
"Gue serius, anjir!! kok lu malah ngatain basa, sih!!?" protes gue.
"Bodo! semua cowok sama aja." ucapnya lalu mengalihkan tatapannya keluar mobil.
"Gue gak sama kayak para buaya di luar sana! Gue ini serius, tau!!" geram gue.
"Serah lu dah, capek gue." jawabnya yang tambah membuat gue kesal.
Gue hanya bisa menarik nafas panjang, lalu menghela nafas agar emosi yang siap meledak ini sedikit mereda.
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti tepat di depan pintu masuk hotel. Saat gue keluar dari mobil, sudah ada Jordan yang berjalan kearah gue.
"Apa kamarnya sudah siap?" tanya gue.
"Sudah, Tuan. Mari saya antar." jawabnya.
Gue langsung melangkah lebih dulu, dan diikut Jordan di sebelah kanan gue, sedangkan Jessica Ia berjalan tidak jauh di belakang gue bersama para bawahan lainnya.
Saat di dalam hotel itu, semua orang memberikan gue jalan dan menunduk di hadapan gue. Mungkin mereka berpikir kalau gue bakal membunuh seseorang lagi, padahal gue ke hotel hanya ingin beristirahat saja.
"Oh ya, apa kedua kamar yang pesan saling berdekatan?" sahut gue.
"Iya, Tuan. Kamar anda dan Nona saling berhadapan, kamar anda ada di sebelah kanan dan kamar Nona ada di sebelah kiri. Apa saya harus mengganti kamar yang saling bersampingan?" jelasnya.
"Tidak perlu, itu sudah cukup." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
Akhirnya Gue sampai di depan kamar yang telah di pesan oleh Jordan. Jordan langsung memberikan kartu yang berfungsi sebagai kunci kamar ke gue dan Jessica.
"Oh ya...kalian boleh bergantian dalam berjaga, kalian juga boleh memesan kamar untuk beristirahat. Tapi, pastikan di depan kamar ku dan kamar Nona kalian tidak ada yang menerobos masuk atau ada yang lewat di depan kamar ini!!" tegas gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka.
"dan lu...diam di kamar! Awas aja sampai gue denger lu keluar kamar tanpa sepengetahuan gue, gue bisa pastiin lu bakal dapat hukuman kali ini!" ancam gue.
"Terserah." jawabnya dan sontak berbalik lalu masuk ke kamarnya.
"Cih! Dasar!" kesal gue sambil menatap ke arah kamar gadis itu, lalu berbalik dan masuk ke kamar gue sendiri.
Saat di kamar, gue langsung berjalan menuju sofa sambil melepas jas gue dengan perlahan, lalu duduk di sofa.
Jujur saja, mulai tadi gue menahan rasa sakit di lengan kanan gue. Lengan gue yang terlalu karna kebodohan Pria yang berniat untuk menusuk gue dari belakang, malah berubah menjadi goresan yang cukup dalam.
"Gini nih, mau jadi pembunuh tapi gobloknya sampai ke tulang-tulang." gerutu gue sambil melepas kemeja gue.
"Jordan!!!" teriak gue.
"Lah? ngapain gue teriak? mana mungkin dia denger." gumam gue lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Gue langsung membuka pintu itu, lalu memanggil Jordan.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?" sahutnya.
"Dimana dokter itu? apa dia belum datang juga?" tanya gue.
"Sudah, Tuan. Sekarang dia sedang memeriksa Nona di kamarnya." jawabnya.
"Hah...baiklah." ucap gue.
"Apa luka anda tidak di obati, Tuan? darahnya tidak berhenti menetes, Tuan." sambungnya sambil menatap kelengan gue.
Gue yang mendengar itu, sontak menengok kebawah dan menatap luka gue yang tertutup dengan kain saja.
"Suruh saja dokter itu untuk masuk ke kamar ku setelah selesai mengobati Carmelia." ucap gue.
"Apa anda membutuhkan pakaian baru, Tuan?" tawarnya.
"Ya... ambilkan juga pakaian untuk gadis itu, dan suruh dia untuk mengganti pakaian sekarang." perintah gue.
"Baik, Tuan. Apa ada yang anda butuhkan lagi?" tanyanya.
"Alkohol, aku ingin minum whiskey." jawab gue.
"Baik, Tuan." balasnya sambil menunduk.
Gue pun menutup pintu gue kembali, lalu melangkah kembali ke sofa. Saat di sofa gue hanya menyandarkan punggung gue di sandaran sofa, lalu memejamkan mata gue sambil menunggu Jordan atau Dokter itu datang.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu gue.
"Masuk!" sahut gue tanpa membuka mata gue, dan tetap dengan posisi yang sama.
"L-lu?" sahut gue, lalu menenggak tubuh gue.
Jessica yang tadinya menatap ke arah wajah gue, tiba-tiba beralih menatap ke lengan kanan gue yang terluka. Gue dengan buru-buru langsung menyembunyikan tangan gue di belakang punggung.
"Lu ngapain kesini?" tanya gue.
"Tangan lu kenapa?" tanya balik.
"Hah! tangan gue kenapa? baik-baik aja tuh, utuh plus sehat." jawab gue cepat.
Tiba-tiba saja Jessica melangkah mendekati gue. Begonya gue, gue malah berdiri dan melangkah mundur untuk menjauh dari gadis itu.
"Lu ngapain, sih!? gue sibuk, buruan keluar!" ucap gue.
"Lu yang ngapaian, ngapain lu berdiri? buruan duduk!" balasnya.
"Suka-suka gue lah! sana keluar! lu punya kamar sendiri, buru!!" geram gue.
Tapi tiba-tiba saja, Jessica menarik tangan kiri gue sampai gue terduduk di sofa bersamanya.
"Shit!!" sahut gue.
__ADS_1
"Mau lu apa, sih!!?" geram gue sambil menatapnya tajam.
"tangan lu." jawabnya.
"Ini tangan gue, bego! Yang lu tarik tadi bukan tangan gitu?" protes gue.
"Yang kanan." sambungnya.
"Kanan sama kiri apa bedanya? sama-sama tangan, ada di satu badan yang sama lagi." elak gue.
Tiba-tiba saja Jessica menarik tangan kanan gue dengan kasar, dan membuat gue sontak meringis karna sakit.
Jessica menatap luka gue dengan serius, gue mencoba untuk menarik tangan gue kembali, tapi gadis itu menahannya dengan kuat dan malah menatap gue dengan sangat tajam.
"Apa sakit?" tanyanya.
"Hah!?" sahut gue terkejut sekaligus bingung.
"Sakit enggak?" tanyanya lagi.
"Gak! malah gak ada rasanya." jawab gue, tapi Jessica tiba-tiba memukul luka gue dengan keras.
"AAAKKHH!!" teriak gue.
"Kenapa lu pukul, bego!!?" geram gue.
"Gue cuma mastiin aja, ternyata sakit, ya?" ucapnya dengan sangat santai.
Karna kesal, gue langasung menarik tangan gue dengan keras, lalu sedikit menjauh dari gadis itu.
"Gimana keadaan lu? apa kata Dokter?" tanya gue.
"Gue baik-baik aja, cuma perlu di kasih salep doang." jawabnya.
"Yaudah, kembali kekamar lu sana. Gue mau istirahat." usir gue.
"Kasih tau gue, lengan kanan lu kenapa? kenapa sampai di tutup kain? setelah itu gue keluar dari kamar lu." tawarnya.
"Ogah!! ini masalah gue, bukan masalah lu!" tolak gue.
"Permisi, Tuan." sahut Jordan yang membuat gue dan Jessica sontak menoleh.
*Akhirnya, penyelamat gue datang juga.* batin gue.
Jordan yang datang bersama Dokter Pribadi gue, mereka pun langsung melangkah kearah gue.
"Dari mana saja kamu?" tanya gue ke Dokter itu.
"Maaf, Tuan. Saya habis menerima telpon dari rumah sakit." jawabnya.
"Oh...Jordan, kemarilah." panggil gue.
__ADS_1
Jordan langsung meletakkan nampan makanan yang berisi 3 botol whiskey dan juga 1 gelas alkohol, lalu melangkah mendekati gue.
Bersambung