Ada apa, Tuan." sahutnya.


  "Bilang kepada Dika, mulai sekarang dia punya tugas penting." ucap gue.


  "Tugas apa itu, Tuan?" tanyanya.


  "Tugas untuk mengantar dan jemput gadis itu, dan beritahu dia. Awasi gadis itu, jangan sampai Ia terluka apalagi ada yang berani menyentuhnya." jawab gue.


  "Jika ada yang berani melukainya, atau membuatnya marah. Bunuh saja!" lanjut gue.


  "Baik, Tuan. Apa ada lagi yang anda butuhkan?"


  "Tidak ada, aku akan pulang sekarang." jawab gue.


  "Baik, Tuan." balasnya lalu kluar dari ruangan gue.


  Gue pun langsung  menenggakan tubuh gue, dan sontak menghela nafas panjang.


  "Hah...bisa-bisanya gue nyuruh Dika buat jaga tuh cewek. Gue udah beneran gila, ya?" gumam gue.

__ADS_1


  "Au ah!! malas!!" teriak gue dan langsung mengambil jas dan juga ponsel gue, lalu melangkah keluar dari ruangan gue menuju basement.


  Bersambung


__ADS_2