Mafia Boy Secret

Mafia Boy Secret
MAAF...


__ADS_3

Saat melihat darah itu, gue sontak menatap Jessica yang menangis dan meringis kesakitan. Gue langsung mengeluarkan kembali milik gue dan terduduk diam sambil menatap gadis itu.


Pikiran gue di penuhi dengan rasa menyesal. Apa yang gue lakuin? gue gak bermaksud buat dia terluka, kenapa gue merusaknya? Gue benar-benar menyesal dengan perbuatan gila gue.


Gue langsung menarik Jessica ke dalam pelukan gue. Gue memeluknya dengan sangat erat dan meletakkan kepala gue di atas pundaknya.


"Cel...sa-sakit...hiks...hiks...sakit, Cel...hikshiks..." lirihnya.


"Maaf...gue minta maaf, maaf...maaf...maaf...maafin gue...maaf, Jes. Gue salah...maaf...Jes..." ucap gue yang tak henti-hentinya meminta maaf kepadanya.


Tubuh yang lemah dan kecil, tubuh yang sudah penuh dengan luka-luka. Dan sekarang gue malah menambah lukanya, rasa sakit yang seharusnya tidak gue berikan.


"Marcel...sakit...sa-sakit, perih...hiks...hiks...sa-sakit, Cel. To-tolong..." lirihnya lagi.


"Maaf, Jes...gue bener-bener minta maaf. Maafin gue...gue salah...maaf sayang...maaf... Lu boleh marah sama gue, lu jug boleh gak maafin gue. Tapi tolong...jangan menangis, hati gue sakit, Jes..." ucap gue.


Jessica tak henti-hentinya menangis, dan selalu berkata sakit. Gue gak tau harus berbuat apa, gue hanya mengulangi perkataan gue dan meminta maaf kepadanya. Entah seperti apa wajahnya sekarang, tapi suara lirihannya membuat hati gue sakit seperti teriris pisau yang sangat tajam.


Setelah beberapa menit dia menangis, akhirnya tangisannya pun berhenti. Ia tertidur di pelukan gue. Gue langsung melepaskan pelukan gue dan membaringkannya di atas ranjang lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Tidur yang nyenyak, baby~" bisik gue di telinganya lalu mengecup lembut keningnya.


Gue pun turun dari ranjang dan memakai pakaian gue kembali. Setelah selesai memakai semua pakaian gue, gue pun melangkah menuju pintu ruangan gue.


Tok tok tok


"Jordan, Buka!" ucap gue.


Pintu pun terbuka, gue langsung melangkah keluar dari ruangan gue dan menutup pintu itu kembali.


"Apa ada masalah, Tuan?" tanya Jordan.


"Aku membuat kesalahan besar." jawab gue.


"Maksud anda?" tanyanya sambil menatap gue dengan wajah bingung.


"Bukan apa-apa. Oh ya, hubungi wali kelas ku dan katakan bahwa besok aku tidak bisa hadir di sekolah. Sekalian, hubungi juga wali kelas Carmelia katakan juga kalau dia besok tidak bisa hadir karna sakit." perintah gue.


"Alasan apa yang harus saya gunakan untuk anda?" tanyanya.


"Bilang saja kalau aku juga sakit." jawab gue.


"Baik, Tuan. Akan segera saya telpon." ucapnya.


"Berikan kunci mobil ku." sahut gue.


"Untuk apa, Tuan? Apa anda ingin pergi ke suatu tempat?" tanyanya.


"Berikan saja!" perintah gue.

__ADS_1


"Ini, Tuan." jawabnya sambil memberikan kunci mobil itu ke gue.


"Tapi anda ingin pergi kemana, Tuan?" sambungnya setelah gue menerima kunci itu.


"Rumah sakit." jawab gue santai.


"Apa anda akan pergi sendiri? izinkan saya ikut dengan anda."


"Aku akan pergi sendiri saja. Kamu jaga Carmelia, jika dia menangis lagi langsung hubungi aku."


"Tapi, Tuan. Anda tidak boleh pergi sendiri."


"Tenang saja, aku bisa menjaga diri ku." ucap gue lalu berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Jordan, menuju ke basment.


Setelah sampai di basment gue langsung masuk ke dalam mobil dan mulai berkendara keluar dari markas menuju ke rumah sakit.


Selama di perjalanan gue hanya diam saja, dengan satu tangan yang bersandar di pintu mobil sambil menopang kepala gue dan tangan sebelah lagi untuk menyetir.


"Hah..." hela nafas gue.


"Gue baru tau gue sebego ini, astaga..." gumam gue.


***


Akhirnya gue sampai di rumah sakit, gue pun melangkah keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu.


Saat di dalam gue sudah di sambut dengan sapaan salah satu Dokter di tempat itu.


"Malam. Apa kamu melihat Hendra?" tanya gue.


"Tuan sedang memeriksa pasien di ruang VVIP, Tuan." jawabnya.


*Ruangan Rizky?* batin gue.


"Suruh dia untuk menemui ku di ruangan ku, sekarang!" perintah gue.


"Baik, Tuan." jawabnya sambil menunduk.


Gue pun melangkah pergi dari hadapannya menuju ke ruangan pribadi gue. Saat sampai di ruangan gue, gue langsung duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya gue di sandaran sofa sambil menghela nafas panjang.


Gue masih terbayang wajah Jessica yang meringis kesakitan dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes. Dan suara tangisannya masih terdengar jelas di telinga gue.


"Apa dia baik-baik saja sekarang?" gumam gue sambil menatap k langit-langit dinding.


Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu gue, gue langsung menyauti ketukan itu sambil menenggakan tubuh gue.


"Selamat malam, Tuan. Ada masalah apa sampai membawa anda kemari seorng diri?" sapa Hendra.


"Duduk saja dulu, ada hal yang ingin aku tanyakan." ucap gue

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawabnya, lalu melangkah ke arah sofa yang ada di samping kanan meja dan langsung duduk di sofa itu.


"Hal penting apa yang ingin anda tanyakan, Tuan?" tanyanya.


"Hm...itu, apa dirumah sakit ini ada obat itu." tanya gue ragu.


"Obat apa? apa anda sakit? biar saya periksa lebih dulu." sambungnya.


"Bukan aku, tapi Carmelia. Tadi aku sempat berhub seksual bersamanya, tapi saat aku memasukkan milikku tiba-tiba miliknya mengeluarkan darah dan dia merasa sangat kesakitan." jelas gue.


"Berdarah? apa itu pertama kalinya untuk Nona?" tanyanya.


"Iya, itu pertama kalinya." jawab gue.


*Dan itu juga pertama kalinya bagi gue.* batin gue.


"Hal itu wajar, Tuan. Saat Pertama kali berhubungan, ada beberapa wanita yang akan mengalami pendarahan karna robekan dari selaputnya. Anda tidak perlu terlalu khawatir tentang itu, saya akan memberikannya obat luar dan pakai itu secara teratur." jelasnya.


"Dan, jika anda ingin melakukannya lagi. Usahakan untuk melakukan pemanasan, agar Nona tidak terlalu merasakan sakit." lanjutnya.


"Berikan saja obatnya." sahut gue.


"Biar saya telpon apoteker saya." ucapnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku jas putihnya, lalu mulai menelpon


*Melakukan lagi? mana bisa gue kayak gitu, udah cukup ngebuat dia menderita tadi. Gue gak mau ngeliat dia menderita lagi.* batin gue.


"Sebentar lagi akan ada yang mengantar obat itu." sahut Hendra.


"Hm...oke." jawab gue.


"Oh iya, apa kamu masih mengingat keluarga Dermi?" tanya gue.


"Tentu saja, itu keluarga yang sangat dekat dengan keluarga Anggara. Tapi, ada apa dengan keluarga itu?" tanyanya balik.


"Kayaknya pertemanan itu sudah rusak haris ini." jawab gue.


"A-apa!? ba-bagaimana bisa? Bukannya Tuan Dermi dan Tuan Anggara sangat dekat? dan lagi, anda dan Nona Angel bukannya akan bertunangan?" sahutnya.


"Hah!? sejak kapan aku mau bertunangan dengan wanita itu? aku masih waras, mana mungkin aku mau menikahi wanita gila itu." protes gue.


"Tapi, saya pernah dengar bahwa Tuan Dermi sudah membicarakan mengenai pertunangan anda dengan Tuan Anggara. Tapi Tuan Anggara selalu beralasan bahwa anda masih sangat muda untuk menikah." jelasnya.


"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah dengan putri dari keluarga Dermi. Apa kamu akan membiarkan aku menikah dengan wanita yang sudah berani memukul ku?" sambung gue.


"Ma-maksud anda?" tanyanya.


Gue pun menceritakan semua yang terjadi saat di kediaman keluarga Dermi. Melihat ekspresi Hendra saat gue menjelaskan hal itu, Ia benar-benar terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang di lakukan keluarga Dermi kepada gue yang seorang pemimpin Mafia sekaligus Putra Angkat dari keluarga Anggara.


Bersambung

__ADS_1


Bab 66 masih nyangkut gaes :')


Mohon bersabar 🙏 karna bab 66 di tolak karn terlalu vulgar, jadi di perbaiki dulu dan sekarang masih masa review :')


__ADS_2