
Sudah seminggu berlalu, gue sudah mulai terbiasa dengan pertemuan gue dengan Jessica, dan juga rasa lelah yang setiap malam gue dapatkan karna Jessica.
Saat di sekolah, kami sering mengobrol di atap sekolah. Itu di mulai, saat gue yang mulai khawatir dengan trauma Jessica, karna Ia yang selalu ingin ikut saat sedang dalam misi.
Akhirnya gue memutuskan untuk selalu mengingatkan dia untuk meminum obat setelah makan siang, dan juga mengajaknya mengobrol agar Ia bisa sedikit merasa tenang.
dan anehnya, gue cukup merasa nyaman saat sedang mengobrol dengannya. Walaupun terkadang, dia cukup menyebalkan di saat-saat tertentu.
Bukan hanya itu, ada hal baru juga yang gue ajarkan ke Jessica. Gue mengajarkannya cara menembak, walaupun hanya menggunakan senjata biasa saja, Ia bisa di bilang cukup ahli untuk di sebut seorang pemula.
Sampai-sampai, para bawahan gue takjub dengan kemampuannya. Padahal, gue yang sudah belajar menempak pas umur 9 tahun aja, biasa aja tuh.
Tapi, karna kerja kerasnya, gue berniat untuk memberikan Jessica hadia kecil malam ini. Hadia itu tentu saja bulan cincin, ataupun gaun untuk para wanita. Melainkan pistol yang memang di desain untuknya dan cukup berbeda dengan pistol-pistol lainnya.
Setelah gue selesai bersiap, gue pun langsung keluar dari kamar gue lewat pintu rahasia itu.
"Selamat malam, Tuan." sapa Jordan sambil menunduk.
"Malam." balas gue setelah menutup pintu rahasia itu.
Gue pun langsung melangkah menuju mobil, dan diikuti oleh Jordan. Setelah Jordan membukakan pintu, gue langsung masuk kedalam mobil dengan santai.
Ada hal yang selama ini gak pernah gue lakukan. Gue kalau naik mobil gak pernah sekalipun pakai sabuk pengaman. Entah kenapa, rasanya aneh aja. Makanya gue selalu duduk dengan posisi sesantai-santainya tanpa memperdulikan sabuk pengaman.
Setelah Jordan didalam mobil, supir itu pun langsung menginjak gas dan pergi menuju markas.
"Oh ya, apa kamu membawa senjata itu, Jordan?" sahut Gue.
"Tentu saja, Tuan." jawabnya lalu memberikan gue kotak yang berisikan Senjata itu.
"Apa senjata ini sudah sesuai dengan yang ku perintah kan?" tanya gue sambil memangku kotak itu, dan membukanya secara perlahan.
"Tentu saja, Tuan. Disitu sudah tertulis nama Carmelia dengan di bagian pegangan senjata itu sudah tertulis huruf 'J' yang anda minta, dan juga senjata itu juga di rancang khusus hampir sama seperti senjata anda." jelas Jordan.
Di saat Jordan menjelaskan tadi, gue sambil memeriksa senjata itu dengan teliti.
"Tapi, dimana pelurunya?" tanya gue sambil meletakkan kembali senjata itu, lalu menutup kotaknya kembali, dan gue letakkan di samping gue.
"Pelurunya ada di gudang senjata, Tuan. Bukannya peluru, atau perlengkapan senjata lainnya harus di ambil di gudang senjata, Tuan? Karna di gudang bukan hanya senjata dari negri ini, tapi dari seluruh dunia." jelas Jordan.
__ADS_1
"Ya...aku ingat." sambung gue.
"Oh ya, bagaimana kondisi mobil ku di markas?" tanya gue.
"Mobil anda sangat aman, dan juga selalu terjaga bersih tanpa debu sedikitpun. Tapi, Tuan. Kapan anda akan memakainya lagi? Anda hanya pernah memakainya sekali saja."
"Tidak tau, aku sangat malas berkendara."
"Bagaimana kalau anda pakai, saat sedang bersama Nona Carmelia?" sambung supir itu.
"Wah...kamu memang selalu mencari mati, ya?" ancam gue.
"Maafkan saya, Tuan." jawabnya.
"Benar katanya, Tuan. Lebih baik anda menggunakannya saat sedang kencan bersama Nona, atau untuk bersenang-senang saja. Saya takut Nona merasa bosan, karna selalu di markas." ucap Jordan.
"Kalian berdua memang ingin mati, ya?!!" kesal gue.
"Kemarikan senjataku!!" perintah gue.
Jordan pun langsung memberikan senjata gue, ke gue. Gue pun langsung memainkan senjata gue, seperti biasanya.
"Baik, Tuan." jawab mereka berdua.
Tak lama kemudian, akhirnya kami pun sampai di basment. Setelah pintu mobil gue di buka oleh Jordan, gue pun langsung melangkah keluar.
"Ambil kotak senjata itu!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawabnya dan langsung mengambil kotak senjata itu, lalu gue pu melangkah masuk ke dalam markas diikut oleh Jordan di belakang gue.
"Selamat malam, Tuan." sapa para bawahan gue saat melihat gue datang.
"Malam." balas gue.
Dari barisan para bawahan gue, gue malah di buat salah fokus dengan Jessic yang ternyata ada di antara barisan itu.
*Ngapin dia ikut baris? mau ngelawak atau gimana sih?* batin gue.
Gue pun sontak menghampirinya, dan berdiri tepat di depan gadis itu.
__ADS_1
"Ngapain lu ikut baris?" tanya gue.
"Hah? gak tau nih, habisnya lu tiba-tiba datang, jadinya gue refleks ikut baris." jawabnya.
"Pft!!" tawa kecil gue saat mendengar jawabannya.
"Sudah lah, gue punya hadia buat lu. Kasih hadis itu, Jordan!" ucap gue.
Jordan pun langsung melangkah maju, dan memberika kotak itu ke Jessica.
"Apa ini?" tanyanya dengan ekspresi bingung andalannya.
"Buka aja." jawab gue sambil menyeringai.
Gadis itu pun langsung membuka kotak itu perlahan, dan gue bisa melihat jelas ekspresi terkejutnya saat melihat senjata itu.
"Gak usah kaget kayak gitu, gue tau itu senjata bagus, kan?" ucap gue.
Tapi tiba-tiba saja, Jessica menutup kotaknya kembali dan menyodorkan kotak itu kembali ke gue.
"Loh?" sahut gue terkejut.
"Gue memang udah belajar menembak, tapi gue belum siap pakai pistol ini buat bunuh orang. Jadi lu ambil aja kembali." sambungnya.
"Tapi, Nona. Senjata ini sudah di buat khusus untuk No—"
Sebelum Jordan menyelesaikan ucapannya, gue langung mengangkat tangan gue sebagai tands untuk berhenti berbicara.
"Oke, gue ambil kembali." jawab gue sambil menerima kotak itu kembali, lalu memberikannya kepada Jordan.
"Tapi, ini masih punya ku. Kapan pun lu siap, lu tinggal bilang sama Jordan. Dia bakal langsung ngasih senjata ini ke lu." lanjut gue dengan tangan yang ada di atas kotak itu.
"Makasih atas pengertiannya." balasnya.
Tanpa menjawabnya lagi, gue langsung melangkah menuju ruangan gue sendiri, tanpa di ikuti oleh Jordan.
Sebenarnya, gue sedikit merasa kecewa karna Jessica yang tidak menerima hadia gua. Tapi, untung saja gue mengingat trauma yang masih ada di dalam dirinya.
Setelah sampai di kamar, gue langsung berjalan menuju ranjang, dan sontak membaringkan tubuh gue di atas ranjang.
__ADS_1
Bersambung