
Setelah sampai di markas, semua bawahan langsung menyapa gue sambil menundukkan kepala mereka.
Dari barisan para bawahan gue, ada satu orang yang menarik perhatian gue. dan ternyata dia adalah Jessica yang berdiri tepat di samping Dika dengan pakaian yang juga serba hitam.
Gue langsung menghampirinya dengan senyum miring gue. Saat di depannya, gue sontak mengangkat dagunya dengan pistol yang ada di tangan gue.
"Siapa yang ngasih lu baju ini?" tanya gue.
"Gue pakai dari rumah, kenapa?" tanyanya balik.
"Lepas!! jangan pernah memakai baju sembarangan, kecuali gue yang memilihnya." sambung gue.
"Tapi, disini gak ada baju cewek, kan? Masa gue pakai baju cowok?" protesnya.
"Jordan!!" panggil gue setelah menurunkan pistol gue.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya.
"Siapkan mobil, dan juga Black card ku." jawab gue.
"Kita akan kemana, Tuan." sambungnya.
"Kita akan ke mall, untuk membelikan pakaian gadis ini." ucap gue.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Lu! Ikut gue!!" sahut gue, dan sontak menarik Jessica menuju basement, lebih tepatnya ke mobil gue.
Saat sampai di mobil, Jessica sontak menepis tangan gue, dan menatap gue dengan sangat tajam.
"Kita mau kemana sih? Katanya gue gak boleh ketahuan kalau berhubungan sama mafia. Kenapa malah ke mall, coba?" ocehnya.
"Bacot, lu!! Buruan masuk!!" perintah gue, dan langsung mendorong Jessica masuk kedalam mobil, lalu gue juga ikut masuk ke dalam mobil.
"Ini masker dan juga topinya, Tuan." sahut Jordan sambil memberikan gue masker dan topi hitam.
Gue pun langsung mengambil masker dan topi itu, lalu memberikannya ke Jessica.
"Buat apa?" tanyanya.
"Pakai, biar identitas lu gak ketahuan." jawab gue.
"Lu pikir pakai kayak gini, orang bisa gak kenal gue apa? dari belakang aja, mereka udah tau kalau ini gue." ocehnya.
"Hm...yasudah, mulai hari ini. Rambut lu harus di ikut satu, dan lu harus pakai topi!!" sambung gue.
"Enak banget lu ngomong! Lu tau gak? Nih rambut butuh berjam-jam gue tatas kayak gini, dan lu? malah seenaknya nyuruh gue ikut rambut terus pakai topi, lagi. Lu pikir gue mau gitu?!!" protesya.
"Mau gak mau, suka gak suka. Lu harus turutin berkataan gue, kalau gak...lu tau kan apa yang bakal gue lakuin?" ancam gue.
"Ih!! dasar! sini.." sahutnya dan sontak merampas masker dan topi itu dari tangan gue.
"Lu ada ikut rambut gak? gue gak punya." tanyanya.
"Gak punya, lah! Lu pikir gue cewek apa?!" protes gue.
__ADS_1
"Terus gue ikat rambut gimana, bego?!!"
"Jordan, kamu punya gelas karet? atau apapun itu yang bisa di pakai untuk ikat rambut." tanya gue ke Jordan.
"Tidak ada, Tuan." jawabnya.
"Maaf menyelah, saya punya satu ikar rambut, Tuan." sahut sang supir.
"Bukannya kamu cowok? kenapa bisa punya ikat rambut?" tanya gue bingung.
"Saya punya seorang pacar, Tuan. Dia selalu lupa untuk membawa ikat rambut saat kami sedang bersama, jadi saya berinisiatif untuk membawakan ikat rambut lebih di tangan saya." jelasnya.
"Wah...anda benar-benar pria baik." sambung Jessica.
"Terima kasih." jawab supir itu.
"Cepat berikan ikat rambut itu!" sahut gue.
"Ini, Tuan." ucapnya sambil memberikan ikat rambut itu ke gue.
"Nih...ambil, lu ngeluh lagi. Gue lempar keluar lu!!" ancam gue sambil memberikan ikat rambut itu ke Jessica.
"Iya, iya." jawabnya sambil menerima ikat rambut itu dan mulai mengikat rambutnya, lalu Ia pakai masker dan juga topi itu.
"Jalan!!" perintah gue, dan mobil pun mulai berjalan menuju salah satu mall terbesar di negri ini.
Selama di perjalana kami hanya diam saja, tidak ada satu pun topik yang kami bahas, sampai kami tiba di mall itu.
Setelah mobil di parkiran, Jordan langsung turun dari mobil lebih dulu, dan membukakan gue pintu. Gue yang keluar dari mobil dengan bantuan Jordan, sedangkan Jessica Ia keluar dari mobil dengan bantuan tangannya sendiri.
Jadi mereka, tidak melarang kami masuk, walaupun gue dan Jordan yang membawa senjata. Mereka malah menunduk saat gue lewat di hadapan mereka.
"Gue suka suasana seperti ini." gumam gue sambil menyeringai.
"Lu gila ya? giliran di sekolah, lu malah gak suka jadi pusat perhatian. Sekarang malah sok jadi pengusaha, dasar pemimpin mafia gak jelas!" bisik Jessica.
Gue yang mendengar itu, sontak menengok ke arahnya dengan mata yang membulat besar.
"Lu bilang apa, tadi?" tanya gue.
"Gue bilang apa? gue gak bilang apa-apa tuh, kuping lu gak sehat ya?" jawabnya.
"Oh...mulai ngelawan ya lu? Awas aja nanti, habis lu." ancam gue.
"Silahkan masuk, Tuan." sahut Jordan.
Gue pun melangkah masuk ke dalam tempat pakaian branded di jual. Tentu saja Jessica juga ikut bersama gue, begitupun Jordan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya salah satu karyawan.
Jordan yang mendengar itu, Ia langsung menunjukkan Black card gue, dan juga kartu tanda VVIP yang diberikan oleh pemilik dari mall ini.
"Maaf, karna tidak mengenali anda, Tuan Marcel." ucap wanita itu sambil menunduk.
"Mari saya antar keruang, VIP." lanjutnya.
__ADS_1
Kami pun mengikuti gadis itu. Tapi Jessica malah tiba-tina berbisik sesuatu ke gue.
"Kenapa nama lu jadi Marcel, sih? Lu kan Reyhan?" bisiknya.
"Bukan urusan, lu!!" geram gue.
"Kok lu marah sih? gue kan nanya baik-baik." protesnya.
"Mending lu diam, dari pada mulut lu gue robek!!" ancam gue.
"Hah...dasar! Tukang ancam orang." gumamnya.
"Terserah lu!" balas gue.
"Silahkan duduk, Tuan." ucap sang karyawan.
Gue pun duduk di sofa yang telah ditunjuk oleh karyawan itu, tapi saat Jessica ingin duduk. Jordan sontak melarangnya.
"Jangan duduk!!" sahut Jordan.
"Kenapa?" tanya gadis itu bingung.
"Karna ini khusus gue, dan lu... berdiri aja." jawab gue sambil menyeringai ke gadis itu.
"Bawa kesini, semua pakaian yang berwarna hitam. Semuanya, tanpa terkecuali!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab karyawan itu, lalu pergi.
"Apa anda membutuhkan sesuatu, Tuan?" tanya Jordan.
"Tidak ada." jawab gue santai.
"Saya butuh minum, haus banget nih." sahut Jessica.
Gue yang mendengar itu, hanya diam sambil tersenyum miring. Karna Jordan tidak akan pernah mendengarkan Jessica, kecuali itu perintah dari gue.
"Kenapa gak bergerak? saya butuh minum." ucapnya.
Gue sontak menatap gadis itu, dan berkata. "Mau berapa kalipun lu nyuruh dia, dia gak bakal gerak sedikitpun."
"Maksud lu, gue di abaikan gitu?" tanyanya.
"Tuh tau, pakai nanya lagi, cih..." jawab gue.
Para karyawan itu pun datang dengan semua pakaian serba hitam yang gue minta.
"Biarkan gadis itu mencoba semuanya, dan bantu dia!!" perintah gue.
"Baik, Tuan." jawab mereka, dan sontak menarik Jessica ke ruang ganti.
Gadis itu pun mencoba semua pakaian yang dibawakan oleh para karyawan, tanpa terkecuali.
Yang menurut gue bagus dan cocok untuk Ia pakai saat berdiri di samping gue. Semuanya gue beli, dan Jordan lah yang mengurus pembayarannya dengan menggunakan black card gue.
Bersambung
__ADS_1